Kedai Bakmi Keluarga

Chrystina Yohana Limas
Chapter #3

BAB 2: Sawi yang Kembali Beracun

2 Tahun Lalu: Kedai "Dapur Sehat" Sahabat Baikku

Aku berdiri mematung di ambang pintu kedai, menggenggam segenggam kertas yang kelak akan menuntunku pada masa paling kelam dalam hidupku. Napas yang tadi memburu akibat ketakutan mendadak terhenti saat mataku menangkap siluet di meja nomor delapan: Pria yang semalam masih mengecup keningku sambil berjanji soal masa depan, sedang menyuapkan sehelai sawi hijau ke mulut sahabat baikku dengan tatapan pemujaan yang memuakkan. Lidahku seketika mencecap rasa pahit yang luar biasa; sebuah racun yang sudah mereka racik di belakang hidungku yang terlalu sombong untuk mencium bau busuk pengkhianatan. 

Mataku menatap kembali sosok laki-laki itu dan sekelebatan perisiwa antara aku, si lelaki, dan sahabatku melintas kembali seperti video yang terputar di depan mata.

1 Tahun Sebelumnya: Food Court Kantor 

Seharusnya hari itu aku hanya menikmati bakmi ayam cincang dengan aroma bawang putih dan minyak wijen yang kuat. Walau jujur, lidahku diam-diam menghina; rasanya belum mampu menandingi racikan Kedai Bakmi Keluarga. Ah, setiap kali nama itu melintas, ada rasa sesak yang menghantui. Padahal aku tidak punya riwayat asma, tapi tempat itu menyisakan bongkahan batu bernama dendam yang kupelihara sejak kuliah.

Hari itu menjadi hari penyesalan karena aku mengizinkan hatiku yang masih bernanah—dan belakangan membatu akibat luka yang ditorehkan si pendosa yakni Papa—kembali menganga oleh seseorang yang kusebut Si Culas hingga detik ini.

“Hai, Kinan ya,” sapanya tiba-tiba.

Suaranya menginterupsi ritualku. Saat itu aku sedang sibuk membuang helaian sawi hijau ke atas tisu yang senantiasa kubawa ke mana-mana. Aku punya trust issue akut pada tisu food court kantor yang biasanya sudah nyaris habis dan kasar di jam makan siang, jadi aku selalu sedia amunisi sendiri. 

Aku mendongak sedikit, mengenali namanya, Peter, pada name tag yang tersemat di dadanya. Hmm, nama yang kebarat-baratan, pikirku sinis. Padahal mukanya keturunan asli Indonesia, nada suaranya pun medok orang Jawa. Sungguh aku tak ingin membawa urusan SARA, namun itu fakta visual yang kudapat tentangnya. Orang tuanya pun sepertinya tidak ada keturunan bule atau orang dari benua Eropa. Mungkin orang tuanya sedang sangat terinspirasi pada kisah Peterpan atau grup band yang sedang tren saat menamai anaknya. 

Aku menjawab sapaannya dengan memandangnya datar, sebuah poker face yang sempurna. Ini kebiasaanku sejak kisah pahit sepuluh tahun lalu; aku tak mudah ramah pada orang asing, apalagi yang tiba-tiba sok akrab menyapaku saat sedang makan. Tak pernah ada basa-basi, apalagi senyuman gratis. Aku hanya bisa bersikap baik dan ramah tentu saja pada kedua sahabatku sejak kuliah, Baim dan Kiki, yang belakangan menjadi bestie-ku sekaligus rekan se-divisi di kantor. 

“Kamu nggak suka sayur?” tanya Peter lagi. Dia masih berdiri di sana dengan senyum mautnya yang, kalau boleh jujur, terlihat sangat terlatih. 

Sekilas kubaca lagi identitasnya. Staff Marketing. Hmm, saat itu aku melihatnya hanya sebagai anak baru yang masih innocent, mungkin sedang berusaha mencari teman di lingkungan kantor yang kejam ini. Belakangan aku baru menyadari fakta pahit di balik setiap senyum ramah dan polesan polosnya itu. 

