Bagai ada harga diri yang terhempas dalam sorot mata Dantanu ketika pemuda itu meminta sungguh-sungguh kepadanya. Mungkin, tidak pernah terlintas dalam pikiran pemuda itu jika dia kemudian harus mengandalkan Sierra sebagai tameng dalam masalah yang sedang dihadapi keluarganya. Namun, Sierra tidak mungkin lupa hari tatkala dia tiba di kediaman Kusuma. Uluran tangan Dantanu serta waktu yang telah Dantanu dedikasikan untuknya, mengingatkan Sierra bahwa dia punya utang yang harus dibalas suatu hari.
Maka, hari itu pun akhirnya tiba. Sierra sadar bahwa apa yang akan dia sampaikan kepada Om Hendaya dan Tante Dania mengandung risiko yang mempertaruhkan hasil kerja keras Dantanu selama ini. Dia mencoba bicara dengan pasangan suami istri tersebut di pagi hari. Keduanya telah berada dalam satu meja, meskipun masing-masing larut dalam kesibukan sendiri. Tante Dania tengah membagikan piring, sementara Om Hendaya berpura-pura menonton tausiyah di saluran daring. Lelaki setengah abad itu tampaknya sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat, mungkin ke bank untuk mengajukan pinjaman karena ada satu map berkas di hadapannya.
Lalu kemudian, Sierra dan Dantanu muncul. Sierra berbicara kepada mereka. “Om, Tante. Aku punya solusi agar rumah ini nggak digadaikan.”
Wajah Om Hendaya dan Tante Dania langsung terangkat. Perhatian mereka kemudian teralih pada Dantanu.
“Dantanu, kenapa berdiri saja?” tegur ibunya.
“Aku membutuhkan Dantanu dalam rencanaku, Tante,” ujar Sierra menegaskan. Keduanya pun tambah terkejut.
“Rencana apa yang kamu maksud, Sierra? Kenapa harus melibatkan Dantanu segala? Jangan bermain-main! Kamu berencana pulang ke ayahmu, lalu meminjam uang?”
“Nggak, Tante!” Suara Sierra terdengar berayun lantaran gentar. Namun, dia telah membuat kesepakatan dengan Dantanu. Sierra meletakkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja, lantas menggesernya kepada Om Hendaya. Lelaki itu langsung membuka isi amplop, lalu sepasang matanya terbelalak melihat tiga gepok uang merah dari dalam amplop.
“Apa ini, Sierra?” selidik Om Dantanu antara kaget dan heran luar biasa.
“Itu uangku, Om. Silakan Om gunakan untuk membayar upah dan pesangon tukang yang masih menumpuk.”
Dada Sierra bagai diremas saat menjelaskan karena uang dalam amplop tersebut adalah hasil kerja keras Dantanu selama ini. Dantanu punya mimpi untuk membuka bisnis percetakan kecil setelah lulus nanti, tetapi tampaknya mimpi itu harus digantung dulu entah kapan. Sierra bisa merasakan gelombang kesedihan dari Dantanu yang berdiri agak di belakang.
Akan tetapi, Tante Dania rupanya tidak semudah itu untuk memercayai perkataan Sierra. Dia bergegas beranjak dari kursi, lalu merebut uang dari tangan Om Hendaya lantas memasukkannya kembali dalam amplop. Tante Dania mengguncang-guncang amplop tersebut.
“Bagaimana kamu bisa dapat ini, Sierra? Apa kalian berdua bikin video bokep?” Tatapan tajam maupun ucapan kejam Tante Dania seakan menusuk rongga dada Sierra.
“Tante, tolong jaga ucapan Tante. Niatku baik hanya ingin membantu, jadi kalian bisa mencari sisanya tanpa perlu menggadaikan sertifikat rumah yang belum tentu bisa kalian tebus.”
“Lalu, dari mana kamu bisa dapat uang banyak?” kejar Tante Dania berapi-api. Amarahnya telah tersulut hingga berkobar karena membayangkan Dantanu terlibat dalam rencana tersebut. Perempuan itu telanjur membayangkan hal yang tidak-tidak.
Walaupun menahan emosi, wajah Sierra menjadi pucat dan berkeringat sehingga Tante Dania menjadi semakin yakin akan praduganya. Sierra bergerak mundur, tapi tertangkap oleh sudut mata Dantanu. Pemuda itu lekas menahan punggungnya. Sentakan samar telapak tangan Dantanu pun seolah menyuruhnya, Katakan!
“Uang ini … aku peroleh dari lomba menulis platform, Tante.”
“Sierra, jangan bohong, kamu.” Om Hendaya memukul meja dengan kasar.
“Sungguh, Om. Lomba menulis di platform sekarang nominalnya besar-besar, bahkan bisa membayar uang muka untuk beli rumah kalau mau,” cerocos Sierra tampak polos, tapi dipoles sedemikian rupa. Meksipun demikian, Om Hendaya memelotot dan berdiri dari kursi. Tampak jelas lelaki itu sedang marah besar. Sebelah tangannya mencengkeram tepian meja, sementara tangan yang bebas terkepal kuat di sisi badan. Sierra gugup karena gelagat Om Hendaya sekarang seperti ingin memukul seseorang saja.
“Tidak ada yang boleh menulis di rumah ini!” bentak Om Hendaya dengan suara menggelegar. Nyali Sierra makin ciut. Telapak tangan Dantanu yang masih bertengger di punggungnyalah yang masih menahannya agar tidak berbalik ke belakang.
