“Kecubung.”
“Apa itu kecubung? Kedengarannya nggak mewakili deskripsi tentang kita sama sekali. Kita memang suka berimajinasi, ya, tapi kita masih waras. Nggak halu beneran kayak konten-konten mukbang kecubung.”
Dantanu langsung menolak pada kesempatan pertama. Tidak adil. Namun, Sierra sedang tidak ingin mengalah dengan mudah. Pemuda itu telah melibatkannya dalam sebuah kolaborasi terkutuk dan dia tidak diberi kesempatan sama sekali untuk memilih sebaliknya. Maka, wajar jika kini dia berkeras ikut menentukan nama pena yang akan mereka gunakan bersama.
“Singkatan dari K. Kamu juga menggunakannya dalam karya buat mading, ‘kan?”
“K untuk Kusuma, nama keluargaku. Bisa juga untuk ‘kolaborasi’.” Dantanu mengangkat alis.
Atau ‘K’ untuk ‘Kerdil’. Sierra jelas tidak akan mengatakannya di depan ego raksasa Dantanu. Nyalinya tidak lebih dari jempol kaki kurcaci.
“Kurang spesifik, Nu. Inisial K bisa berarti apa saja dan sudah banyak yang pakai. Kita perlu nama unik dan berkarakter seperti yang kamu bilang sampai berbuih-buih.”
Sebelum Dantanu beraksi melempari dia dengan pulpen, Sierra lebih dulu merebut benda itu dari atas meja, lalu menyembunyikannya ke belakang.
“Ser, inspirasimu cuma sebatas video mukbang gokil, ya?” Alis Dantanu berkerut. Seperti biasa, Dantanu miskin apresiasi, terutama untuk ide-ide Sierra yang dianggap berbeda. Detail di balik persoalan jenama adalah masalah Dantanu yang tak bisa dianggap remeh.
“Yah, enggak keliru juga, sih.”
Kelopak mata Dantanu sontak menyipit melihat cara Sierra menggigit bibir serbasalah. Dia langsung tahu jika Sierra sedang menyembunyikan sesuatu yang penting, mungkin saja semacam kode rahasia yang tak ingin dibagikan kepadanya.
“Sebenarnya, tanaman kecubung punya bunga dan buah berbentuk unik, walaupun tempat tumbuhnya tergolong biasa. Seperti kita–ehm! Tapi kalau dikonsumsi, kecubung punya efek bius yang bikin orang berhalusinasi–” Tampak jelas kalau gadis itu sedang bermain-main dan membuat alasan.
Tak sabar, Dantanu meraih gawai dan membuka laman pencarian seraya menggerutu, “Kenapa, sih, kecubung-kecubung mulu–” Dantanu lantas mengernyit serius menatap layar. Tampaknya, dia menemukan sesuatu yang menarik. “Nama ilmiah kecubung, Datura? Dantanu-Sierra?” Bibirnya bergerak lambat, lalu pemuda itu melempar pandang pada Sierra yang langsung membeku. Sierra tidak berani berkedip. Dia nyaris tertangkap basah.
Tawa Dantanu meledak. Butuh waktu cukup lama hingga pemuda itu mampu bicara tanpa tersedak oleh rasa geli yang merayap-rayap. “Nggak nyangka, tumben kamu lebai, Ser. Dantanu-Sierra. Datura, persis judul film lovey-dovey masa kini.”
Pulpen di tangan Sierra pun melayang ke arah Dantanu, hingga pemuda itu refleks menangkis meskipun sedikit terlambat dan mengenai bahu.
“Kamu jangan tersanjung dulu, Nu. Enggak ada inisial nama aku di sana. Tapi–” Lidah Sierra nyaris tergelincir.
“Tapi?”
Kelopak mata Dantanu menyipit. “Tapi apa, Ser?”
Tidak mungkin Sierra bilang kalau Datura adalah singkatan dari ‘Dantanu si Raksasa’, pemuda itu bakal mendendam seumur hidup. Atau, lebih buruk, Dantanu bakal makin besar kepala dan berbuat sekendak hati terhadapnya.
