Acapkali Sierra mendengar suara sumbang yang mengatakan bahwa dia tumbuh menjadi anak tidak berguna. Suara itu berasal dari ayahnya sendiri, Ariadinata. Cakrawala dunia pun terasa sempit dalam penglihatan Sierra. Dia jadi mudah menangis oleh hal-hal kecil.
Seiring hari, suara sumbang itu bukannya mereda, tetapi malah semakin liar memangsa jiwa Sierra belia. Tiada seorang pun peduli jika gadis itu sedang berdiri di pinggir jurang putus asa. Luka yang Sierra tanggung kian meraksasa, lebih-lebih semenjak kepergian sang ibunda, hingga rasanya mustahil untuk dijahit kembali sediakala.
Pada suatu hari, nurani Aria benar-benar mati.
“Keluar! Jangan bersembunyi seperti pengecut, Sierra! Mau jadi apa kamu? Jadi perempuan gagal seperti ibumu?”
Bagi Sierra, hardik kemarahan ayahnya lebih menakutkan daripada gedoran keras pada pintu lemari. Serbuk-serbuk kayu lapuk berjatuhan setiap kali pintu dihantam dari luar. Engselnya berkeriut berisik hingga menciutkan nyali.
Sierra tidak tahu berapa lama lagi dinding setebal satu jari itu sanggup menahan dirinya dari amukan sang ayah. Lemari itu tiada bedanya dengan peti mati.
“SIERRA MALINI, KELUAR!”
Bak raungan raja hutan, Ariadinata meneriakkan nama sang putri dengan garang. Nasib Sierra kini benar-benar bergantung pada kemurahan hati sang ayah, sementara hati lelaki itu telah buta oleh amarah. Tidak ada cinta yang mampu menembus kegelapan mata batin Ariadinata.
Tatkala pintu almari akhirnya terbuka, suar ketakutan meluncur sekarat dari mata Sierra yang basah, tetapi gagal meruntuhkan tembok ego sang ayah. Gadis malang itu memohon ampun ketika tubuhnya mulai dihujani oleh lecutan sabuk kulit yang baru dilepas dari celana Aria. Suara Sierra sampai serak, penglihatannya pun berkunang-kunang lantaran kena sabet bertubi-tubi. Namun, sang ayah tak jua berhenti.
Ayah? Di mata Sierra, status lelaki itu tak lebih dari gen yang tumbuh dan darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ariadinata hanya berperan sebagai orang tua biologis. Namun, sosok yang semestinya menjadi superhero bagi anak gadisnya itu telah bermutasi menjadi monster kejam yang setia pada titah seorang ratu jahat.
Megantari menyelinap diam-diam di balik pintu. Bibir merahnya menyeringai menyaksikan adegan tersebut dan Sierra tidak pernah lupa akan hari itu. Hari di mana kepercayaan dirinya terhadap sang ayah musnah bagai abu. Wanita itu berhasil menghasut Aria bahwa Sierra tidak pantas tinggal bersama mereka. Sierra berkali-kali membuat Megantari celaka, katanya, hingga wanita itu nyaris kehilangan jabang bayi yang ditunggu-tunggu oleh mereka. Meskipun Sierra bersumpah bahwa dia tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan Megantari padanya, Aria tetap tidak percaya.
Sierra tidak kuat menanggung dera hukuman dari Aria. Tragis, dia justru mengkhawatirkan keselamatan di rumahnya sendiri lantaran kewarasan sang ayah sudah terganggu oleh mantra-mantra ratu jahat. Pandangan lelaki itu tidak mampu melihat secara jernih dalam aura kegelapan Megantari. Usaha apa pun yang Sierra lakukan untuk mengembalikan ketenangan di rumah kediaman mereka telah gagal. Ariadinata telah merusak fondasi bangunannya, yakni rasa aman. Puncaknya, Sierra menemui nasib serupa sang ibunda. Gadis itu memutuskan bahwa dia takkan pernah bahagia selama tinggal satu atap dengan istri baru Aria.
Di hari nahas itu pula, Sierra minggat hanya dengan busana melekat di badan. Sandalnya tercecer di suatu tempat karena Aria terus mengejarnya hingga ke pinggir jalan, tetapi dihalangi oleh hujan yang tercurah tiba-tiba dari langit. Sierra tidak peduli, dia terus berlari meski telapak kakinya perih tergores aspal. Dia hanya berhenti ketika tersandung lantas tubuhnya terguling dalam genangan air di trotoar. Tiada seorang pun menyaksikan, apalagi menolong karena peristiwa itu terjadi di pemukiman kompleks yang sepi lalu lintas. Andaipun ada, mereka pasti berpikir bahwa Sierra adalah gadis aneh yang tidak pantas mereka hiraukan. Orang-orang itu bakal menutup jendela dan pintu rumah mereka.
