Kecubung

Ravistara
Chapter #16

Soleram

Soleram, sol, soleram.

Soleram anak yang manis.

Anak manis janganlah dicium, Sayang.

Kalau dicium, merahlah pipinya.


Waktu kecil, Sierra sering mendengar ibunya menyanyikan lagu tersebut jika dia sedang rewel karena keinginannya tidak terkabul. Sefira mendidiknya dengan keras agar tidak tumbuh menjadi gadis penuntut. Ibunya punya kekhawatiran jika Sierra akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh sesuatu yang berada di luar kewajaran dan kemampuan. 

Bukan tanpa sebab. Saat itu, Ariadinata tidak semapan sekarang. Lelaki berprofesi arsitek muda tersebut masih tersengal-sengal memenuhi kebutuhan keluarganya dengan menyambi sebagai pekerja lepas di proyek-proyek berskala kecil. Tidak ada perusahaan pengembang properti besar yang bersedia mempekerjakan arsitek tanpa SKA (Sertifikat Keahlian Kerja) karena Ariadinata belum mampu mengurusnya kala itu. 

Tragis memang, seorang arsitek berbakat, tetapi karyanya berada di bawah nama orang lain. Menyaksikan rekan-rekan seperjuangan yang sebenarnya tidak jauh lebih berkeahlian darinya berkembang lebih pesat dalam segala segi kehidupan, iman Ariadinata pun diuji saat bertemu Megantari. Putri direktur sebuah perusahaan bermodal besar yang masih lajang, tentu lebih menarik daripada Sefira yang hanya mendedikasikan cinta dan dirinya untuk keluarga. Akar-akar kesetiaan yang mempertahankan rumah tangga mereka lantas dimakan rayap, hingga  pernikahan tersebut tumbang di angka tujuh belas. 

Akar-akar tersebut memang telah lama rapuh karena Aria dan keluarganya memiliki hubungan yang jauh. Pasalnya, ada ketimpangan antara ego dan kebutuhan. Sierra yang tumbuh dengan kemajuan pesat ternyata bukan sebuah berkah bagi Aria, melainkan tuntutan yang lebih besar pula untuk menyekolahkan Sierra ke tempat bagus. Lalu, terjadi pertentangan besar ketika Sefira menolak wacana dari Aria untuk menjodohkan putri mereka dengan seorang pengusaha besar. Sefira tidak rela anak semata wayang mereka dinikahi sebagai istri kedua oleh laki-laki yang terkenal tidak bereputasi baik. Kawin cerai dan beranak pinak seperti kelinci. Namun, mata Aria saat itu telah buta oleh silau harta. 

Sebagaimana halnya sang ibu, Sierra tidak menyesal telah keluar dari rumah kediaman Ariadinata. Rumah itu tidak pernah menjadi masa depan, bahkan Neverland bagi mimpi-mimpi Sierra. Dia bakal mati pelan-pelan jika tetap nekat tinggal di situ. Maka, Sierra pun tidak punya alasan untuk pulang, bahkan sowan di hari lebaran. 

Sierra melewati gerbang kediaman Ariadinata dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Gerbang itu tidak terkunci. Setelah berkali-kali Sierra memencet bel seperti mainan, Megantari pun menyambut kedatangan gadis itu di depan rumah dengan wajah kecut.

“Mau apa kamu ke sini? Nggak boleh masuk kalau bukan buat bayar utang!” 

Sudah Sierra duga, Megantari pasti menolak keberadaannya di rumah walaupun saat itu dia sedang tidak membawa tas atau koper buat pindahan. Namun, bukan itu alasan sesungguhnya Megantari mengusir Sierra. Megantari tidak berbohong jikalau ayah Sierra sedang tidak di rumah. Aria tidak pulang-pulang sejak dua hari lalu. 

Lutut Sierra terasa lemas kala meninggalkan rumah besar Aria. Dia tidak tahu harus mencari sang ayah ke mana. Sudah lama Sierra tidak menghubungi nomor Aria, apalagi berbicara dengannya. Maka, Sierra kemudian tidak heran jika teleponnya tak kunjung diangkat meskipun nomor tersebut aktif. Sierra bahkan mengulangi berkali-kali, tetapi nihil. 

Sierra melangkah tanpa kepastian arah bagai mengidap ganggun mental, hingga tanpa sadar, dia telah berada di tepi jalan protokol. Sierra mulai merasakan kepayahan usai tubuhnya dikuasai oleh adrenalin. Dia perlu duduk sejenak untuk beristirahat di bawah sebuah pohon peneduh. Setelah itu, Sierra kembali meraih gawai. Dia memberanikan diri menghubungi sebuah nomor. 

Dalam beberapa kali dering, terdengar suara ‘halo’ di seberang. 

“Jen, di mana kamu?” tanya Sierra resah. Jenny K. sudah absen dari sekolah selama dua hari.

“Apa urusan kamu, Ser? Bukannya kamu sibuk pacaran sama Dantanu?”

“Aku tanya, kamu di mana!” Sierra meninggikan suara lantaran kesal. Andai Jenny K. ada di depan matanya sekarang, Sierra ingin mencakar-cakar wajah gadis itu seperti monster. 

Jenny K. malah tertawa riang dan kian mendidihkan darah Sierra. Sementara itu di sekitarnya, bayangan pohon peneduh turut bergoyang seirama desau angin bagai sedang mengejek dirinya. 

“Katakan, di mana papaku!”

Bentakan Sierra sesaat membungkam lisan Jenny K. di seberang. Sierra terdengar sedang tidak ingin bermain-main.

“Papaku ada di sana, ‘kan? Di malam Pensi, papaku sebenarnya mencari kamu, ‘kan?”

Jenny K. pun terkekeh mendengar rengekan Sierra. Emosi menggetarkan suaranya hingga terdengar miris. Bukannya kasihan, tawa Jenny K. justru semakin keras, puas karena sudah berhasil menjungkirbalikkan dunia Sierra hingga ke titik terendah. “Kamu baru tahu, ya? Kasihan …. Ckck.” Jenny K. pun mengejek tanpa perasaan. Sierra memohon di tengah sedu sedannya yang makin tak terperikan. 

Lihat selengkapnya