Kecubung

Ravistara
Chapter #10

Sentuhan Midas

Sebagai perempuan, aku tidak menyangka jika ada perempuan yang tega menyakiti hati sesama perempuan demi meraih kesenangan pribadi. Apakah dia tidak berpikir bahwa di balik tawanya ada air mata perempuan lain? Apakah hatinya telah mati ketika berhasil menghancurkan keutuhan sebuah keluarga, lalu merebut ayah dari seorang anak gadis? Mungkin, perempuan itu tidak punya cinta hingga merampas milik orang lain untuk dimiliki. 

Bicara tentang moralitas, aku percaya bahwa norma sosial kadang bersikap kejam terhadap perempuan. Korban dari kalangan perempuan seringkali mendapat perlakuan tidak adil, bahkan sebuah pengakuan bisa menjadi bumerang untuk kami. Harapan untuk memperoleh keadilan bagai mimpi sia-sia yang terkubur di bawah suara dan opini sumbang. Maka, nilai-nilai keadilan dalam diriku pun marah tatkala mendengar kisah seorang perempuan yang sengaja membiarkan dirinya menjadi korban, entah demi alasan pasrah atau menikmati rasa sakit sebagai bagian dari kehidupan yang selayaknya dinikmati. 

Terlahir untuk disakiti dan sengaja menikmati rasa sakit tidak bisa disebut sebagai hidup! Ibuku pergi dari rumah ketika derita yang beliau tanggung sudah tak terperi. Dengan beruntai kata maaf, ibuku bilang bahwa dia tidak sanggup hidup satu atap dengan laki-laki yang kerap memperlakukannya secara buruk. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga verbal. Meskipun mencintaiku, ibuku bilang bahwa beliau tidak bisa membawaku serta. Tanpa kemapanan hidup dan kepastian langkah, beliau takut menyeretku dalam penderitaan baru bersamanya. Maka, aku ingat betul suasana mencekam malam itu. Ibu berkemas membawa satu koper berisi barang seadanya, lalu menciumku untuk terakhir kali hingga wajahku turut banjir oleh luapan air mata. Sayang, Ibu tidak tahu kesengsaraan yang merundungku sepeninggalnya. 

Lalu, aku mendengar cerita yang jauh lebih “ajaib” dari Tuan Raksasa. Dia bercerita bahwa pernah ada seorang perempuan yang memperlakukannya dengan tidak senonoh. Aku sontak kehilangan kata-kata saat mengetahui bahwa peristiwa itu menimpanya di usia belia, oleh perempuan yang sepantaran dengannya. Aku pernah melihat perempuan yang menyakiti sesama perempuan di sekitarku, bahkan terjadi pula pada diriku sendiri, tetapi perempuan itu sengaja menodai kehormatan dirinya demi kepuasan menaklukkan seorang laki-laki. Aku pun bertanya-tanya: apakah hal itu pantas untuk dilakukan? Kesenangan macam apa yang dia dapat dengan “mencicipi” banyak lelaki? Di kemudian hari, kami akhirnya tahu bahwa perempuan itu tak jua berhenti. Kepuasannya seakan tidak pernah terpenuhi.


“Nu, gimana?” Sierra memperlihatkan bagian yang dia tulis kepada Dantanu, lalu pemuda itu mengangguk puas. “Aku suka bagian di mana ibu si tokoh pergi. Bagian itu menyentuh.”

“Itu kisahku, Nu.” Sierra melayangkan tatapan pedih mendengar kata-kata Dantanu. Pemuda itu pun terkesiap insaf. 

“Oh, sorry. Kamu makin lihai saja mengeksplorasi karakter dan menuangkannya dalam narasi, Ser,” puji Dantanu sebagai permintaan maaf sekaligus pengalih perhatian. 

“Yah, aku punya mentor yang berdedikasi. Makasih, ya, Nu.”

“Terima kasih karena mentoring kamu atau untuk pujian tadi?”

“Sama saja. Kalau sudah menyangkut soal kenarsisan, senang banget kamu panjang-panjangin kayak serial, ya?” Sierra mencibir, hingga Dantanu terkekeh. 

Keduanya langsung terdiam saat mendengar bunyi deham di belakang. Om Hendaya memperhatikan mereka dari balik pintu yang terbuka. Belakangan, mereka memang tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk berdiskusi karena kedua orang tua Dantanu tahu putra mereka membantu Sierra selama gadis itu berkutat dalam dunia fiksi. Sementara itu, Dantanu berpura-pura sibuk mencatat di buku tulis seolah sedang mengerjakan PR, padahal sebetulnya pemuda membuat oret-oretan sebelum dipindah ke gawai. Mereka akan bergiliran mengetik di laptop–seringnya Sierra karena gadis itu juga kebagian tugas memperbaiki kesalahan ketik dan merapikan paragraf yang telah ditulis oleh Dantanu. Jika Dantanu sedang memegang laptop, maka Sierra akan menggunakan fungsi pengubah suara menjadi tulisan di gawainya. Mereka menggunakan semua media yang ada untuk mengejar ritme menulis bersama.