Sierra pun mengaduh tatkala Dantanu menepuk pipinya dengan bersemangat. Senang sekali kelihatannya pemuda itu setelah tadinya kehilangan antusiasme untuk beberapa saat.
“Jadi, kamu bikin nama itu khusus buat aku? Kamu sendiri, dapat kredit apa?”
Sierra terkekeh serbasalah. “Dapat belajar dari kamu, sudah cukup buat aku.”
“Ah ….” Dantanu pura-pura menggaruk pipinya yang bersemu, lantas mengacungkan telunjuk. “Kamu memang pintar. Nggak sia-sia masuk IPA. Nggak sia-sia juga sekelas sama narsum kita, Jenny K. Hahaha.”
Senyum di wajah Sierra langsung lenyap. “Nggak ada hubungannya, kali, Nu. Jenny aja yang sial bikin masalah sama kamu. Udah puas dukun bertindak setelah cinta ditolak?”
Alhasil, Sierra kembali mengaduh karena diserbut cubitan di pipi. Lemak kulit Sierra terlalu tipis untuk melindungi sarafnya dari rasa sakit akibat serangan jemari Dantanu.
“Bukan levelku mengejar-ngejar Jenny K. Nggak usah sok tahu!”
“Ih. Habis, segitu dendamnya kamu sama dia, jadi kupikir masalahnya itu.” Sierra mengusap pipi seraya meringis. “Aku sudah kasih kamu kotak pandora, kamu belum percaya juga sama aku?” protesnya.
“Belum saatnya, Ser. Kita baru sepakat soal nama. Setelah kamu bisa membuktikan kemampuan kamu berkolaborasi, baru aku pertimbangkan untuk berbagi rahasia.”
“Hah?” Cuma itu tanggapan yang keluar dari lisan Sierra. Dantanu memang penuh aturan. Hampir-hampir Sierra tidak sanggup bernapas.
“Ayolah, Ser. Jangan cewek banget, dong.”
“Maksud kamu?”
“Emang, aku mesti kasih kamu reward rahasia segala? Premis itu berharga, Ser. Aku mana tahu, bisa saja nanti kamu curi buat dipakai dalam tulisanmu.”
Napas Sierra sontak jadi berat, dadanya kembang-kempis. “Nu! Aku memang nggak bisa nulis sebagus kamu, yah, tapi kreativitasku nggak sekismin itu sampai harus mencuri dari kamu!” Gadis itu amat tersinggung lantaran ucapan Dantanu barusan. Makiannya bagai sebuah tamparan keras yang mampu menembus gendang telinga Dantanu.
“Oke. Sorry.” Dantanu tersadar tuduhannya sudah kelewatan hingga mendidihkan darah Sierra. Kendati pantang mengobral harga diri, pemuda itu berhenti sebelum fatal. Lantaran tesentuh, Sierra pun mengangguk sebelum Dantanu menarik kembali niat berbaikan dengannya.
“Nggak apa-apa,” balas Sierra walaupun dia sendiri tidak bersalah. “Apa pun alasan kamu ingin menghancurkan Jenny K., aku takut kalau dia bakal menuntut kita balik dengan pencemaran nama baik, Nu.”
Gelak tawa Dantanu lagi-lagi pecah. Kedua orang tuanya sedang tidak di rumah, jadi Dantanu leluasa menikmati keabsurdan suasana. Namun, Sierra tidak tahu di mana letak kelucuan kalimatnya tadi.
“Nu, kamu bisa serius, nggak?”
“Dari tadi aku serius. Kamu yang parno-an amat. Dia mau menuntut siapa? Aku kirim karya lewat IP anonim. Nggak ada yang bisa dia tuntut kecuali diri dia sendiri.”
“Sebenarnya, apa, sih, yang kamu mau dari Jenny K.?” selidik Sierra.
“Muka dia,” tekad Dantanu sungguh-sungguh. “Biar dia merasakan gimana pahitnya berada di sisi antagonis, bukannya tokoh utama yang biasa dia perankan dalam drama sekolah.”
“Nu, kita nggak cuma bikin masalah sama Jenny K., loh, tapi juga Mr. I.”
“Bukankah itu yang kamu mau?”