Kecubung

Ravistara
Chapter #2

Kurcaci dan Raksasa

“Ada alasan kenapa Mr. I dipanggil ‘tuan serigala’?”

“Aku nggak tahu, Nu. Kenapa nggak tanya langsung ke Jenny K.?”

“Kamu penulis, bukan jurnalis, Sierra!”

“Kalau aku ganti aja panggilannya, gimana?”

“Konsisten, dong. Karaktermu itu bukan benda cair. Dia harus solid dari awal sampai akhir!”

Sindiran Dantanu mengocok asam lambung Sierra. Obrolan mereka bukan topik biasa, baunya sungguh tak sedap, ditambah gaya bicara Dantanu yang berapi-api seolah ingin membakar segalanya. Meskipun gerah dan tersiksa, Sierra tidak punya kesempatan untuk bersembunyi ataupun lari. Dunianya terkurung rapat dalam kamar delapan meter persegi dengan kipas angin yang sedang berputar di atas kepala. 

“Mungkin, karena Mr. I senang mengendap-endap dan aktif di malam hari? Atau, badannya berbulu?” ujar Sierra tidak yakin hingga rahang Dantanu mengencang. Sierra menyesal dan ingin menelan kembali kata-katanya. 

“Mungkin? Kamu pikir, bikin karakter sama dengan tebak-tebakan? Sedikit saja ada keraguan, karaktermu bakal jadi lelucon. Lagi-lagi, kamu lemah mengeksekusi.”

Dalam keputusasaan, pandangan Sierra terseret oleh bayang-bayang putaran baling-baling di dinding. Entah apa yang keliru, pemuda itu selalu saja menemukan cacat dalam idenya. Dantanu seakan tidak mau tahu, usahanya tidak pernah memuaskan di mata pemuda itu. 

“Tolong kasih aku clue, Nu.” Sierra memohon. Namun, Dantau tidak menanggapi sama sekali. Ketika dia menoleh, Dantanu malah sibuk mencoret di sana sini tabel karakter yang telah susah payah dia susun dengan tinta tebal. Setiap kali mata spidol Dantanu beraksi, jiwa Sierra rasanya turut tergores. 

“Jangan, Nu!” Sierra berusaha merebut kertas miliknya, tetapi lengan Dantanu keburu menindih benda itu di atas meja. Alih-alih, Sierra memperoleh delikan tajam. 

“Bikin ulang,” perintah Dantanu dingin. 

Mata Sierra membulat lantaran tidak terima. “Di mana salahnya karakter yang aku bikin, coba? Seharian aku bikin itu, Nu, sampai-sampai aku nggak fokus mencatat di kelas.”

“Bukan masalahku gimana kamu di sekolah. Karaktermu standar, klise, kayak buatan AI. Pingin kurobek saja jadinya.” 

Sudah kesepakatan bahwa Dantanu berhak melakukannya. Bahkan, jika Dantanu ingin membakar hasil kerja keras Sierra sekalipun. Dia sudah terikat perjanjian dengan si raksasa–begitu cara Sierra menyebut Dantanu yang berbakat luar biasa, tapi keras kepala. Namun, Sierra tidak menyangka jika kesepakatan mereka bakal menetas jadi mimpi buruk. Dantanu kerap mengganyang idenya bagai kerupuk. 

“Stop!”

Sierra berontak ketika melihat Dantanu bermaksud menyilang penuh halaman kreasinya. Mereka berebut sengit. Dantanu menarik sikunya dengan keras, tetapi mata spidol pemuda itu malah ringsek terbentur meja. Pergelutan mereka pun terjeda. Tatapan Sierra meredup lantaran rasa bersalah.

Sorry, aku nggak sengaja. Spidol kamu ganas, sih.” Sierra berujar pelan sebagai permintaan maaf, tetapi malah membuat dengkusan keras terembus dari Dantanu yang lantas berdiri tegak. Sierra yakin kalau sebenar lagi dirinya bakal diusir keluar kamar. Semoga.

