Pasca-interogasi, Sierra meminta untuk diberi kesempatan menenangkan diri lebih dulu di ruang BK. Untunglah, keinginannya dikabulkan. Sierra merasa kalah karena telah menepuk air di dulang, percikannya kini mengenai diri sendiri. Dia telah menyeret ayahnya sendiri ke dalam posisi bersalah. Dia tidak siap bertemu siapa pun hari itu. Lambat laun, skandal tersebut pasti akan terkuak juga ke seantero sekolah, bahkan ke luar, jika sekolah gagal meredamnya.
Akan tetapi, Sierra tidak menolak sama sekali ketika Pak Maimun mengajaknya berbicara dari hati ke hati–dengan ditemani Ibu Aminah, tentu saja, karena urusan dengan Jenny K. pun telah ditangani langsung oleh Kepala Sekolah.
“Saya malu, Pak. Saya nggak sanggup lagi datang ke sekolah,” keluh Sierra tanpa mengingkari kehancuran yang dia alami. Sierra tahu, tiada seorang pun yang akan mengerti posisinya saat itu, tetapi dia tidak kuat menanggung semuanya sendiri. Dia tetap butuh ditemani.
“Istigfar, Nak. Cobaan yang kamu hadapi pasti berat, tapi kamu jangan sampai berputus asa karena Allah tidak memberikan cobaan yang melebih kadar kesanggupan seseorang. Bapak yakin, insyaallah kamu bisa melewatinya.”
“Iya, Sierra. Kamu masih punya teman-teman yang bisa membantumu melewati semua ini.” Ibu Aminah turut membesarkan hatinya. Sierra menghargai dukungan mereka, sekalipun jika sifatnya cuma lip service karena Sierra tidak punya ‘teman-teman’. Sierra hanya punya Dantanu.
Maka, Sierra nyaris tidak percaya ketika seisi kelas telah menunggunya. Bukan sebagai pahlawan, tentu saja, karena mereka menatap Sierra penuh keprihatinan layaknya korban. Bahkan, ada Dantanu bersama mereka hingga Sierra tidak mampu lebih terkejut lagi.
Tyas adalah orang pertama yang mendekat dan berbicara pada Sierra. “Kami baru tahu kondisi kamu dari cerita Dantanu. Maaf, ya, sudah berprasangka buruk sama kamu. Kami turut prihatin sama kejadian yang kamu alami, Ser.”
Tanpa sungkan, Tyas lantas memeluk Sierra, begitu pula teman-teman perempuan yang lain. Sierra pun dilanda gejolak rasa luar biasa. Dia tidak menyangka jika kekuatan fiksi sedang bekerja dalam kisah hidupnya. Terlalu indah untuk menjadi kenyataan dan kedatangannya bagai mentari seusai badai. Di saat bersamaan, dia juga merasa buruk akan nasib Jenny K., sehingga lagi-lagi air mata Sierra tumpah kesekian kali. “Sorry,” katanya sangat menyesal. “Aku dan papaku sudah bikin kekacauan di sekolah ini, juga dengan Jenny.”
“Nggak apa-apa, Ser. Nggak apa-apa. Ini bukan salah kamu, tetapi pilihan mereka. Jenny K. menerima akibat perbuatannya sendiri, bukan gara-gara kamu.” Tyas menepuk punggung Sierra hingga Sierra menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Seluruh beban hidupnya bertahun-tahun seakan terangkat. Seajaib itulah kehadiran seorang teman. Hingga Faiza tiba-tiba masuk dan membawa kabar buruk. Sierra kembali dipanggil ke kantor kepsek, padahal baru saja gadis itu kembali dari sana.
***
“Jenny memberi laporan bahwa kamulah penulis chat story yang telah meresahkan satu sekolah,” jelas kepsek, sehingga Sierra mafhum kenapa dia dipanggil menghadap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jenny bersungguh-sungguh menyeretnya hancur bersama. Sierra pun tertunduk.
“Apa alasan kamu sengaja membuat hoaks tersebut?”
“Saya nggak punya alasan bagus, Pak,” aku Sierra jujur. “Waktu itu, saya hanya ingin–”
Astaga, Sierra baru sadar kalau dia hampir mengarahkan kecurigaan pihak sekolah pada kasus lama yang melibatkan Pak Indra. Kata-kata Sierra menggantung di udara. Dia panik luar biasa. Dalam sekali tembak interogasi, Sierra bukan hanya mengenai dua, tetapi tiga sasaran sekaligus. Apa yang harus dia lakukan? Pak Indra bahkan ada di ruangan tersebut bersama mereka karena Pak Indra yang dulu getol meredam kasus tersebut.
“Cuma sensasi dan pamer pada grup literasi, Pak.”
“Maksud kamu?” Kepala Sekolah mendelik tajam pada Sierra.
“Agar mereka bersedia mempertimbangkan saya masuk grup tanpa harus menunggu masa penerimaan anggota baru.”
Kepala Sekolah sampai melepas kacamata dan menggeleng takjub mendengar pengakuan Sierra. Pak Indra di samping beliau pun tampaknya juga menghela panjang. Itu pasti kelegaan pertama yang terpancar di wajah guru tampan idaman sekolah tersebut setelah mengetahui sepak terjang Jenny K. di belakang.
Sierra melirik sekilas pada Pak Indra hingga laki-laki itu salah tingkah. Sierra seolah mengancam dan memberi peringatan serius agar Pak Indra tidak mengulangi kesalahan sebelumnya. Rahasia lelaki itu kini berada di tangannya. Seolah paham, Pak Indra mengalihkan tatapan ke arah lain.