Nadir bermalam di desa lagi, tapi di malam kedua ini, rumah orang tuanya tidak lagi sunyi dan senyap seperti malam sebelumnya.
Nadir dan Mahesa bicara panjang lebar setelah mentari tenggelam di ufuk barat. Sebagian besar tentang masa lalu, kenangan tentang Nenek Risma dan Kakek Yono. Mahesa memberinya sepucuk surat dengan senyuman sedih.
“Aku nemu kotak peninggalan nenek yang dijaga kakek. Isinya ada foto-foto tua sama amplop surat untuk Hesa. Tapi isinya ada dua lembar, dan lembar kedua bukan untuk Hesa.”
Nadir masuk ke kamar untuk membaca surat itu. Walaupun hubungannya dengan Mahesa tidak lagi renggang, Nadir masih belum siap menangis tersedu-sedu di hadapan putra semata wayangnya.
-Untuk Nadir,
Nak, kalau kamu baca ini berarti ibu sudah tiada. Ibu udah pesen ke ayahmu untuk jangan kirim surat ini, biar Mahesa yang menerima dan biar Mahesa yang menentukan kapan dikasih ke kamu.
Ibu udah pesen ke Mahesa untuk jagain kamu dan ayahmu. Kamu dan ayahmu sama-sama keras kepala, diantara kalian bertiga, yang sifatnya agak lembut cuma Mahesa.
Kamu jangan terlalu keras dengan Mahesa. Antara kamu dan Mahesa gak ada yang menengahi seperti ibu ketika kamu dan ayahmu bertengkar. Turunkan egomu, Mahesa anak yang baik, kalau kamu merendah, kamu bisa setara dengan dia.
Jangan sedihkan ibu meninggal. Namanya sudah takdir yang maha kuasa. Jangan ada banyak penyesalan juga. Rukun-rukun satu keluarga. Jaga ayahmu dan Mahesa juga. Pokoknya kalian semua harus saling jaga.
Ibu sayang kamu.
Surat yang singkat namun dengan sentuhan keibuan yang kuat. Nadir, yang sudah sepuluh tahun tidak merasakan sentuhan ini, tidak kuat menahan tangisnya. Sekeras apapun sifat Nadir, ketika kehilangan ibunya, dia tidak jauh berbeda dari anak yang tersesat.
Malam itu, Nadir tidur dengan surat ibunya di dekapan.
Ketika fajar menyingsing, Nadir harus segera kembali ke kota. Ia memiliki banyak tanggung jawab, jadi ia tidak bisa pergi lama. Tatapannya pada Mahesa menjadi tidak rela. Surat dari ibunya memintanya untuk menjaga Mahesa. Bagaimana dia bisa menjaga Mahesa jika ia jauh di kota dan Mahesa di desa?
“Hesa, kita kan udah baikan. Mau pulang sama ayah?” Ucap Nadir, setengah memohon.
Mahesa terdiam lalu tersenyum melankolis. “Maaf, ya, ayah. Gak bisa.”
Dada Nadir terasa sesak. “Kenapa enggak? Kamu masih marah?”
Mahesa menggeleng. “Hesa udah gak marah lagi, kok. Kan Hesa udah bilang sebelumnya? Hidup di dunia ini singkat, dan Hesa juga sayang sama ayah. Hesa gak mau buang-buang waktu singkat di dunia ini marah dengan ayah.”