Om Hendaya hanya berdiri tanpa bicara apa-apa, tetapi tatapannya seolah memberi mereka berdua peringatan keras. Sierra mungkin tidak memahami rasa takut Dantanu setiap kali menghadapi pengekangan ayahnya, tetapi pemuda itu tetap menulis sampai sekarang. Pasti Dantanu telah diuji dengan begitu banyak tekanan sekaligus kesabaran untuk tetap bertahan. Sierra tidak sekuat itu, dia memilih untuk pergi demi kebebasan. Maka, Sierra pun berusaha memerankan posisinya dengan baik sebagai topeng penyamaran Dantanu, hingga Om Hendaya merasa bosan sendiri mengawasi mereka. 

Dantanu dan Sierra bernapas lega ketika lelaki itu memunggungi mereka lantas beranjak menjauh dari pintu. Sierra merasa agak kasihan pada Dantanu yang langsung mengelap keringat di keningnya lantaran frustrasi.

“Suatu hari, aku akan pergi dari rumah ini, Ser.” Dantanu berujar lebih dulu sebelum Sierra berpikir lebih jauh tentang kemungkinan terburuk dari situasi yang mereka hadapi. 

“Tentu saja. Mau tidak mau, kamu harus pergi, ‘kan, menyusul Kak Sadana. Menikah. Masa seumur hidup kamu menempeli orang tua kamu dan memboyong anak istrimu ke rumah ini?” sindir Sierra kembali menurunkan pandangannya pada laptop. Dia tahu saja Dantanu balas menatapnya tajam seusai berkata demikian. Mata jeli sang raksasa serupa panah beracun yang mematikan. 

“Aku nggak yakin bakal menikah,” ujar Dantanu anehnya kedengaran pasrah.

“Kenapa? Trauma gara-gara pelecehan dari Jenny K.? Nggak semua cewek kayak dia, Nu.”

“Aku pernah bilang, ‘kan, gadis perawan adalah keajaiban dunia nomor sembilan?”

“Astaga, Nu. Kamu masih punya pikiran begitu?” Sierra berhenti dari pekerjaannya. Komentar konyol Dantanu benar-benar merusak konsentrasi hingga semua kata berhamburan tak tentu arah dari kepalanya. 

“Itu hanya lapisan luar, Ser.”

“Maksud kamu?” Sierra berpikir jika Dantanu sedang menarik ulur obrolan mereka ke arah topik yang lebih dalam.

“Nyatanya, aku ragu jika ada cewek yang bisa mengerti aku apa adanya. Kamu lihat sendiri, ‘kan, betapa luntang-lantungnya hidupku tanpa kepastian masa depan. Bagaimana aku bisa membahagiakan istriku nanti?”

Sorry, Nu. Kamu bertanya pada orang yang salah,” jawab Sierra seolah menyadari kekurangannya sendiri. Sierra bahkan tidak yakin jika dia bisa menaruh kepercayaan pada makhluk bernama lelaki setelah kehilangan rasa aman dari figur seorang ayah. Sierra takut jatuh cinta. Tatapan Sierra menerawang sehingga Dantanu merasakan keganjilan sikapnya.

“Nu, dari diskusi kita kali ini, aku kepikiran elemen romansa yang kurang dalam cerita kita,” ujarnya. Dantanu seketika tertegun, lalu merenung memikirkan pendapat Sierra. 

“Iya juga, sih. Karena terbiasa menulis fantasi, aku jadi terbiasa mengabaikan elemen ini. Kisah percintaan yang kita garap juga nggak kental romansanya.” Dantanu membenarkan. 

“Atau … karena kita miskin pengalaman dan nggak pernah merasakannya, jadi berpengaruh juga ke tulisan kita, ya?” keluh Sierra putus asa akan kehidupan romansanya yang jauh dari jangkauan. Dantanu lekas menyadarkan gadis itu dari ancaman frustrasi yang sekonyong-konyong mendera. Dia menggulung buku hingga membentuk sebuah corong, lalu berbicara tepat di kuping Sierra.

“Sebuah karya nggak mencerminkan sisi pribadi penulisnya, Ser.”

Lihat selengkapnya