“Hah?” jawabku singkat sambil mengerutkan kening dan melempar senyum sinis yang tipis. Aku benar-benar bingung mengapa ada orang yang se-usil itu bertanya soal ketidaksukaanku pada sawi. Ah, seandainya ada Kiki atau Baim di sini, mereka pasti sudah mengoceh panjang lebar tentang pentingnya bergaul dan bersikap ramah, apalagi posisiku di divisi marketing yang menuntut networking

Bagiku, beramah-tamah yang berujung pada kesuksesan karier dan kenaikan sales itu PENTING, itu profesional namanya. Namun, jika yang kulakukan tidak ada untungnya buat apa? Buang-buang energi. Kecuali makhluk di depanku ini bisa memberi keuntungan nyata, boleh lah kupertimbangkan untuk sekadar menarik sudut bibirku sedikit.

“Itu sayur sawinya kok dibuang ke tisu. Jadi kupikir kamu nggak suka sayur,” katanya lagi, masih bertahan dengan senyum ramahnya. 

Jujur, tanganku sudah gatal ingin membereskan mangkuk dan meninggalkannya, tapi satu kalimat darinya mampu membuatku batal mengangkat pantat. Serasa ada lem baru yang menarikku duduk kembali ke kursi plastik food court yang keras itu. Kalimatnya membuatku memutuskan bersikap ramah dan untuk pertama kalinya aku berpikir ulang: ‘Mungkin tidak semua laki-laki sama brengseknya seperti Papaku’. 

Kalimatnya terdengar seperti oase yang menyejukkan hatiku yang serasa padang batu panas sepanjang tahun. 

“Gak suka sayur apalagi sawi wajar sih. Karena tekstur hijau biasanya jadi sasaran utama kebencian anak kecil. Rasanya yang cenderung pahit karena zat kimia alami di dalamnya, dan teksturnya yang cukup kasar tapi berlendir kalau terkena kuah panas... itu memang bikin mual,” ujar Peter dengan gaya bahasa yang mirip penjelasan ilmiah di jurnal-jurnal kesehatan.

Aku tertegun. Aku seperti teringat Mama. Mama selalu punya cara untuk menolerir sikapku karena dia tipe orang yang akan riset dulu sebelum menghakimiku. Termasuk saat aku menolak makan sayur. Kalimat Peter seolah memutar balik memori tentang Mama yang selalu punya cara elegan untuk mengakali lidahku yang rewel. Mama tak pernah berdebat denganku, apalagi membentak sampai menggebrak meja seperti Papa. Mama justru yang paling pertama mencari tahu kenapa anaknya sampai ingin muntah hanya karena melihat sehelai daun hijau di atas piring. 

"Gak apa-apa kalau gak mau makan sawinya langsung, Nan. Lidah kamu itu spesial, sensitif," begitu kata Mama suatu sore. Aku ingat dia menyodorkan segelas jus berwarna oranye segar yang ternyata campuran wortel dan apel, atau semangkuk chips bayam renyah yang rasanya lebih mirip camilan gurih daripada sayuran. 

Mama adalah sekutu terbaikku. Dia menciptakan tameng berupa jus dan snack sayur agar aku tetap sehat tanpa harus berurusan dengan amukan Papa di meja makan. Mama adalah "laboratorium kasih sayang" yang sayangnya, saat itu tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari racun yang lebih berbahaya daripada sekadar sawi: yaitu pengkhianatan Papa. 

Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha mengusir bayangan wajah Mama dan aroma jus wortel-apel yang tiba-tiba memenuhi rongga hidungku. Aku kembali ke kenyataan, ke bisingnya food court jam makan siang dan ke sosok Peter yang masih berdiri menungguku bersuara. 

"Kamu... baca jurnal medis juga?" tanyaku akhirnya. Poker face-ku retak sedikit demi sedikit. 

Peter tertawa kecil, tipe tawa yang renyah dan tidak meremehkan. "Sedikit. Aku cuma nggak suka lihat orang dipaksa makan sesuatu yang mereka benci. Makan itu harusnya jadi momen senang-senang, bukan hukuman, kan? Oh ya, kenalin namaku Peter.” 

Dia mengulurkan tangan. Aku menatap telapak tangannya sejenak, menimbang dengan sangat serius apakah aku harus menyambutnya atau tetap pada mode poker face kebanggaanku. Tapi, kalimatnya soal 'makan bukan hukuman' benar-benar melucuti pertahananku. 

"Kinan," jawabku singkat, akhirnya menyambut tangannya. Remasan tangannya mantap, memberikan kesan bahwa dia pria yang percaya diri tapi tetap tahu batasan. "Staff Marketing juga, tapi beda tim sama kamu." 