“Kalau jariku yang patah, gimana?” omel Dantanu ampuh hingga mengunci bibir Sierra. “Aku sudah berbuih-buih ngomong dari awal. Eksekusi karaktermu, Ser. Bunuh protagonis. Antagonis jangan setengah-setengah. Nggak ada guna aku ajarin kamu nulis selama ini buat main-main! Kalau niat kamu cuma mau jadi penulis platform, nggak usah belajar sama aku.”

“Nu!” Sierra dengan cepat menyela. Namun, nada suara berikutnya melunak. “Oke, aku akan perbaiki. Tapi jangan segitunya juga kali. Kan, sayang, masih bisa dipakai buat revisi.”

Dantanu memutar kursi hingga menghadap Sierra yang berdiri selangkah dari meja. Bahasa tubuh gadis itu seolah tidak sabar ingin pergi, tetapi tawar-menawarnya dengan Dantanu belum selesai. Keheningan sesaat pun terasa menyayat karena diskusi mereka berjalan alot. Perasaan Sierra mulai tidak nyaman tatkala Dantanu berdiri, lantas mendorong dirinya untuk duduk. Dengan tatapan tajam, Dantanu memerintahnya. “Bikin sekarang, aku mau lihat.”

“Hah, sekarang juga?” Sierra memprotes keberatan karena permintaan Dantanu terasa berlebihan. Dia tidak mungkin leluasa menulis di bawah pengawasan. Sierra tidak setangguh itu untuk berhadapan langsung dengan mata jeli Dantanu. Jika ingin menulis dengan bagus, katanya Sierra harus membangkitkan raksasa tidur dalam dirinya. Sierra tidak meragukan prinsip tersebut karena dia sering membaca karya Dantanu. Masalahnya, Sierra belum mampu untuk beregenerasi menjadi raksasa, bahkan menyamai ukuran jempolnya. Dia masih level kurcaci. 

“Kasih aku waktu semalam.” Sierra memelas, tetapi Dantanu tampaknya telah bertekad mengeksekusi dirinya saat itu juga.

“Setiap menit berharga, Ser.”

Ish, aku butuh healing dulu biar segar, Nu. Otakku bakal meledak dipakai nonstop dua puluh empat jam.”

“Baru dua belas jam, Ser.”

“Nu?” 

“Sekarang.”

Bunyi pintu kamar terbuka menginterupsi perdebatan keduanya. Bunyi penyelamat itu terdengar merdu di telinga Sierra. Berkatnya, Sierra berhasil terlepas dari cengkeraman lengan kokoh sang raksasa untuk sementara, sedangkan Dantanu menghela kecewa ketika sosok ibunya muncul dari balik sana. 

“Kalian masih belajar? Makan malam sudah siap,” ucap wanita itu datar. 

“Sebentar, Bun.”

“Dantanu. Sierra.”

Bagi Dantanu, makan malam bisa menunggu. Dia masih ingin menikmati mengunyah sisi lembek Sierra. Namun, Ibunya berdiri tegak di depan pintu seakan menuntut mereka segera keluar. Wanita itu tidak menghiraukan ekspresi terganggu kentara dari Dantanu yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan raut wajah miliknya. 

Maka, Dantanu beranjak lebih dulu tanpa mengetahui ekspresi lega Sierra di belakang. Gadis itu bangkit menyusul.

“Kamu, jangan terlalu dekat sama anak saya, ya.”

Mimik Sierra berubah seketika mendengar cara Tante Dania berbisik padanya. Perawakan mereka sepantaran, hingga eksistensi wanita itu tidaklah mengintimidasi, tetapi kata-katanya jelas menusuk hati. 

“Baik, Tan,” jawab Sierra sekenanya dengan suara parau. Dia tahu diri dan paham maksud Tante Dania. Putri dari keluarga broken home seperti dirinya adalah ancaman laten bagi keluarga normal Dantanu. Setidaknya, itulah justifikasi yang Sierra peroleh saat masuk ke rumah itu. 

Lihat selengkapnya