“Dantanu! Kenapa sampah kamu taruh sembarangan di luar?”
Kembali ke masa kini. Dantanu terkesiap mendengar suara ibunya di balik pintu kamar yang terkunci. Dia lantas menatap Sierra. Sorot mata gadis itu memohon agar Dantanu menghadirkan keajaiban berupa tambahan waktu kepadanya. Sierra tidak berharap Tante Dania bakal menyadari keberadaannya di sana. Sierra tidak ingin melewati badai sendirian. Dulu, Tante Dania juga pernah meneriaki Dantanu untuk alasan yang sama.
Sierra tidak pernah bosan berterima kasih pada sosok Dantanu. Di balik ego raksasanya, Dantanu ternyata memiliki nurani yang jauh lebih peka dibandingkan kebanyakan manusia biasa. Om Hendaya dan Tante Dania pun nyaris menolak kehadiran Sierra awalnya. Jikalau Ariadinata sendiri tidak mengharapkan sosok sang putri, janji palsu apa yang layak mereka ucapkan pada Sierra? Tiba-tiba saja, seorang gadis tanpa pertalian apa-apa muncul di depan rumah mereka, di mana hubungan antarmanusia di dalamnya kian berjarak lantaran kehadiran fisik hanya simbol persekutuan semata–maka, dari sisi wajar manakah kehadiran Sierra bisa mereka terima dengan legawa? Sierra tidak lebih dari orang asing di rumah kediaman Kusuma.
“Bentar, Bun! Aku lupa ada sampah lagi yang belum diberesin di kamar. Nanti aku turun buang semuanya!” teriak Dantanu yang lebih terasa bagai ancaman agar tuntutan sang ibu berhenti.
“Jangan pake lama, makanan sudah siap!” balas ibunya dari luar.
“Siap!” Dantanu menghela lega, lantas kembali menghadirkan seluruh perhatiannya pada Sierra. Dengan sentuhan canggung, dia memberi isyarat agar gadis itu melanjutkan ceritanya karena Sierra bagai berada di lain dunia. Sierra tengah terjebak dalam badai yang jauh lebih hebat daripada keributan di luar, dan badai itu menggulung emosinya menjadi satu keinginan kuat.
“Aku cuma ingin mengumpulkan uang, lalu menyusul Ibu yang sekarang entah di mana.” Sierra berucap dengan kepala tertunduk pada bahunya yang melorot. Sierra sedang ingin menyembunyikan jendela hatinya dari jangkauan dunia, termasuk Dantanu. Sierra tidak sanggup menunjukkan kelemahannya di hadapan pemuda itu, setelah waktu-waktu yang Dantanu dedikasikan untuk menyokong lehernya agar tegak melawan dunia.
Meskipun tidak melihat bagaimana rupa Dantanu sekarang, Sierra bisa merasakan dengkus kekecewaan pemuda itu tatkala tahu hati Sierra kembali terbelah di persimpangan jalan.
“Kita sudah satu pikiran, Ser. Kita bahkan sudah punya kolaborasi. Ini langkah pertama Kecubung.”
“Aku nggak bisa, Nu. Ini di luar ekspektasiku. Nggak seharusnya kita mencampuri urusan hidup orang lain,” ujar Sierra dengan wajah yang kini terangkat. Dia beranikan diri untuk menatap ke dalam manik mata Dantanu, hingga Sierra kini menyaksikan riak-riak kegusaran bergelombang pada permukaan wajah pemuda itu. Rupanya kusut seperti setiap jengkal kulit yang terbelit. Pemberontakan pertama Sierra pasti terasa bagai hantaman keras.
“Sudah sejauh ini, kita berhasil menghentikan perselingkuhan Pak Indra dan Jenny K. Langkah pertama memang nggak pernah mudah.” Dantanu berusaha meyakinkan Sierra.
“Tadi Pak Maimun dan anak-anak Rohis masuk kelas. Mereka juga ke kelas kalian, ‘kan? Aku malu udah bikin resah satu sekolah.”
“Cuma itu masalahnya maka kamu jadi ragu? Ser, apa aku pernah berbohong sama kamu? Bikin kamu rugi secara materi?”