"Aku tahu," jawabnya santai sambil melepaskan tanganku. "Tim Promosi di lantai lima, kan?" 

Aku mengerutkan kening, rasa curigaku muncul lagi. "Kok tahu?" 

"Dunia marketing itu sempit, Kinan. Apalagi kalau ada staff yang kerjanya se-ambisius kamu, kabar burungnya cepat sampai ke lantai bawah. Katanya ada 'singa betina' di lantai lima yang kalau kerja nggak pernah main-main." 

Dalam hati, aku sedikit bangga. Aku pernah membaca sebuah jurnal—mungkin itu juga yang dibaca Mama dulu, katanya ada orang-orang yang memang terlahir dengan gen TAS2R38. Super-taster. Di lidahku, sawi hijau ini bukan sekadar sayuran, melainkan racun sulfur yang baunya saja sudah cukup untuk menyumbat paru-paruku. 

Sialnya, gen itu sepertinya tidak hanya bekerja di lidah, tapi juga menjalar di hatiku. Aku bisa merasakan pahitnya pengkhianatan lebih tajam dari siapa pun. Tapi Peter di depanku ini... saat itu dia seolah menawarkan penawar untuk segala kepahitan itu. 

Sejujurnya aku tak ingin mengobrol lama, tapi entahlah, Peter punya semacam feromon ramah dari tubuhnya yang akhirnya mampu mengubah poker face-ku menjadi dekik manis pada pipi. Menurut Mamaku dulu, aku sangat manis saat tersenyum lebar karena memiliki tulang rahang pipi yang bagus. Kuas bedakku pun tak perlu "menangis" saat disapukan pada wajahku, karena pada dasarnya struktur wajahku proporsional, tak bulat. 

Hari itu, makan siang yang biasanya terasa seperti kewajiban yang menyesakkan dan membosankan, berubah menjadi sesi obrolan yang membuatku lupa waktu. Peter tidak agresif. Dia pandai mendengarkan, sesekali menyelipkan lelucon tentang kerasnya hidup sebagai Staff Marketing di bawah tekanan target bulanan yang gila. 

Sejak hari itu, aku merasa jiwaku yang lama mati mulai hidup kembali. Hatiku yang awalnya penuh bongkahan batu panas perlahan meleleh akibat oase yang dialirkan oleh sikap dan tutur kata Peter yang sejuk. Aku, yang pada dasarnya belum pernah pacaran lantaran dilarang keras oleh Papa dan Mama, mulai membuka hati. 

Untuk hal ini, Mama memang sangat protektif. Menurut Mama, pacaran itu nanti saja kalau sudah menemukan laki-laki yang mapan dan bertanggung jawab. Kalau masih "bau kencur", istilah Mama, saat masih sekolah maupun kuliah, perasaan itu masih sangat mentah dan hijau. Selesaikan dulu sekolah, lalu bekerja, baru pikirkan tentang pacaran dan menikah. 

Aturan Mama itu memang tujuannya baik, tapi dampaknya membuatku tumbuh menjadi wanita yang buta tentang cara mendeteksi mana laki-laki yang tulus atau hanya sekadar memanfaatkan celah. Aku tak tahu bahwa pada akhirnya Peter hanyalah terlihat manis atau green flag di awal, tapi di ujung cerita, dia adalah red flag yang berkibar sangat kencang. 

Aku juga tak pernah menyadari bahwa selama ini diam-diam Peter sudah mengamatiku dengan sangat teliti, bahkan sebelum kami berkenalan secara resmi. Dia tahu kapan aku menggosokkan tanganku menggunakan hand sanitizer secara obsesif setelah memencet tombol lift. Dia tahu jam berapa tepatnya aku datang dan kapan aku menghabiskan waktu di pantry hanya untuk menikmati secangkir kopi tanpa gula. Di mataku saat itu, perhatian kecilnya terasa seperti romansa manis di film-film drama, bukan sebagai tanda seorang predator yang sedang mencari kelemahan mangsanya.  

Harusnya aku takut terhadap orang yang mengamatiku sedetail itu. Bukan romansa, itu menyeramkan. Tapi ah sudahlah, namanya saja sedang bucin alias budak cinta. Tahi pun serasa cokelat paling premium. 

6 bulan sebelumnya: Perkenalan Kiki dan Peter yang Menjadi Racun

Lihat selengkapnya