Meskipun belum pergi jauh, Sierra yakin bahwa dia telah keluar dari blok semula, lantas kini terdampar di blok pinggiran yang diisi oleh deretan perumahan bersubsidi untuk penghuni kelas menengah ke bawah. Rumah di area ini berukuran lebih kecil dan cuma satu lantai. Jalanan di depannya pun tidak selebar di blok utama.
Sierra mengerang keras saat mencoba bangkit. Tumitnya sakit luar biasa. Mungkin terkilir. Kesialan datang tanpa rasa bosan rupanya. Gadis itu kehabisan energi tatkala menyeret separuh tubuh bagian bawah ke pinggir pagar, lantas bersandar tak jauh dari tong sampah bekas drum oli. Napasnya tersengal karena nyeri.
Klontang.
Wajah Sierra tertengadah ketika terdengar bunyi dentang logam di atas kepala. Tutup tong terbuka, ada seseorang berdiri tegak, menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi tak kalah terkejut. Sierra dan orang itu lantas berpandangan canggung penuh tanda tanya.
“Kamu … anak kelas sebelah?”
***
“Dia nggak mau keluar, Yah.”
Dantanu kembali ke ruang tamu dengan tangan kosong. Dia gagal membujuk Sierra untuk menemui Ariadinata yang bermaksud datang menjemput. Siapa sangka, lelaki itu ternyata mengenal kepala keluarga yang menampung Sierra untuk sementara di rumah mereka.
“Tidak apa-apa. Sierra tinggal di sini saja dulu, Pak Aria.”
“Yah ….” Dania berbisik keberatan pada suaminya, tetapi hanya dibalas oleh senyuman kaku Hendaya. Gerak-gerik keduanya tidak luput dari pantauan mata Aria. Lelaki itu seolah tidak peduli pada pertentangan pendapat antara suami istri di depannya, kecuali kabar mengenai sang putri yang tampaknya juga tidak dia cemaskan sama sekali. Dia lebih mencemaskan nama baiknya yang terancam jika ada orang tahu bahwa putrinya kabur dari rumah.
Dantanu berulang kali menengok ke arah pintu kamar terbuka yang persis berhadapan dengan ruang keluarga. Kamar itu terlihat kosong, tetapi dia tahu Sierra ada di dalam dan diam-diam sedang mendengarkan percakapan di luar.
Sierra menyelusup di bawah ranjang Dantanu yang dipenuhi debu. Dia menempelkan kuping dengan gugup ke lantai ubin. Kulitnya disergap dingin, tetapi dia justru berkeringat karena gelisah.
Sierra baru merasa terbebas dari badai kekalutan setelah pintu di seberangnya ditutup, lalu dia melihat kepala Dantanu melongok ke bawah ranjang untuk mengintip. Pemuda itu berbicara dengan kelopak mata nyaris tidak berkedip.
“Ayahku mengizinkan kamu tinggal di sini untuk sementara. Ayah kamu juga sepakat. Tapi, kamu yakin nggak mau pulang?” ujar Dantanu setelah Sierra keluar dari persembunyian. Sierra menggeleng tegas. “Enggak.”
Dantanu menghela pasrah di sisi Sierra. Gadis itu bertopang lemas dengan tangan ringkih bagai fondasi miring. Sekali dorong saja, dia pasti ambruk, pikir Dantanu heran atas apa yang tengah terjadi, hingga gadis bernama Sierra Malini itu bertindak penuh teka teki. “Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu dan ayahmu, tapi sebaiknya dibicarakan baik-baik–”
“Ayahku ingin melenyapkanku!”
Pengakuan Sierra mencekik udara dalam kerongkongan Dantanu. Pemuda itu membulatkan mata dan mengerjap kuat sebelum berhasil menguasai keterkejutannya.
“Maksud kamu?”
Sierra berpaling menyasar Dantanu dengan tatapan nanar yang makin membuat napas pemuda itu sesak. “Ayahku bahkan berharap aku nggak pernah terlahir ke dunia.”
“Hah? Mana mungkin ayah kamu setega itu.” Dantanu membuka telapak tangan di depan dada untuk menolak pemikiran Sierra..
“Kamu nggak mungkin paham. Kamu bukan aku. Aku nggak mau kalian terlibat dalam masalahku.”
“Ini masalah serius, Ser. Kalau cerita kamu itu benar, kita harus lapor polisi."