Jenny Kurnia alias Jenny K. a.k.a J.K., dikeluarkan dari sekolah sesuai keputusan kepsek. Tidak ada yang terkejut, Jenny K. memang layak menerima sanksi paling berat karena telah mencemarkan nama baik institusi.
Dantanu punya teori yang sama dengan Megantari terkait kasus Jenny K. Kabar terakhir, gadis itu dibawa orang tuanya menjalani terapi rehabilitasi untuk mengatasi gangguan mental yang dia idap, tetapi diagnosis pastinya ditutup rapat-rapat dari pengetahuan siapa pun.
Semenjak kasus chat story, tidak pernah sekalipun Pak Indra muncul di perpustakaan. Pak Indra mengundurkan diri setelah berganti Tahun Ajaran Baru. Alasannya, ingin pindah bekerja, tetapi hanya Sierra dan Dantanu yang tahu pasti sebabnya.
Sadana tidak bisa sering-sering kelayapan atau mencuri waktu kabur ke kediaman Kusuma karena si sulung kini tengah belajar menjadi seorang ayah sekaligus suami yang bertanggung jawab bagi keluarganya. Dantanu kerap memperingatkan sang kakak agar tidak menyia-nyiakan keluarga kecil mereka dengan belajar dari pengalaman berharga Sierra.
Meskipun kesal karena Dantanu sering menggunakan kisah hidupnya yang tragis untuk inspirasi, Sierra tidak bisa membencinya karena Dantanu tetap seseorang terbaik yang dia punya. Hubungan mereka lebih dalam daripada pertemanan, tetapi juga belum bisa dikatakan melampaui batasan. Untuk saat ini, ikatan filia dan platonik adalah pilihan terbaik. Bagi Sierra, Dantanu memang tidak tergantikan.
Pada akhirnya, Dantanu harus merelakan kepergiannya. Sierra masih setia pada premis awalnya, yakni kembali pada Sefira. Ibu kandungnya telah memmbuka babak kehidupan baru di kampung halaman. Sierra sampai kesulitan memejamkan mata di malam keberangkatan. Perasaannya bercampur aduk, nyaris tidak percaya karena dalam hitungan jam kemudian, bayang-bayang perempuan yang kerap singgah dalam impiannya bakal hadir secara nyata. Dia bahkan telah menyiapkan banyak cerita untuk ditumpahkan.
Akan tetapi, masih ada satu ganjalan sebelum impiannya terwujud, yakni menengok Aria. Ayahnya didakwa atas tindak asusila terhadap anak di bawah umur dan tidak ada penyangkalan apa pun dari Sierra atas kejahatan lelaki tersebut. Dia hanya mampu berdamai dengan realitas yang jauh dari kemewahan fiksi. Baginya, mengunjungi Aria bukan didorong oleh dasar bakti atau kewajiban, tetapi untuk mengurai simpul terakhir yang menghalangi kebahagiaan. Mengambil jarak dari sang ayah demi menyembuhkan luka batin adalah keputusan paling tepat.
Hati Sierra sedikit melunak manakala melihat tulang-tulang bertonjolan di wajah Aria. Kehidupan ayahnya di balik jeruji rupanya jauh lebih keras daripada setiap tamparan dan pukulan yang pernah dia terima. Sungguh miris, lelaki yang biasanya mengeluh harus menanggung nafkah keluarga tersebut, kini tidak perlu lagi memusingkan tetek-bengek berumah tangga karena semua perempuan dalam hidup Aria telah menyingkir lantaran jijik. Megantari bahkan tidak membiarkan ayah Sierra berpamitan dengan sang adik tiri. Nama Aria dihapus begitu saja.
“Sierra, maafkan Papa,” rengek Aria ketika menyadari bahwa dirinya mungkin akan menghilang dari pandangan lelaki itu selamanya. Berkali-kali sang ayah memohon padanya untuk tidak pergi. Berkali-kali pula Aria memohon maaf, tetapi sudah terlambat untuk diucapkan. Keputusan Sierra sudah bulat, rindunya pada sang ibu menggebu kencang dalam sanubari. Dan, waktu berkunjung sudah habis. Langkah Sierra kini terasa lebih ringan. Sebelum dia benar-benar menghilang dari pandangan, terbang ribuan kilometer jauhnya, lelaki itu memanggil.
“Sierra Malini.”