Tung... tung... tung...
Bunyi sutil besi yang beradu ritmis dengan wajan panas di depan kedai memecah udara, disusul suara desis air mendidih yang tak henti mengepul dari panci rebusan. Di meja nomor delapan, suara-suara itu seolah memantul pada tiga manusia yang hanya diam. Sudah lima belas menit berlalu, dan mangkuk-mangkuk di hadapan mereka masih tak tersentuh, membiarkan uap tipis dari kuah bakso perlahan menghilang.
Srak... srak... srak...
Di bawah kaki mereka, gesekan lidi sapu pelayan yang membersihkan debu lantai terdengar konsisten. Pelayan itu terus bergerak, melewati kaki-kaki yang kaku di meja nomor delapan tanpa tahu ada perang batin yang sedang berkecamuk di atasnya. Baginya, ini hanya siang biasa; ia baru saja mengantarkan pesanan bakmi pesanan laki-laki berkacamata yang kini kacanya mulai berembun karena uap, lalu kembali bekerja. Dunia terus berputar, pelayan itu terus menyapu, sementara waktu di meja nomor delapan seolah mati.