Kantin diserbu seisi sekolah pada jam istirahat pertama. Nyaris tidak ada bangku panjang dan kursi kosong tersisa. Setiap siswa yang baru datang harus menunggu mereka yang lebih dulu tiba di sana selesai makan atau beberapa dari mereka memilih untuk duduk di pagar pembatas teras.
Di antara keramaian itu, ada sebuah meja sempit yang dikuasai secara eksklusif oleh grup literasi. Mikochan dan kawan-kawan, begitulah cara semua orang menyebut mereka. Chandra adalah ketua mereka, tetapi Miko lebih menonjol di kalangan siswa karena penampilan dan sikapnya yang grasah-grusuh alias berantakan. Miko akan tampil di atas panggung, sedangkan Chandra lebih berperan menyusun taktik di balik layar. Semua kesalahan yang dilakukan oleh Miko akan ditangani Chandra kemudian. Miko dan Chandra selalu kompak dari kelas satu hingga bergabung ke ekstrakurikuler tersebut.
“Halo, Mikochan.”
Jenny K. lantas muncul dan berdiri di sisi meja. Gadis itu tanpa segan menyuruh Tyas agar bergeser untuk berbagi kursi dengannya. Jenny K. pun merebut sebidang tempat pada meja untuk menaruh sebotol teh dingin.
Mikochan dan kawan-kawan terperangah, bukan hanya lantaran kedatangan Jenny K. yang mendadak, tetapi juga karena kehadiran Sierra bersamanya.
“Hai, mau berbagi?” tanya Miko seraya bergeser memberikan tempat duduknya. Chandra memberi tatapan menohok, sementara Tyas meringis.
Sierra menggeleng pelan, “Terima kasih, tapi aku nggak makan. Biar aku berdiri saja.”
“Aku baru tahu kalau kamu tipe cowok yang suka berbagi, Mik,” sindir Tyas.
“Selama bukan berbagi hati seperti Mr. I,” balas Miko sambil matanya menyasar ke arah Jenny K. yang memilih sibuk menyeruput teh dinginnya dengan sedotan.
“Kamu ngiri?” Pertanyaan Chandra berhasil mencuri perhatian mereka.
“Kamu nanya siapa, Chan? Aku atau Tyas?” tanya Miko karena merasa ambigu.
“Dih!” Tyas langsung mencibir. “Salah orang!”
“Semuanya juga tahu kalau kamu fans berat Mr.I–”
“Najis, suami orang!”
Miko pun mengaduh mendapat tendangan dari bawah meja seketika dari Tyas. Kali ini, Jenny K. bahkan tertawa. Hanya Sierra yang mendengarkan dengan tenang di sisi meja. Perhatian mereka kini kembali pada gadis itu.
Miko berusaha memasang ekspresi wajar ketika menyapa. “Eh, kamu ….”
“Sierra Malini,” jawab Sierra cepat. Dia merasa jengah dengan tatapan Miko yang berkilat-kilat. Bahkan, Dantanu tidak pernah menatapnya seperti itu.
“Mik … Mik.” Chandra menegur.
“Biasa aja kali mandanginnya, Mik. Kamu kayak mau makan anak orang. Kepalamu udah jadi sarang laba-laba, makanya pikiranmu juga menyesatkan.” Kata-kata pedas Tyas mencambuk Miko tanpa basa-basi. Tawa Jenny K. meledak, sedangkan Chandra masih menilai situasi.
“Apaan, sih, kamu, Yas? Parno-an mulu. Aku cuma mikir, tumben Sierra ada di sini. Anaknya pendiam dan biasa mengisolasi diri di kelas.”
Chandra yang juga sekelas pun menyadari kebenaran ucapan Miko. Dia ikut mengamati Sierra dengan lekat, sementara gadis di hadapan mereka hanya tersenyum simpul.
“Sierra mau gabung ke grup literasi.”
Penjelasan Jenny K. bagai guntur di telinga mereka bertiga. Mikochan dan kawan-kawan berpandangan.
“Ada angin apa, nih?” Miko yang biasa bercanda pun menganggapnya lelucon aneh. Dia tidak percaya begitu saja perkataan Jenny K.
“Jen, kamu sudah keluar dari grup ini. Kenapa jadi bawa-bawa orang baru ke sini? Nggak salah, kamu? Ajak saja dia gabung di grup drama.”
“Nggak, Mik. Sierra katanya mau gabung sama kalian.” Jenny K. menatap Miko dengan sorot mata tidak menerima keberatan.
“Masa penerimaan anggota baru sudah lewat.” Chandra akhirnya buka suara.
“Tapi, ada pengecualian jika grup sedang butuh.” Jenny K. berbicara seolah-olah dia masih bagian dari grup itu dan memegang keputusan utama.
“Kami sedang nggak butuh, Jen. Penerimaan anggota baru juga harus sepengetahuan OSIS.”
“Kalau begitu, terima saja dia sebagai anggota tidak resmi.”
“Jen.” Chandra menatap menyeberangi meja kepada Jenny K. yang terdengar meminta secara paksa.
“Memangnya, kenapa kamu mau gabung ke grup ini?” selidik Tyas penasaran.
“Aku sedang belajar menulis.” Sierra menjawab tanpa ragu. “Memang berbeda dari yang biasa kalian tulis. Aku membuat remake dongeng dan cerita fantasi.”
Miko menepuk sisi meja dengan kencang hingga bergetar dan membuat peralatan makan di atasnya berderak. “Penulis fantasi!” seru Miko dengan sepasang mata membola.
“Kamu tahu chat story yang santer belakangan ini di sekolah?”
“Mik …. “ Chandra kembali menegur wakilnya dengan nada serius, tetapi Miko tidak mengindahkan.
“Oh, cerita itu. Menurutku, kreativitas penulis agak berlebihan, seperti ingin membuat sensasi, tapi mengorbankan nilai intrinsiknya. Baik dari segi genre maupun moral, cerita itu gagal mengesankan karena nggak punya pesan yang kuat, tapi malah sebaliknya, destruktif.”
“Wow.” Ketiganya terkesima mendengar opini panjang lebar dari Sierra. Mereka seolah menyaksikan Jenny K. menitis dalam dirinya.
“Dia rekrutan kamu udah berapa lama, Jen?” tanya Tyas pada gadis di sampingnya.
“Nggak lama. Aku nemu dia berbakat dari sananya.”
“Boleh juga, sih, apalagi mendengar opini kamu yang menarik tadi. Chan ….” Miko menoleh pada Chandra di sebelah.
“Nggak, Mik.” Chandra menggeleng, tetapi Miko tampaknya amat memaksa. Sebelah tangannya merengkuh bahu Chandra.
“Dia bisa bikin esai buat meng-counter chat story kemarin.”