“Aku nggak menyangka si nenek sihir bisa bicara sejahat itu sama kamu. Ah, nggak heran, sih, namanya juga nenek sihir!” Dantanu terus mendumal di sisi Sierra. Gadis itu kini telah berhasil diajak pulang, lalu ditenangkan–kali ini di kamar Sierra sendiri. Tante Dania turut mendengarkan cerita Sierra dengan prihatin. Dantanu sempat berbisik kalau suasananya hati ibunya sedang berada di puncak dunia tertinggi karena Dantanu telah memberikan bagian uang yang dia peroleh untuk melunasi utang ayahnya terlebih dulu. Alhasil, Tante Dania seolah memperoleh energi berlipat-lipat untuk berbagi perhatian kepadanya. Perempuan itu bolak-balik menanyakan keinginan Sierra kalau-kalau dia membutuhkan sesuatu, tetapi Sierra hanya berterima kasih. Dia sedang tidak berminat memasukkan apa-apa ke dalam perutnya yang sedang bergolak mual atau dia akan muntah.
“Ser,” panggil Dantanu dalam bisikan tajam. “Kamu nggak bakal mendengar kata-kata si nenek sihir, ‘kan? Nggak usah memikirkan orang yang enggak memikirkan kita, Ser. Boro-boro … kamu jadi sakit gara-gara siapa, dia juga enggak peduli sama kamu.”
“Aku bukannya kepingin mikir ini terus, tapi aku kepikiran kata-kata Tante Meg yang menuduh aku ngenalin teman dari sekolah. Maksudnya apa, Nu? Kenapa Tante Meg jadi marah banget sama aku gara-gara itu?”
Dantanu sejenak terdiam mendengar isi hati Sierra. Matanya menyorot gelisah memikirkan, sedangkan Sierra menatapnya penuh harap untuk memperoleh jawaban.
“Si nenek sihir bilang begitu? Serius?”
Sierra mengangguk. Napas panjang pun terembus dari mulut Dantanu. Dia menyeka pelipisnya yang sama sekali tidak berkeringat seakan serbasalah karena Sierra sepertinya belum memahami maksud perkataan tersebut atau Sierra memang tidak bisa membayangkan hal seperti itu bisa terjadi pada ayahnya.
“Nggak usah dipikirin, Ser. Bukan apa-apa. Si nenek sihir pasti sudah kehabisan cacian makanya omongannya jadi terlampau kreatif menyerempet ke mana-mana.”
Saat itu, Dantanu memilih untuk melindungi perasaan Sierra. Lebih baik Sierra tidak memikirkan sesuatu yang mungkin hanya akan membuat dia terluka.
“Kamu yakin nggak mau makan apa-apa? Bunda hari ini masak enak loh,” bujuk Dantanu agar Sierra kembali fokus untuk menjaga kesehatannya. Sierra pun tersenyum bahagia menerima kebaikan pemuda itu. Di balik kepedasan mulutnya yang kini sudah berkurang, Dantanu menyimpan kepekaan yang tinggi terhadap orang-orang teraniaya seperti dirinya. Sumber riset cerita kehidupan dramatis berjalan mungkin adalah aset berharga di mata si raksasa, pikir Sierra. Tidak heran jika Dantanu selalu siap sedia menjaganya dengan sepenuh hati, lebih-lebih kini dia telah naik pangkat menjadi ajudan tetap, alias rekan kolaborasi mantan Kecubung–Sierra belum punya usul untuk nama pena baru mereka. Sierra sudah berada di Neverland, adakah hal lebih baik yang dia harapkan dari ini?
Akan tetapi, naungan keteduhan di kediaman Kusuma ternyata tidak mampu membentengi Sierra dengan rasa aman dari datangnya angin pembawa pesan badai yang dikirim dari suatu tempat. Beberapa hari kemudian, sekolah mereka heboh dengan sebuah hoaks yang bersumber dari sebuah artikel bersambung di sebuah platform menulis. Dantanu dan Sierra langsung mendapat sambaran kilat yang dilontarkan oleh akun dengan nama Kecubung. Nama yang telah mereka serahkan kepada Belinda, asisten seorang penulis misterius yang seharusnya mengikutkan naskah tersebut ke lomba menulis tingkat internasional. Namun, naskah tersebut kemudian malah disebar di jagat maya sebagai cerita drama recehan yang menggemparkan dan mengundang beragam spekulasi dalam waktu singkat. Celakanya, beberapa nama tokoh asli sengaja dibocorkan dalam cerita.
