Kecubung

Ravistara
Chapter #12

Ayah Berkaki Panjang

Dalam catatan sekolah Sierra, itu adalah momen pertama kali dia dipanggil ke ruang guru gara-gara melakukan pelanggaran saat jam pelajaran. Sierra tidak bermaksud demikian, dia terhipnotis oleh narasi mengalir Dantanu ketika mengisahkan tentang dirinya. Dantanu seolah sengaja membangun porsi khusus untuk perkembangan romansa dalam Kecubung yang dia nilai klise. Membangun kedekatan dengan sosok yang mendukung jalan kehidupan protagonis sudah banyak ditemui dalam kisah-kisah klasik, misalnya cerita tentang Ayah Berkaki Panjang. Dia berharap Dantanu punya penjelasan yang baik jika pendapatnya nanti diminta terkait perubahan tersebut. Namun, nyatanya, Sierra malah berakhir di ruang guru. Sierra diminta menunggu di sana selama jam pelajaran PAI berlangsung.

Ketika Pak Maimun muncul di ruangan tersebut, Sierra tahu bahwa kelas PAI baru saja berakhir. Namun, harapan Sierra agar balik ke kelas secepatnya dan memperoleh kembali gawainya harus pupus begitu saja. Pak Maimun memintanya bertahan sebentar untuk berbicara. 

Jam pelajaran keempat sudah dimulai, maka suasana ruangan terasa lengang. Hanya ada beberapa orang guru perempuan dan Pendidikan Jasmani yang tinggal, hingga Pak Maimun dan Sierra bisa mengobrol cukup leluasa tanpa hiruk-pikuk aktivitas di kantor. Namun, meja Pak Maimun berada di tengah-tengah ruangan, hingga Sierra bisa merasakan bahwa beberapa pasang mata sedang mengamati mereka dengan tatap penuh penasaran. 

“Sierra,” panggil Pak Maimun, meminta perhatian gadis itu untuk berhenti menengok kanan dan kiri dengan gelisah. Fokus Sierra pun kembali kepada sosok guru laki-laki berperawakan sedang di seberang meja. Tatapannya lalu tertunduk segan lantaran berhadapan dengan sosok berwibawa seperti Pak Maimun. 

“Bisa kamu jelaskan apa yang tertulis dalam fail ini hingga kamu tidak fokus belajar?” tanya Pak Maimun seraya memperlihatkan kotak berkas berisi dokumen berbentuk PDF di layar gawai Sierra. Benda itu masih dikuasai oleh Pak Maimun. 

Sierra menyesal, mengapa dia bisa begitu ceroboh tidak mendengarkan pengumuman tentang pengunduran jadwal latihan ujian daring, hingga kebablasan. Sierra pun tidak punya jawaban yang tepat atas pertanyaan gurunya tadi. Bibirnya terkunci rapat menyimpan rasa bersalah.

Akibat tak kunjung mendapat respons, Pak Maimun mencoba melakukan pendekatan yang lebih hati-hati. Katanya pada Sierra yang tidak berani bertentangan pandang dengannya, “Bapak tidak bermaksud mencampuri urusan kamu, jika ini ada kaitannya dengan masalah pribadi. Tapi, isi fail ini amat meresahkan karena sedikit banyak mengingatkan Bapak pada kasus chat story yang sempat membuat gaduh kemarin. Apakah ini hasil karya kamu, Sierra?”

Wajah Sierra langsung terangkat dengan bola mata melebar gelisah. Namun, gadis itu lagi-lagi menunduk setelah riak keterkejutan barusan. Sierra bergeming karena dia betul-betul tidak tahu harus bereaksi bagaimana. 

“Tapi, kalau ini bukan punya kamu, boleh Bapak tahu kamu memperoleh fail ini dari mana?”

Sierra meneguk ludah susah payah. Dia tidak mungkin membocorkan fakta bahwa Dantanu adalah penulisnya. Pak Maimun pasti mencurigai keterkaitan antara berkas yang Sierra baca dengan chat story karena punya kesamaan narasi yang mendasar. Ciri khas Dantanu. 

“Pak, kalau saya jujur berkas itu adalah tulisan pribadi saya, apakah saya akan dilepaskan?” tanya Sierra cemas. Senyum Pak Maimun tersungging lebar mendengarnya. 

“Bukan kapasitas saya untuk menghukum kamu. Kebetulan saja kamu tertangkap tangan membaca berkas ini saat mata pelajaran yang saya ampu. Tapi, sudah kewajiban saya membantu kalau ada siswa atau siswi dalam masalah. Bapak ingin bertanya satu hal sama kamu,” Pak Maimun berhenti sebentar untuk menghela napas dan lanjutan kalimatnya ditanyakan dengan suara lebih rendah, amat berhati-hati bagai takut mengusik sarang lebah, “apakah kamu punya masalah dengan ayah kamu di rumah?” 

