Pagi keesokan harinya, Nadir bangun pagi seperti biasa namun Mahesa bangun lebih pagi lagi. Tumis kangkung dan sawi sudah ada di meja menunggu Nadir namun putranya sudah pergi ke ladang. Kamera yang Nadir kemarin bawakan pun masih tergeletak di meja sudut ruang tengah, keberadaannya seperti mengolok Nadir yang sudah datang jauh-jauh namun hampir tidak mengubah apa-apa tentang hubungannya dengan putranya.
Namun Nadir tidak lagi muda. Di usianya yang sudah lima puluh tahun, ia masih bisa bertingkah biasa. Ia makan tumis sayur yang rasanya cukup asin sambil bertanya-tanya dari mana Mahesa mendapatkan tumisan ini, lalu membuat kopi sendiri, dan terduduk di teras sendiri pula. Mobilnya masih menunggu di pekarangan depan. Ponselnya pun sudah berdering semenjak ia bangun, namun ia sama sekali belum terpikir untuk pulang.
Ia tidak mau lari lagi. Kalau bisa, ia sangat ingin menyelesaikan masalahnya dengan Mahesa secepatnya. Mereka sudah tidak bicara selama sebulan. Jika mereka menunggu lagi, bisa-bisa sebulan menjadi sepuluh tahun dan melahirkan lebih banyak penyesalan. Namun Nadir tidak tahu bagaimana caranya untuk bicara dengan putranya dan dia sendiri meragukan kemampuannya untuk bicara dari hati ke hati bersama putranya.
Rasa pahit kopi yang ia seduh sendiri mengusir rasa kantuk dari semalaman berpikir.
“Permisi...”
Mata Nadir melirik dan mendapati Kartini berdiri di depan teras dengan sekantung plastik berisi bumbu-bumbu masak. Dari sorot matanya, dia penasaran mengapa Nadir duduk sendirian, namun ia sama sekali tidak bertanya. “Om, ini. Hesa kemarin pagi pesen bumbu masak. Saya nitip ya."
“Bumbu?” Nadir menaikkan alisnya. “Mahesa... masak sendiri di sini?” akhirnya Nadir mengerti mengapa tumis sayur tadi pagi rasanya asin. Ternyata itu hasil karya putranya dan bukan pemberian tetangga.
Kartini mengangguk menjawab pertanyaan Nadir. “Kadang dia beli makanan. Tapi belakangan dia bilang mau belajar masak sendiri.”
Nadir memeriksa isi dari kantung plastik yang dibawa Kartini. Gelagatnya melamun. “Sebelum ini dia makan dari mana?”
“Kadang beli, ada rumah makan sekitar tiga kilometer dari sini. Kadang juga, saya...” Wajah Kartini merona. “Ka-kalau ada lebih, kami bagi-bagi.”
“Rumah ini cukup bersih, siapa yang bersihin?”
“Mahesa, om.”
“Oh... Dia sendiri?” Tanya Nadir lagi.
Kartini menggeleng. “Ada kawan-kawan yang bantuin.”
“Siapa?”
Kali ini, Kartini tidak menjawab, melainkan bertanya balik. “Om, kenapa gak tanya Mahesa aja?”
Nadir terdiam.
Kartini merasa mungkin pertanyaan terdengar kurang elok. “Saya gak ada maksud agresif, om. Cuma bingung aja. Kenapa gak tanya Hesa aja? Dia yang paling tau.”
“Kami belum sempet ngobrol,” balas Nadir kaku.
Kartini tersenyum. “Om coba tanya Hesa aja, dia yang lebih paham apa kesulitan dia di sini kalau memang ada. Kalau saya cuma tau apa yang saya liat aja di rumah. Kalau di ladang, misalnya, saya gak tau.”
Nadir menggeleng. “Dia terlalu mandiri dan gak pernah komplain.”
Kartini mengangguk setuju. “Tapi dia pasti seneng kalau denger om khawatir dengan keadaannya.”
Nadir kembali terdiam.
Kartini melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. “Om, Hesa itu orangnya baik, lho.” Ia tersenyum.
Nadir terkesiap dan ketegangan di wajahnya pun luntur. Ia ikut mengangguk. “Iya. Dia anak yang baik,” ucapnya bangga.
***
Nadir datang ke ladang di tengah matahari siang yang menyengat, membuat Mahesa, yang berpikir ayahnya akan pulang ke kota setelah fajar menyingsing, kaget. Sang pemuda buru-buru menghampiri ayahnya yang sedang memandangi kondisi ladang dengan sungguh-sungguh.
“Ayah? Ngapain kesini?” Bingung, Mahesa menatap ayahnya untuk jawaban.
Nadir menghadap putranya. “Ayah mau liat hasil kerja kamu. Bagus sekali,” pujinya.
Mahesa tertegun. Ia jarang sekali dipuji ayahnya. Terakhir kali ia mendapat pujian dari ayahnya adalah ketika ia masih duduk di sekolah dasar. Sesudahnya, Nadir menganggap Mahesa sudah cukup dewasa dan tidak perlu pujian lagi, padahal yang paling Mahesa nantikan tiap akhir semester hanya ada dua, yaitu liburan ke desa dan pujian bangga ayahnya.
“Hesa cuma bantuin Mbah Samiun, kok...” ucap sang pemuda, mencoba menutupi fakta dirinya tersipu mendengar pujian ayahnya yang tulus.
“Mbah Samiun udah tua, gak mungkin dia ngurus seluruh ladang sendiri. Atau kamu biarin Mbah Samiun kerja sendiri?”
Mahesa menggeleng. “Enggak mungkin lah,” ucapnya.