Sierra duduk diam di bangku tanpa seorang pun sadar dia sedang ketakutan, tatkala mendengar badai itu berembus mendatanginya. Mikochan dan kawan-kawan sedang merapat di bangku Chandra karena mereka sepertinya tidak sabar menunggu waktu lebih lama untuk membahas hoaks tersebut.
“Inisial sekolah yang disebut cerita ini bener, nggak, sekolah kita?” Tyas menginterogasi kedua temannya seolah mereka adalah orang paling bertanggung jawab, meskipun Miko dan Chandra tidak tahu apa-apa. Kontan keduanya mengedik.
“Aku baru tahu kalau … maksudku, ada siswi sekolah ini yang ternyata kabur dari rumah, lalu tinggal di rumah anak dari kelasku. Tapi, dari inisialnya, D.K. ini sepertinya Dantanu Kusuma.” Tyas seakan berbisik ketika menyebut nama Dantanu. Namun, bisikan-bisikan itu seperti anak panah yang menyasar tepat kepada Sierra. Dia bisa merasakan efek mematikan tersebut ketika Mikochan dan kawan-kawan berbalik perlahan memandanginya. Kulit wajah Sierra panas bagai dipanggang bara. Jika nama Dantanu terkuak, maka akibatnya akan terkait langsung dengan Sierra karena Mikochan dan kawan-kawan sudah mengetahui hubungan mereka berdua.
“Gimana kalau kita tanya saja? Mereka pacaran, tetapi bukan berarti tinggal serumah, ‘kan? Fakta itu cringe sekali.” Chandra pun kehilangan prinsipnya untuk hemat bicara. Sementara itu, Miko mendengkus keras. Kentara sekali jika dia benar-benar kesal lantaran kembali diingatkan sempat membela Sierra. Bagaimanapun juga, gadis itu pernah jadi incarannya.
Akan tetapi, sebelum ketiga angggota grup literasi bergerak dari bangku Chandra, Sierra lebih dulu merangsek ke depan. Dia kabur melewati mereka bertiga, lalu menjauh dari kelas dengan tergesa-gesa, walaupun jam pelajaran pertama sudah hampir dimulai.
Sierra langsung berlari menuju kelas sebelah. Dantanu. Namun, sepasang mata Sierra membulat sempurna ketika menyaksikan kondisi yang lebih parah terjadi di sana. Meja Dantanu sudah dipenuhi orang-orang yang kelaparan akan fakta berita. Sierra tidak mungkin menerobos ke dalam begitu saja atau pertanyaan mereka semua akan terjawab seketika. Selama Dantanu dan grup literasi tidak berbicara apa pun, namanya masih aman tersembunyi dari peredaran. Sierra pun harus bersabar untuk tidak menghubungi Dantanu di saat genting. Dia harus memikirkan tempat aman yang lain.
Kemudian, dia berbelok, lantas menabrak Faiza. Keduanya sama-sama terkejut. Sierra yakin kalau dia tidak bermaksud menghalangi jalan pemuda itu, tetapi Faiza-lah yang sengaja berjalan lurus ke arahnya. Dia pun mendengar Faiza beristigfar berulang kali, lalu pemuda itu segera menyampaikan niatnya tanpa basa basi.
“Ke ruang guru sekarang juga, Sierra. Kamu ditunggu Pak Maimun.”
Maka, Sierra tidak punya pilihan selain melangkah di belakang Faiza. Mereka berjalan cepat dengan langsung menyeberangi lapangan karena di koridor masih banyak siswa sedang asyik mengobrol dan beraktivitas. Semoga saja hoaks yang Sierra dengar pagi itu baru beredar di dua kelas, harapnya sepenuh hati.