Sama seperti kasus sebelumnya, Sierra kembali bisu dicecar seperti itu oleh sang guru, apalagi pertanyaan tadi amat sensitif. Bibir gadis itu terkunci. Namun, dari cara Sierra menatap barang-barang di atas meja dan dari kedua tangannya yang bertopang kaku seraya mencengkeram pinggiran kursi, kentara sekali jika gadis itu sedang dalam kondisi cemas luar biasa. Ekspresi Sierra bagai terpidana mati yang sedang menunggu waktu eksekusi. Pak Maimun tidak menutup mata menyadari kejanggalan tersebut.

“Bapak ingin bicara dengan ayah kamu.” Ucapan Pak Maimun mengguncang dunia Sierra. Dia seakan terkena gempa sekian magnitudo.

“Jangan, Pak! Papa saya nggak boleh tahu kalau saya ada masalah di sekolah.” Sierra memohon. 

“Kamu punya alasan khusus?” Pak Maimun bertanya secara spesifik. Dia semakin merasa heran karena masalah sang siswi malah dijawab dengan masalah. Kecurigaannya memiliki landasan kuat. 

“Saya memang punya masalah pribadi, tapi saya mohon, jangan sampai saya terlibat masalah lebih jauh dengan papa saya gara-gara ini. Papa saya bukan tipe demokratis.” Napas Sierra menjadi berat. Punggungnya menempel erat pada sandaran kursi. Andaikata bisa, Sierra ingin melebur bersama kursi tersebut agar sosoknya tersembunyi dari kerumitan yang sedang mengepung dari segala penjuru.

“Baiklah, jika begitu. Tapi, Bapak punya pesan sama kamu. Kesalahan hari ini, tolong jangan diulangi lagi. Kalau memang butuh sesuatu, ada Bapak dan Ibu Aminah yang bisa kamu ajak bicara. Dan juga, jika kamu punya masalah, jangan segan untuk minta bantuan pada orang dewasa. Masalah pribadi juga harus kamu simpan rapi-rapi, jaga dengan baik, jangan sampai diumbar kepada orang banyak. Bayangkan saja, bagaimana kalau catatan pribadi kamu ini dibaca oleh orang tidak bertanggung jawab, lalu tersebar ke dunia maya? Zaman sekarang, menjual aib itu lebih gampang daripada mengambil nasihat. Pertimbangkan baik buruk dan segala risiko tiap kali kamu berkegiatan literasi, ya? Jadikan kasus chat story kemarin pelajaran kalau hoaks yang dianggap kecil juga bisa merusak orang-orang di sekitar. Ujung-ujungnya fitnah. Dosa besar.”

Napas Sierra tertahan. Dia lebih tidak ingin punya urusan dengan Ibu Aminah, guru BK yang lebih galak daripada naga jika sudah mengamuk. Sierra segera mengangguk mengiakan, khawatir jika Pak Maimun berubah pikiran untuk melemparkan kasusnya pada perempuan itu. Lagi pula, Sierra tidak pernah punya catatan merah sebelumnya di buku rapor sekolah. Wejangan terakhir Pak Maimun pun sungguh mengusik hati. Dia tidak menyangka jika konsekuensi perbuatannya dan Dantanu punya dampak yang tidak main-main.

Alhasil, Sierra melangkah lunglai setelah Pak Maimun menyuruhnya kembali ke kelas. Tangannya gemetar, hampir-hampir tidak mampu memegang gawai yang seakan panas membara karena dipaksa bekerja terus-menerus. Benda itu kemudian bergetar. Saat ingin memeriksa pesan masuk, gawainya malah mati kehabisan baterai. Namun, Sierra justru menghela napas lega karena bisa terbebas sesaat dari teror benda tersebut. 

Bagaimanapun juga, Sierra bersyukur. Pak Maimun tidak berniat sungguh-sungguh menghadirkan ayahnya ke sekolah. Aria tidak pernah sekalipun menaruh perhatian pada urusan sekolahnya. Dulu, Sierra pernah belajar mati-matian, berusaha untuk menjadi sosok putri terbaik yang bisa ayahnya banggakan. Namun, apa balasannya? Percuma saja Sierra berjuang meraih prestasi akademik bila akhirnya hanya dipandang sebelah mata. Tidak ada hal luar biasa dari Sierra yang sepertinya mampu memuaskan sang ayah. Nol besar.

Di mata Sierra, ikatan mereka penuh oleh luka. Darah Aria memang mengalir dalam dirinya. Namun, lelaki yang pernah membanting tulang demi hidup mereka dulu, kini merombak ulang kehidupannya sendiri. Persamaan Sierra dan Aria hanyalah daratan tempat berpijak; daratan yang kian berjarak setelah Sierra memilih untuk pergi meminta suaka di kediaman keluarga milik Dantanu. Maka, Sierra tentu tidak mungkin menyerahkan Dantanu pada Pak Maimun, apalagi Ibu Aminah. Sosok sang pendukung sekaligus mentor tersebut adalah satu-satunya orang yang mengetahui kepedihan Sierra. Mereka harus saling melindungi.

Lihat selengkapnya