Kecubung

Ravistara
Chapter #1

Buku Jatuh

Rak demi rak berbaris dengan rapi bagai struktur yang berdiri dalam kegelapan. Lampu perpustakaan telah lama dipadamkan. Sementara itu, cahaya redup dari bulan di luar jendela yang memantul pada sampul buku, menjadi satu-satunya penerangan. Langkahnya tersembunyi dari pandangan, hingga gadis itu tampak melayang menyusuri koridor sunyi di antara deret kursi. Gerakannya yang meyakinkan, seolah telah hafal setiap jengkal dan sudut ruangan. 

Saat mendekati rak paling gelap yang terimpit oleh bayangan tinggi, langkahnya memelan. Dia memanggil setengah berbisik. 

“Tuan Serigala?”

Hus,” tegur suara tanpa sosok dari balik barisan buku. Gadis itu maju selangkah untuk mengintip, lantas senyumnya merekah. Dia menemukan siluet seorang pria sedang bersandar membelakangi dinding.  

“Kenapa nggak kasih tanda? Auuu.” 

“Jika sudah datang dari tadi, jangan bermain petak umpet seperti anak kecil!” Wajah pria itu benderang oleh radiasi layar gawai yang diaktifkan. Tatapannya berkilat dinaungi oleh alis tebal yang bertaut di pangkal hidung.   

Dia mendesah lega. “Bapak ngomong apa? Saya barusan tiba–” Gadis itu memekik karena tubuhnya tiba-tiba tertarik, lalu dipojokkan ke dinding. 

“Selesaikan urusan kita,” ujar si pria tidak sabar. 

“Bapak punya kunci jawabannya?”

“Segitu enggannya kamu kena remedial. Semua materi ujian ada  dalam buku, loh.”

“Papi mami saya enggak peduli. Sesibuk apa pun, saya nggak boleh turun peringkat agar rekening saya nggak kena blokir. Memangnya, Bapak siap menanggung hidup saya?”

“Dasar, anak zaman sekarang. Maunya serba instan. Saya nggak punya waktu berdebat sama kamu, Jen.”

“Satu menit per kunci soal?” bujuknya seraya menadahkan tangan, lantas disambut putaran bola mata oleh pria di hadapannya.

“Pelit sekali.”

“Itu lebih dari cukup untuk satu sesi pelajaran ekstra atau mau dihitung dalam digit?”

Si pria pun berdecak lantaran tidak punya pilihan, lantas menghela pendek. “Oke. Kamu sudah kunci pintu?”

Si gadis tersenyum seraya mengacungkan tiga jari setelah kesepakatan mereka tercapai. Tanpa membuang waktu, pria itu menarik tubuhnya dengan bersemangat, hingga sikunya tidak sengaja menyikut rak di samping. Belum sempat si pria mengeluh, terdengar bunyi berdebum serta gemeresik yang aneh dari rak sebelah. 

Keduanya terdiam sejenak. “Apa itu?” 

Lihat selengkapnya