Kecubung

Ravistara
Chapter #11

Kecubung

Sierra bermimpi aneh tadi malam. Dantanu menggendongnya ke kamar, lantas pemuda itu menunggui di sisi ranjang hingga turut tertidur pulas. Tahu-tahu, Sierra terbangun akibat kepanasan berkemul selimut. Mentari belum terbit dari balik kaca jendela yang hanya dipasangi tirai tipis. Sierra tidak ingat sama sekali kapan dia jatuh pingsan. Gadis itu pun buru-buru bangun lantas bersiap berangkat sekolah. 

Saat menuju kamar mandi, dia harus melewati dapur lebih dulu. Di sana, Sierra melihat Tante Dania sedang asyik berkutat dengan dandang nasi. Perempuan itu memang bangun paling awal di antara mereka semua dan memastikan segala sesuatu berjalan lancar di kediaman Kusuma. Meskipun cerewet dan punya masalah pengendalian amarah, Tante Dania termasuk ibu rumah tangga luar biasa di mata Sierra. Butuh kehilangan seorang ibu agar Sierra menghargai sosok Tante Dania sebagai pengganti, meskipun perempuan itu mungkin tidak berpikir serupa. Di mata Tante Dania, Sierra tak lebih dari mesin uang.

Karena itulah, ada satu pertanyaan yang turut menggantung dalam lemari ketika Sierra sedang berganti seragam. Seandainya dia bukan Sierra yang dikenal saat ini oleh Tante Dania, apakah perempuan itu akan tetap menerimanya dengan senang hati di rumah kediaman mereka? Maka, Sierra pun bertekad bahwa dia tidak boleh gagal memerankan posisi Kecubung. Bayang-bayang kekalahan tak letih bergerumbul di benaknya bagai semak liar. Untuk memperoleh cinta keluarga ini, dia harus menjadi Sierra versi raksasa.

“Hai, Ser.” Ada hal yang tidak biasa ketika Dantanu berdiri di depan pintu kamarnya untuk menyapa. Seragam pemuda itu belum dikancingkan dengan sempurna dan ujung rambutnya masih berlekatan karena basah. Sierra membuka pintu karena baru saja selesai berganti seragam dan berniat sarapan di dapur. 

“Ada apa, Nu?” tanya Sierra bingung dengan keramahan Dantanu yang dia rasa agak berlebihan pagi itu. Dantanu bahkan menghalangi jalan keluar. Sierra tidak ingin menyinggung bahwa sisa-sisa kekacauan usai bergadang larut malam tadi bisa terlihat dalam penampilan Dantanu. “Kamu cukup tidur, ‘kan?” selidik Sierra ragu.

“Nggak juga. Setelah kamu menyerah, aku melanjutkan tulisan kita hingga mencapai setengah babak kedua.”

Bola mata Sierra pun melebar. “Kamu nggak tidur semalaman?” Kecurigaannya sungguh beralasan jika melihat mata cekung dan kulit Dantanu yang tidak segar lantaran terkena dehidrasi ringan. Dantanu malah menyeringai penuh misteri.

“Datangnya ilham tiba-tiba dan nggak bisa ditunda, Ser. Aku sudah menggali potensi romansa yang mungkin terjadi pada tokoh kita,” tutur Dantanu seraya berbisik, tetapi seolah meledak dalam binar matanya yang cemerlang. Sierra kadang tidak paham dari mana daya imajinasi Dantanu berasal. Pemuda itu seolah tidak pernah kehabisan ide yang mampu menyelamatkan cerita dari kebuntuan. Sementara dia, masih disibukkan dengan pertanyaan tentang mimpi tadi malam.

“Nanti aku kasih salinan datanya ke kamu, ya. Kamu nggak usah revisi dulu, cukup sebagai beta reader.”

“Kamu minta aku membacanya di sekolah? Kalau ketahuan Jenny K., gimana? Ingat kejadian waktu dia merebut HP aku?” Sierra geleng-geleng kepala mendengar permintaan Dantanu yang mengandung risiko tinggi. Salah-salah, gawainya bakal disita jika ketahuan digunakan saat jam pelajaran.

“Katanya, hari ini kelas IPA bakal ada latihan ujian daring. Kamu bisa curi-curi waktu di situ,” usul Dantanu, tidak mengindahkan keberatan Sierra sama sekali.

“Astaga, Nu. Harus banget, ya?” Sierra langsung kelabakan mencari gawainya yang tercecer entah di mana. Baterainya bahkan belum terisi sejak kemarin. Sierra merutuk kelalaian yang mengawali hari itu. Dia terlalu fokus menulis hingga lupa. 

“Aku tunggu sarapan, ya, Ser. Kita berangkat bareng sambil diskusi di jalan.”

Sierra sedang mencari gawai di antara tumpukan barang berserakan di meja belajar, lalu melongok ke arah Dantanu, tetapi pemuda itu sudah tidak ada. Kekacauan hari itu di luar antisipasinya. Jangan bilang kalau dia juga lupa mengerjakan PR kalkulus yang mesti dikumpul pada jam pelajaran kedua setelah Pendidikan Jasmani! Sierra pun bersumpah kalau dia tidak akan menuruti permintaan Dantanu lagi tanpa berpikir panjang karena dia juga tugas sekolah yang harus diselamatkan.

“Kamu yang menulis, tapi kenapa Dantanu yang kelihatannya paling banyak bergadang?” tanya Om Hendaya ketika Sierra telah bergabung bersama keluarga Kusuma di meja makan. Gadis itu pun gelagapan. “Mungkin, karena PR malam tadi susah, Om,” jawab Sierra datar, tetapi dengan lirikan penuh makna pada Dantanu. Sierra berharap Dantanu akan mengerti bahwa dia sedang dalam masalah. 

“Buru-buru amat kelihatannya kamu, Ser,” tegur Tante Dania karena Sierra makan dengan cepat dan berantakan hingga beberapa butir nasi jatuh ke luar piring. Sierra sedang terpojok, tetapi Dantanu bersikap masa bodoh. Tingkat kekesalan Sierra terhadap pemuda itu makin paripurna tatkala Dantanu tampak menikmati kunyahan dalam mulutnya dengan perlahan. Sementara itu, waktu Sierra makin menipis. 

“Aku sudah selesai, Tan,” tukas Sierra cepat ketika Tante Dania mendelik kesekian kali akibat melihat cara makannya yang seolah dikejar setan.

“Taruh saja, biar Tante yang cuci!” perintah Tante Dania cepat sebelum Sierra bermaksud membawa piringnya ke wastafel.

“Ya sudah, Sierra pamit dulu, Om, Tante!” Sehabis berkata demikian, Sierra tidak menunggu Dantanu menyelesaikan sarapannya. Dia bergegas keluar rumah. Namun, terdengar kegaduhan sebentar dari dalam ketika Sierra membuka selot pagar dengan bunyi berisik, lalu dia merasakan sentuhan di bahunya.

Lihat selengkapnya