Sierra terdiam. Selama ini, mereka telah bahu-membahu menyelesaikan setiap tenggat. Dengan menjadi asisten penulis hantu seperti Dantanu, Sierra beroleh cukup pengalaman untuk memulai debut sendiri, juga penghasilan kendati belum seberapa karena mereka baru berbagi proyek kecil seperti menulis buku untuk skor akreditasi ataupun lomba daring. Dantanu tidak pernah menolak permintaan selama bukan berasal dari kalangan sekolah mereka. Tiada yang mengetahuinya, kecuali Sierra. Namun, proyek tidak biasa kali ini terasa sulit bagi Sierra karena Dantanu sendiri yang menjadi kliennya dan melibatkan teman sekelasnya. Kepala Sierra serasa terbelah.
“Abaikan saja, Ser. Aku sudah bikin disclaimer kalau karya itu murni imajinasi,” timpal Dantanu membuat Sierra tertengadah.
“Kita berdua tahu kalau kamu memang sengaja ingin menjatuhkan seseorang. Nggak perlu ngomong apa-apa lagi, Nu. Aku mundur."
“Sierra!” Dantanu mencekal pergelangan tangan gadis itu. “Kamu harus menjaga jarak emosi dari tokoh yang kamu tulis! Ini cuma masalah biasa.”
“Enggak, Nu. Aku enggak sanggup mencuri kisah orang lain diam-diam kayak gini sambil melihat orang itu jatuh. Ini nggak adil buat Jenny K. Dia hanya korban Pak Indra.”
“Aku nggak yakin Jenny cuma korban.”
“Kenapa? Apa pernah terjadi sesuatu sama kamu dan Jenny K.?” Selarik rasa ingin tahu memberkas dalam bola mata Sierra.
Dantanu pun terkekeh hambar. “Nggak usah mikir kejauhan. Tapi, menurut aku, ya, perselingkuhan itu terjadi karena kesepakatan, sama seperti kejahatan berencana.”
“Kenapa, sih, setiap kali ada kasus perselingkuhan, pasti ada perempuan baik-baik yang jadi korban. Kadang aku berpikir kalau semua laki-laki memang berengsek!”
“Aku juga laki-laki.” Tatapan Dantanu mengunci Sierra tajam. “Tapi, aku enggak seberengsek papamu atau Pak Indra.”
Tanpa sadar, tangan Sierra bergerak menyasar pipi Dantanu, tetapi refleks pemuda itu lebih cepat. Dia berhasil menghindari pukulan Sierra.
“Jangan sebut-sebut papaku! Aku nggak punya hubungan lagi dengannya. Kita juga nggak ada bedanya sama Jenny K. dan Pak Indra karena telah menyebarkan cerita mereka. Aku merasa jahat, tahu, nggak!”
Dantanu lekas meminta Sierra memelankan suara. Orang tuanya ada di lantai bawah.
“Jangan sampai ketahuan Ayah-Bunda, Ser. Kita harus tetap melanjutkan ini sampai akhir,” bujuk Dantanu khawatir.
Akan tetapi, tekad Sierra sudah bulat. Gadis itu menggeleng kuat.
“Kalau kamu nggak mau berhenti, aku tetap akan berhenti!”
“Sierra!”
Sierra membuka pintu, lantas wajah kaget Sadana muncul di baliknya. Pemuda itu terheran-heran mendapatinya berada dalam kamar sang adik.
“Eh, Sierra. Kamu di sini?”
Sierra sedang tidak ingin berbasa basi dengan Sadana. Dia lewati lelaki itu di depan pintu dan langsung bergegas turun, hingga hampir bertabrakan dengan Tante Dania di bawah tangga.
“Sierra, kamu sudah pulang? Dari kamar Dantanu lagi?” Sierra pun tidak menjawab pertanyaan perempuan itu, meskipun Tante Dania belum menyelesaikan omelannya hingga Sierra masuk kamar. Sierra sedang muak berhadapan dengan semua orang. Rasanya, dia ingin menghilang dengan melompat ke jurang.
Namun, ada makan malam yang harus dia hadiri.
***