“Ayah ngomong apa, sih!” Tahu-tahu, Tante Dania sudah berdiri di samping suaminya, lantas menggusah lelaki itu. Tangannya melambai-lambaikan amplop bagai kipas. “Kita butuh uang ini! Syukurlah Sierra mau memberikannya pada kita. Terima kasih, ya, Ser ….” Tante Dania melempar senyumnya yang paling manis kepada Sierra, hingga gadis itu hanya mengangguk canggung. Uang itu adalah milik Dantanu, andaikan pemuda di samping Sierra berani mengakui jerih payahnya sendiri, tetapi tampaknya Om Hendaya memang benar-benar tidak suka jika Dantanu terlibat dalam rencana Sierra. Lelaki itu masih tampak kesulitan berdamai dengan prinsipnya. Namun, Om Hendaya terpaksa mengakui kebenaran kata-kata istrinya.
Sejenak kemudian, tatapan Om Hendaya terangkat menyasar Sierra. Telunjuknya mengarah pada gadis itu. “Om peringatkan, kamu jangan menyeret Dantanu dalam aktivitasmu itu!"
Sierra menggeleng. "Enggak, Om. Aku hanya minta bantuan sama Dantanu untuk mengerjakan PR-ku. Dantanu bisa berlatih soal ekstra, aku pun bisa menyelesaikan tenggat menulis buat lomba."
"Aduh … pinter kamu, Ser." Tante Dania sekonyong-konyong mendatangi Sierra dan mengelus pipi gadis itu sebagai apresiasi hingga Sierra menjadi salah tingkah akibat perlakuan manis Tante Dania.
“Nggak keliru kita menerima Sierra di rumah ini, Yah. Anak ini memang pandai membalas budi sama kita.” Tante Dania terus memuji Sierra hingga pipi, bahkan seluruh leher gadis itu bersemu merah. Ariadinata tidak pernah memperlakukannya sebaik itu, jadi sang putri tidak terbiasa dihujani oleh kehangatan dan elu-elu yang tidak pernah dia terima seumur hidup dari sang ayah. Ariadinata hanya tahu cara menuntut dan mengecam. Maka, Sierra sendiri tidak tahu mesti bereaksi bagaimana menghadapi sikap Tante Dania yang telah meninggikan posisinya bagai kehormatan anumerta. Lebih-lebih, tokoh yang sejatinya berjasa, Dantanu, justru ketakutan untuk mengakui buah karyanya sendiri. Apakah Sierra layak memperoleh semua itu?
“Jadi, karena itu nilai sekolah Dantanu pas-pasan, sedangkan ranking kamu selalu lima besar?”
Sierra gelagapan karena Om Hendaya menginterogasinya bagai penegak hukum. Sierra tidak punya jawaban bagus untuk pertanyaan itu selain mengangguk mengiakan, meskipun faktanya, nilai-nilai bagus miliknya tidak jatuh dari langit begitu saja ataupun sebab uluran tangan Dantanu. Sebaliknya, Sierra-lah yang menolong nilai Dantanu agar tidak terjun bebas karena remaja itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis.
“Dantanu, jelaskan!” Om Hendaya kembali berteriak menggelegar. Sierra bisa merasakan Dantanu seolah mengkeret di sampingnya. Hal menakutkan tentang Om Hendaya ternyata bukan bualan. Jantung Sierra turut berdebar ketika lelaki itu melangkah dengan bunyi berat ke arah mereka. Namun, Tante Dania lantas menghalangi.
“Ayah mau apa? Urus kerjaan Ayah dulu dengan becus, baru marah-marah!”
“Mau jadi apa anak itu sekolah asal-asalan? Malah jadi joki tugas Sierra! Sudah bagus kamu masuk IPA, Nu! Belajar yang bener, biar dapat beasiswa buat kuliah ke arsitektur! Kamu harus jadi arsitek sukses seperti papanya Sierra, jangan cuma kuli seperti Ayah! Paham, kamu?”
“Oh, seperti papanya Sierra? Terus, setelah sukses, kerjaannya selingkuh, gitu? Lalu anaknya dibuang ke tempat sampah karena dianggap tidak berguna?” Dantanu terpancing untuk menjawab. Emosi menggumpal dalam dirinya membuat Dantanu lupa jika Sierra mampu mendengar cacian yang ditujukan pada Ariadinata. Keping-keping perasaan seketika runtuh menimpa Sierra. Gadis itu tertegun kehilangan akal.
“Kamu jangan bicara sembarangan, Nu. Kehidupan sehari-hari kita sudah banyak terbantu sama Pak Aria. Kita bisa bikin kamar baru buat kamu sama bikin pesta pernikahan Sadana, itu juga berkat tambahan dari Pak Aria,” tegur Om Hendaya.
“Oh, ya? Tambahan sekadarnya buat makan dan SPP itu masih kurang buat Sierra, Yah! Dengan kemapanan Pak Aria, harusnya Sierra tidak perlu lagi memikirkan uang tambahan dengan mencari sambilan menulis kayak gini! Ini eksploitasi anak namanya!” Dantanu sungguh-sungguh kehilangan akal sehatnya ketika balas berteriak pada sang ayah.
Situasi sontak membara ibarat percikan api neraka menjilat bumi. Tubuh Sierra gemetar menyaksikan pertengkaran keluarga yang sungguh dramatis. Sierra benar-benar ingin kabur atau melompat ke lain dimensi.