Kecubung

Ravistara
Chapter #9

Kawah Candradimuka

Sierra menatap Dantanu dan Jenny K. bergantian tidak percaya. Demi pembuktian diri, inilah alasan di balik perbuatan tercela yang dilakukan Jenny K. di belakang bersama Pak Indra. Sungguh tidak bertanggung jawab dan membabi buta! Sierra ingin melampiaskan emosinya saat itu juga, terlebih pada Dantanu yang seolah sedang kehilangan ego raksasanya di ujung lidah beracun milik Jenny K. 

“Cium dia, Nu,” suruh Sierra. Sepasang mata Dantanu pun berdenyar protes. Tawa Jenny K. bahkan berhenti sepenuhnya. Sebaliknya, gadis itu menganggap Sierra seakan gila karena berani bertitah demikian.

“Asal kamu tahu, Jen. Kalau kamu berpikir aku akan cemburu, antara aku dan Dantanu nggak ada apa-apa. Kalau memang itu yang Jenny mau untuk berbaikan denganmu, lakukan saja, Nu!” 

“Sierra, kamu salah paham!” hardik Dantanu. 

“Yakin, nggak cemburu? Bicaramu pakai emosi, lho.”

Jenny K. memang sungguh menyebalkan, maka tidak heran jika kemudian Sierra melihat Dantanu tampak ingin melarikan diri dari situasi menyedihkan tersebut. Dantanu sepertinya terlampau letih hingga kehilangan seluruh stok amunisi untuk berdebat. Dantanu menarik tangan Sierra untuk pergi dari sana, hingga meledaklah kemarahan dalam diri Jenny K. lantaran diabaikan begitu saja. 

“Berengsek! Jangan pikir aku sudi cium kamu, ya, Nu! Pasti rasanya menjijikkan setelah aku punya pengalaman hebat sama Pak Indra!” Jenny K. tidak segan andaikata seseorang mendengar sumpah serapah yang dia tujukan pada Dantanu. Gadis itu mungkin telah buta hati hingga tidak khawatir sama sekali. 

“Jangan dengarkan omongan dia, Ser.” Dantanu memohon sambil mengajak Sierra kembali ke gedung sekolah. 

“Lepaskan, Nu,” pinta Sierra. Dia memaksa langkah Dantanu untuk berhenti. “Kamu nggak takut orang-orang melihat kita?”

Dantanu pun mendengkus. “Kamu sudah mendengar dari Jenny K. Nggak ada lagi selain itu yang membuatku khawatir. Aku nggak mencemaskan orang lain,” jelas Dantanu. 

“Jadi, momok kamu selama ini adalah Jenny K.?” 

Dantanu mengangguk, hingga Sierra menghela napas dalam dan panjang.

“Aku nggak tahu apa-apa soal kalian, jadi nggak perlu dipikirkan,” ujar Sierra setelah jeda yang cukup lama. Tangannya terkibas untuk menepis cekalan Dantanu. Gadis itu seolah meyakinkan Dantanu bahwa dia tidak berminat ikut campur atau mencari tahu apa pun berkenaan cerita Dantanu dan Jenny K. di masa lalu. Tekad Sierra saat itu hanya satu, yakni fokus pada masa depannya dan Dantanu pasti sudah tahu hal itu.

“Akan kujelaskan nanti, Ser.”

“Semua itu nggak akan mengubah apa pun, Nu. Pikirkan saja orang tua kamu kalau Jenny K. melapor pada mereka.”

“Ser, kamu jangan bilang apa pun ke mereka soal ini, ya?” 

Sierra menatap Dantanu antara prihatin dan tidak percaya. Raksasa di hadapannya telah mengerucut menjadi sesosok kecil ego yang kini berada di ujung tanduk. Dantanu memang berutang banyak penjelasan padanya. Sierra tidak bisa menampik jika masalah ini sedikit banyak akan memengaruhi kepercayaan di antara mereka, sedangkan hal tersebut adalah dasar segalanya. Sierra tentu harus bisa menaruh kepercayaan pada orang yang dia ajak bekerja sama.

“Assalamu’alaikum.”

Tiba-tiba, ada suara bariton menyapa mereka. Faiza anak Rohis berserta dua orang siswi berkerudung muncul entah dari mana. Dua orang siswi tersebut bertatapan seolah berkirim isyarat di belakang sang ketua yang melemparkan senyum simpul pada Dantanu dan Sierra. 

Sejenak, Dantanu dan Sierra tidak menyadari kenapa sikap ketiga orang tersebut tampak kaku karena berpapasan dengan mereka. Lalu, Dantanu seketika ingat kalau salam dari Faiza tadi belum dijawab. Dantanu menjawabnya dengan terbata karena tidak terbiasa. Di rumah mereka jarang mengucapkan salam, kecuali jika ada tetangga seperti Pak RT atau ustaz lewat depan rumah. Sementara itu, Sierra hanya bergeming karena merasa tidak ada yang salah.

“Kalian kenapa berduaan di belakang sekolah?”

Ekspresi keduanya sontak mengeras karena mendapat pertanyaan yang sering dilontarkan oleh ibunya Dantanu. Mereka sungguh tidak menyangka bakal mendapat pertanyaan serupa di sekolah. Tidak ada badai, tidak ada hujan.

“Oh, kami sedang berdiskusi,” jawab Dantanu lancar. Kefasihan lidah pemuda itu tampaknya telah kembali setelah sebelumnya dilumpuhkan oleh Jenny K. 

Sierra bergerak perlahan tepat ke belakang Dantanu. Dia bermaksud untuk bersembunyi di balik punggung kokoh pemuda tersebut. Memalukan sekali rasanya dicurigai tidak-tidak oleh orang selain keluarga Kusuma. Meskipun tidak termasuk kalangan siswi populer, Sierra belum  pernah menorehkan skandal sebelumnya. Dia merasa tidak pantas untuk disibukkan selain nilai mata pelajaran atau tenggat menulis Dantanu yang turut menyumbang pundi-pundi rupiah miliknya. Membuat masalah dengan Rohis jauh dari rencana darurat Sierra untuk bertahan bidup. 

“Kalian telah mendengar kabar miring tentang chat story yang tayang di mading minggu lalu?”

Dantanu dan Sierra tertegun tanpa berkedip di tempat masing-masing. Keduanya terlampau kaget sekaligus takjub. 

“Oh, soal tulisan yang kalian bahas dulu bersama Pak Maimun di depan kelas?” Sierra melongokkan kepala dari balik punggung Dantanu. Faiza tersenyum ramah pada gadis itu. Usia mereka semua sebaya, hingga Sierra merasa tidak perlu bersikap berlebihan di depan para pengurus Rohis.

“Betul.” Faiza mengangguk. “Apakah ada penjelasan yang belum kalian pahami?”

Pertanyaan itu lebih kentara bagai sindiran yang memerahkan kuping keduanya. Maka, Sierra pun memberanikan diri bertanya. “Maksud kalian, kampanye itu belum selesai? Kabar chat story sudah mereda, bukan?”

Lagi-lagi, Faiza tersenyum penuh makna, sedangkan dua siswi di belakangnya hanya menatap Sierra dan Dantanu kaku seperti sedang bertemu spesies berbeda. 

“Betul, tapi sudah kewajiban kita untuk tetap menjaga lingkungan sekolah kondusif. Salah satunya, ya, menaati peraturan yang berlaku.”

Lihat selengkapnya