“Halo, semuanya. Selamat Hari Kartini!” Mikochan dan kawan-kawan terkesima ketika Sierra muncul di aula sekolah, lantas menyapa dengan senyum secerah mentari. Semua orang sedang sibuk menyiapkan materi untuk menyambut perayaan Kartini. Wajah Sierra berbinar-binar bak keluar dari taman hiburan bertabur kesenangan. Namun, lingkar gelap di sekitar matanya tidak bisa mengelakkan fakta bahwa dia habis bergadang tadi malam.
“Halo, Ser. Bawa kabar baik?” balas Tyas antusias.
“Aku mencoba bikin esai yang kalian minta dan sudah selesai. Kalian mau baca?”
“Oh, ya?” Chandra terkejut, tetapi dia tetap menyambut selembar kertas yang diserahkan oleh Sierra. Gadis itu membuat contoh tulisan yang akan mereka gunakan untuk papan mading. Sierra pun membingkainya dengan kreasi coretan tangan sehingga terlihat menarik.

Konon, Putri Mandalika lebih memilih mengorbankan diri ke laut dan menjelma menjadi cacing warna-warni demi menghindari pertempuran antarkerajaan seantero Nusantara yang berniat mempersuntingnya. Maka, pada setiap tanggal tertentu di bulan Februari, diadakan festival ‘Bau Nyale’ untuk mengenang kasih sayang sang putri. Ribuan orang berkumpul di pantai Seger Kuta untuk berburu nyale, lalu diolah menjadi hidangan.
“Hm. Menarik juga.” Chandra berkomentar. Miko pun segera merebut untuk membaca, disusul oleh Tyas yang mengintip di sebelah.
“Kenapa harus ada gambar cacing, sih?” Tyas bergidik melihat ilustrasi yang Sierra tambahkan di pojok halaman. Namun, tidak ada yang mendengarkan keberatan Tyas tadi.
"Esai ini nggak berkesan persuasi, lebih pada narasi yang komunikatif dan padat esensi. Aku suka. Gimana, Chan? Kita ambil?” usul Miko.
Chandra menatap Miko penuh arti. “Apa selama ini kamu minta persetujuan dariku dulu untuk bahan mading?”
“Dih. Yang masih sensi sama kasus chat story.” Miko mendumal. Tyas pun mengacak-acak rambut Miko hingga makin berantakan. Pemuda itu kesal jadi bahan tertawaan kedua temannya.
“Artikel ini belum bisa menebus nama grup literasi setelah kasus kemarin,” seloroh Chandra kembali menekuni pekerjaannya dengan kertas manila dan pisau pemotong di tangan. “Informasinya masih standar dan klise. Tahun lalu, kita juga menulis tentang Kartini dan tokoh perempuan Indonesia yang menginspirasi. Lagi pula, penambahan dua tokoh lain terkesan tempelan karena walaupun sama-sama menonjolkan karakter perempuan, tetapi pesan moral yang disampaikan berbeda. Kamu harus riset lagi, Sierra, dan sebaiknya jangan memasukkan unsur hikayat karena kamu sedang menulis nonfiksi."
Miko dan Tyas menatap Chandra dengan bingung.
“Tapi, apa salahnya, sih, Chan? Artikel ini mengangkat soal tradisi turun-temurun, loh. Nggak sepenuhnya legenda.” Miko berusaha membela.
“Tetap tidak.” Chandra bersikukuh. “Masih terlalu luas. Kita sedang mencari bahan tulisan yang lebih spesifik. Kamu mau menulis artikel khusus tentang sirkuit Mandalika untuk kolom pengetahuan populer? Sebaiknya, kamu siapkan dulu dalam bentuk esai, lalu kita rundingkan dalam diskusi grup. Kalau bisa, sore ini sudah jadi.”
Sierra terdiam tatkala Chandra menatapnya dalam mode serius. Dia tidak tahu apakah sanggup melakukan riset dalam waktu sesingkat itu untuk memenuhi tenggat. Akhirnya, Miko-lah yang menengahi karena sang ketua tampaknya tidak sudi memberikan kemudahan sedikit pun setelah membaca karya Sierra.
“Maaf, Ser. Apakah kamu bersedia masuk antrean dulu?” Miko meminta maaf pada Sierra karena belum bisa meloloskan karyanya untuk mading. Sierra hanya mengangguk dengan wajah sedikit tertekuk. Binar cerah bagai langit tanpa awan di sana segera berganti mendung.
Bukan pertama kalinya Sierra ditolak. Padahal, untuk sejenak, dia sempat merasa pantas berada dalam grup bersama Mikochan dan kawan-kawan–kontribusi literasinya berpotensi diakui! Namun, rentang sayapnya belum cukup lebar untuk menjangkau ke sana. Tidak heran jika Dantanu membenci grup ini, pikir Sierra. Dantanu mungkin pernah mengalami penolakan serupa.
Tak lama berselang, grup drama masuk ke aula. Ada Jenny K. bersama mereka. Setelah bicara sebentar dengan sesama anggotanya, Jenny K. menghampiri Mikochan dan kawan-kawan. Dia tersenyum samar pada Sierra.
“Grup kalian mau bikin apa buat event nanti?” tanya Jenny K. tanpa basa basi. Aktivitas Chandra kembali terhenti, tetapi kini Miko menjawab pertanyaan tersebut lebih dulu.
“Yah … artikel-artikel dengan tema Kartini seperti biasa, ditambah origami dan prakarya cantik dari Chandra dan Tyas. Kamu mau menyumbang sebagai kontributor juga, Jen? Udah lama, ‘kan, kamu nggak nulis? Itung-itung pemanasan,” timpal Miko seraya menampilkan ekspresi antusias berlebih.
Raut muka Jenny K. tampak datar menanggapi undangan Miko. Ketika Tyas berucap. “Atau, kamu mau menjadi narasumber untuk cerita kami?”
Pertanyaan dari Tyas singkat saja, tetapi otot-otot muka Jenny K. lantas mengeras bagai topeng. Sejak Jenny K. keluar dari grup secara sepihak, dia dan Tyas memang kurang akur karena gadis itu masih belum menerima alasan Jenny K. yang dianggap terlalu mengada-ada. Keluar lantaran sibuk, dalihnya, tapi ternyata Jenny K. malah bergabung dengan grup drama.