Gadis itu sadar bahwa ada jarak yang mustahil untuk diseberangi antara ia dan si pemuda. Namun, jarak tersebut tidak mampu menyamarkan perasaan si pemuda terhadapnya. Meskipun disampaikan lewat kata-kata yang ketus, terasa kentara jika pemuda itu menaruh perhatian yang tidak biasa terhadapnya. Si pemuda yang kerap beredar di tempat yang sama dengan si gadis, terlampau sempurna untuk dikatakan sebagai kebetulan. Seolah-olah pemuda itu sedang mengawasi dan memastikan si gadis baik-baik saja.
Maka, salahkah jika gadis itu mulai menumbuhkan rasa baru di hatinya terhadap si pemuda? Pemuda istimewa dengan gambaran mewakili kesempurnaan yang melekat pada tokoh fiksi romansa yang hanya bisa ia baca, Si pemuda mungkin tidak akan cocok dengan Tuan Raksasa, tetapi pemuda itu bisa menyelamatkannya jika suatu hari hatinya dibuat patah oleh sang durjana.
Pemuda itu jelas berbeda dari ayahnya.
Sierra tahu jika tulisan Dantanu kali itu akan membuatnya menghela napas panjang seperti biasa. Dantanu benar-benar memasukkan Faiza sebagai ketertarikan cinta tokohnya dalam novel mereka. Novel dan nama Kecubung yang sebentar lagi akan diadopsi oleh penulis lain.
Sebagai “induk” Kecubung, dia masih patah memikirkan hal itu. Tampaknya, premis novel mereka terpenuhi karena Tuan Raksasa rupanya memang berniat mematahkan hatinya dengan menjual diri.
“Udah, jangan ditekuk begitu mukanya. Masa pacar Dantanu cemberut mulu kayak nenek sihir?” goda Dantanu berusaha memulihkan suasana hati Sierra yang masih acak adul pasca kesepakatan mereka. Tidak seorang pun dirugikan. Mereka dapat uang dengan jumlah di atas rata-rata, yang mana itu langka bagi penulis. Tidak semua penulis seberuntung mereka. Satu dua akun pun tidak masalah dijual demi cuan.
“Kalau Tante dengar omongan kamu tadi, aku bakal langsung diusir dari rumah kamu!” tukas Sierra sewot. Dantanu pun langsung mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk meredakan keresahan di hati Sierra. Dia melempar sebuah buku rekening ke atas pangkuan gadis itu.
“Sebelum marah-marah, cek itu dulu, deh.” Sebelah sudut bibir Dantanu tertarik hingga tercipta lesung pipit di sana. Sierra berpura-pura mengangkat alis saat membuka lembar demi lembar halaman rekening Dantanu yang hampir penuh. Semuanya adalah catatan transfer kurang satu digit yang Dantanu kumpulkan susah payah. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi dua digit. Meskipun sempat amblas, angkanya kini kembali bertambah mendekati uang yang hilang, sementara setengahnya telah berpindah ke rekening Sierra. Garis bibir dan ujung mata Sierra pun tertarik kencang.
“Sekarang, kamu punya cukup modal buat nyari ibu kamu,” desah Dantanu seraya duduk di sisi Sierra. Tubuh gadis itu ikut berayun terkena momentum gerakan Dantanu.
“Makasih, Nu. Aku nggak bisa bilang apa-apa selain makasih.”
“Ucapan terima kasih diterima. Apa, sih, yang enggak buat pacar Dantanu?”
“Oh, gitu, ya? Mau sampai kapan keterusannya, Nu? Kalau aku jadi pacar kamu, mestinya kamu memperlakukan aku seperti ratu, bukan kacung di balik nama Kecubung,” sindir Sierra kesal.
“Itu, sih, gampang. Mulai sekarang, kamu udah nggak perlu nulis di Kecubung lagi, Ser. Biar aku yang kerjakan, tinggal sedikit lagi.”
