10 Tahun Lalu di Kedai Bakmi Keluarga
Seharusnya aku tidak pernah setuju untuk merayakan nilai A kami di sini. Padahal saat itu, Kedai Bakmi Keluarga adalah duniaku, tempat yang selalu menyuguhkan aroma bawang putih goreng dan uap kuah kaldu yang terasa hangat seperti pelukan Mama. Sore itu, kami merayakan nilai A kami dengan tawa yang lepas, tanpa aku tahu kalau itu adalah momen terakhir kalinya aroma bakmi terasa nikmat, sebelum semuanya berubah menjadi bau pengkhianatan yang menyesakkan sampai hari ini.
Hari itu, siang yang terik. Sinar matahari sukses membakar kepalaku. Kampus yang identik dengan air mancur tak cukup kuat untuk mengusir cuaca yang panas. Tapi rupanya itu tak mengurangi kegembiraanku dan teman-teman.
“Gue bilang juga apa, kalau ada Kinan nilai kelompok kita pasti bakal A. Untung ada Kinan nih di kelompok kita,” ujar Kiki dengan cengiran tengilnya.
“Kudu dirayain nih makan-makan dooong,” kata Baim sambil mengelus perutnya. “Laper nih.”
Dasar si Baim, yang dipikirin perut mulu. Tapi ya sudahlah, namanya merayakan keberhasilan, sekali-kali tak masalah buatku. Momen penting seperti ini kan harus dirayakan. Apalagi aku baru saja menerima transferan dari kerja part time sebagai barista di Kopi Ketje. Yah, hitung-hitung menyalurkan kecintaanku pada kopi.
“Nan, jadi bakal rayain di mana nih?” tanya Baim lagi.
“Gue traktir lo semua di Kedai Bakmi Keluarga. Bebas pesen apa aja mumpung gaji part time di Kopi Ketje baru turun,” jawabku dengan bangga.
“Horaaay!” sorak Baim dan Kiki berbarengan, membuatku geleng-geleng melihat kelakuan mereka.
Sambil berjalan, aku teringat ucapan Papa setiap aku ingin menghabiskan uang hasil kerja. “Kalau punya uang jangan lupa ditabung, Nan. Kamu kan udah capek kerja, masa gak ada hasil apa-apa.” Aku mengangguk dan berusaha kupenuhi. Setelah gaji turun, langsung aku transfer ke rekening tabungan yang sudah kubuat saat kelas 3 SMA.
Namun siang itu menjadi hari bersejarah. Saat seharusnya aku merayakan dengan gembira, malah menjadi mimpi buruk yang mengubah hidupku di masa depan.
Aku, Kiki, dan Baim turun dari mobil Kiki saat kami sampai di Kedai Bakmi Keluarga. Kami duduk di meja nomor 4, padahal tadinya gue ingin berada di nomor 8 namun saat itu meja yang kosong dan tersedia hanya itu. Suasana kedai memang sedang ramai, dipenuhi pengunjung, maklumlah ini jam makan siang.
Baim langsung merebut kertas menu dari pelayan dan memesan banyak menu untuk dirinya sendiri dan menu untuk dimakan bersama. Aku segera memesan bakmi hijau dengan sawi di mangkuk terpisah, untuk dimakan Kiki, temanku yang vegan, atau Baim, si pemakan segala. Mumpung tak ada Papa yang sering memaksaku makan sayur. Membayangkannya saja membuatku merinding. Aku memang tak pernah suka sayur. Baunya langur dan rasanya pahit.
Si Baim yang memang hobi makan—kurasa kalau sedang lapar, tiang rebus pun akan dia lahap—mulai usil dengan ketidaksukaanku pada sawi.
“Nan, kenapa sih lo gak suka sawi? Lo geli sama warnanya atau bentuknya? Perasaan biasa aja,” tanya Baim kepo.
“Bukan, gue benci baunya. Aneh, langur gitu bikin mual, tauk. Mana pahit,” jawabku sambil melakukan gerakan seperti orang ingin muntah.
“Ah, lebay lo. Mungkin lo waktu kecil gak dibiasain kali sama bokap nyokap,” balas Baim dengan nada mencibir lucu.
“Wahahahaha, Bokap gue hampir tiap saat maksa-maksa gue makan sayur. Sampai ada hari khusus buat gue masak sayur bareng Bokap biar katanya gue terbiasa dan akrab sama sayur. Buktinya? Sampe detik ini gue tetep benci sayur,” ujarku panjang lebar.
“Gue kebayang sih kalau seandainya ada Bokap lo di sini, mana bisa lo pesen bakmi tanpa sayur. Hahahaha,” tawa Baim keras-keras yang membuat semua orang menoleh ke meja kami.
Aku hanya mencibir ke arah Baim. Kiki yang pada dasarnya pendiam cuma tersenyum melihat perdebatan tak jelas itu.