“Serius, Nu?” tanya Sierra antara takjub, senang, sekaligus kehilangan. Namun, bayangan tentang rencananya untuk mencari sang ibu semakin nyata di depan mata, hingga Sierra hanya terkekeh bahagia. Dantanu seolah turut merasakan kebahagiaan itu. Jemarinya mengusap-usap kepala Sierra sepenuh rasa.
“Mesra sekali kalian. Kapan jadian?” Tiba-tiba, Tante Dania muncul di balik pintu dan membuat panik mereka berdua. Perbuatan Dantanu langsung kena karma saat itu juga. Pemuda itu berusaha menampilkan ekspresi sewajar mungkin tatkala ditatap tajam oleh ibunya, sementara tangannya telah berpindah ke balik punggung untuk menyembunyikan buku rekening miliknya. Dia memberi isyarat kepada Sierra yang sigap menindih buku itu ke bawah bantal.
Setelah itu, beban seakan terangkat dari pundak Dantanu. Sambil berpura-pura meregangkan tubuh, Dantanu menyongsong ibunya dengan ceria.
“Bunda tahu dari mana? Kalau Dantanu sama Sierra, enggak perlu pacaran segala, Bun. Langsung dihalalkan aja. Kan sudah satu atap?”
Dantanu pun mengaduh lantaran dicubit bertubi-tubi oleh ibunya. Sierra pun geleng-geleng kepala karena tampaknya ada yang belum terbangun dari kehaluan pascaakusisi Kecubung.
***
Kecubung diakusisi dengan harga fantastis. Tante Dania tidak setakut dulu lagi mengenai kedekatan mereka. Dunia mulai berjalan seperti kemauan Dantanu dan Sierra, sehingga tidak ada lagi yang perlu mereka cemaskan saat berangkat sekolah sama-sama. Namun, sebuah sepeda motor kemudian melaju di sisi sepeda Dantanu dan membunyikan klakson nyaring. Dari balik kaca helm, terlihat wajah Faiza.
Sierra jadi merasa dia dikutuk oleh setiap kalimat dan plot yang disusun oleh Dantanu. Faiza selalu hadir dalam momen-momen canggung yang melibatkan keduanya, tetapi tanpa unsur romansa sama sekali. Faiza justru hadir untuk menangkap basah kebohongan mereka berdua.
“Assalamu'alaikum.” Kali itu, Dantanu menyapa terlebih dahulu. Dia melambaikan tangan dengan ceria ke arah Faiza.
“Sorry, kami duluan, ya. Buru-buru mengejar pacar ketinggalan kereta.”
Sierra memutar bola mata karena Dantanu berani menabuh genderang perang tepat di depan hidung Faiza. Namun, sia-sia saja Dantanu berucap demikian karena laju maksimal sepedanya kalah dengan kecepatan motor bebek milik Faiza.
“Ser, katanya kalau ada orang berduaan, ketiganya adalah setan.” Dantanu berteriak kencang pada Sierra di belakang, sengaja bermaksud menyindir Faiza yang membayangi mereka dengan setia. Reaksi Faiza sungguh normal, dia segera menoleh ke arah mereka berdua sambil geleng-geleng kepala. Sierra makin merasa tidak nyaman, maka dia menangkup kedua tangan sebagai tanda meminta maaf.
Untunglah, Faiza akhirnya mengalah dengan berhenti membayangi sepeda Dantanu. Dia memacu sepeda motor lebih kencang dan meninggalkan mereka. Dantanu pun tertawa penuh kemenangan. Namun, dia kemudian mengaduh karena Sierra menghujani punggungnya dengan cubitan bertubi-tubi.
“Kamu gegar otak, Nu? Ketua Rohis kamu tantangin juga?” cerca Sierra ngeri.
“Faiza juga manusia, sama kayak kita, Ser. Kenapa mesti takut?” ujar Dantanu santai.
“Ya, tapi, 'kan …. aku takut bikin masalah, Nu. Kemarin aku udah dipanggil sama Pak Maimun. Kalau kena masalah pula sama Faiza ….”