Kedai Bakmi Keluarga

Chrystina Yohana Limas
Chapter #4

Bab 3: Vonis Kematian dalam Secarik Kertas

3 Hari Sebelum Vonis Kematian

Berdiri di bawah shower dan dipijat oleh air yang mengalir dengan deras mampu menyembuhkan rasa penat akibat kelelahan bekerja. Kulakukan kebiasaan mandiku seperti biasanya. Memijat kepala dengan shampoo dengan ekstrak lemon dan mentol yang segar. Rasanya minyak, debu, dan ketombe yang menempel luruh seketika. Saat aku menyabuni tubuhku dengan busa sabun wangi mawar dari merk Glamour, aku merasakan sesuatu yang berbeda pada payudaraku sebelah kanan. 

Benjolan yang terasa tidak lazim seharusnya ada di sana. Aku mencoba mengingat pelajaran yang kudapat dari literatur kesehatan tentang SADARI. Ketika benjolan itu tidak menetap artinya masih aman, namun ketika itu menetap perlu diwaspadai. Sekali lagi kuraba bahkan aku hampir tak tidur hanya untuk terus memastikan benjolan itu bergerak ke tempat yang berbeda. 

Menjelang pagi, aku memutuskan ke rumah sakit terdekat untuk memastikan. Tak kuceritakan kepada siapa pun sebelum aku mengetahui keputusan dokter. Aku lebih percaya dokter ketimbang cerita kepada orang.

Tapi, malangnya aku membutuhkan 3 hari sebelum dapat memastikan ke dokter karena tumpukan deadline sudah menungguku, belum lagi menghadapi Kiki yang memutuskan hubungan denganku akibat PHK dari tim promosi.

Aku coba hubungi Baim untuk sekadar bercerita, paling gak mungkin dia bisa membuatku tetap rasional dan membuatku tak gelisah terus. Namun, Baim pun mengaku sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya meminta voice note saja. Tentu saja tak bisa, hal seperti ini tak mungkin hanya kuceritakan dengan voice note.

Namun, saat sedang di kamar, justru satu nama terlintas. Ketika aku sedang marah dalam kesakitan. Nama si pendosa itu, sakit yang kurasakan terasa mengalir pada dadaku. Nyeri yang mengakibatkan putingku berdenyut.

Aku menangis sendiri ketika ingatanku melayang pada peristiwa pahit di Kedai Bakmi Keluarga. Tempat sakit hatiku bermula. Ketika melihat orang yang paling kuhargai dan kupercaya mengkhianatiku dan menusukku dari belakang. Aku berharap dan terus berdoa agar bayangan kematian yang menghantuiku lenyap dan keputusan dokter bukanlah vonis dari alam baka, melainkan sebuah harapan. Bagiku saat ini harapan adalah obat ajaib yang kubutuhkan karena mampu menyembuhkan rasa marah dan emosi yang berperang dalam benak dan batinku.

Hari itu akhirnya tiba, hari di mana gue memutuskan ke dokter untuk memastikan sakitku. Bagaikan menghadapi hukuman pancung, aku menuju ruang lab. Lorong menuju ruang lab mengingatkanku pada ibuku yang kupanggil mama malaikat dalam hidupku. Peristiwa 5 tahun lalu setelah pengkhianatan papa dengan wanita bernama Fiona yang belakangan kusebut mereka berdua si pendosa.

Saat mama divonis kanker paru-paru dan setiap saat hanya akulah yang menemani hari-harinya sementara pendosa pria itu malah asyik bercumbu dengan pendosa wanita. Batinku saat itu perang antara ingin balas dendam dan merawat mama.

“Kinan, jangan pernah membenci papamu. Fokus pada masa depanmu, jaga Ray. Mama percaya kamu bisa menjadi penopang untuk Ray dan keluarga kita,” ujar Mama setelah keluar dari ruang lab menggenggam secarik surat vonis dokter.

Aku hanya terdiam dan berkaca-kaca saat itu. Mengangguk tanpa pernah tahu bahwa itu adalah perkataan terakhirnya. Hari-hari selanjutnya yang dihadapi mama adalah hari menuju kematian. Aku tak lagi menampakkan kesedihan. 

Aku belajar kesedihan hanya milik wanita cengeng dan narsis seperti si wanita pendosa. Demi menarik perhatian orang, dia menangis histeris saat mama meninggal. Huft, padahal bisa jadi itu pura-pura karena kuyakin dalam hatinya dia bersorak karena berhasil merebut suami orang dan menghancurkan keluarga sahabatnya. Tak kugubris ucapan maaf dan uluran tangannya kala itu hingga tangannya mengejang di udara sampai akhirnya Ray membisiku, “Kan pakai sarung tangan, aman lah.” Awalnya aku tak mengerti tapi ucapannya membuatku tersadar bahwa aku mudah jijik pada sesuatu yang kuanggap sampah atau kotor. Jadi kupikir aman lah tanganku bersentuhan dengan si wanita pendosa ini.

Aku kaget saat namaku dipanggil. Ingatan masa lalu yang pahit itu mengabur dan membawaku pada realita yang kuhadapi sekarang. Di ruang periksa, aku diperlihatkan pada layar digital yang menunjukkan benjolan yang kutakutkan itu. Perkataan petugas lab itu mengantarkan aku pada satu kenyataan pahit bahwa hidupku akan bergantung pada setiap saran dari dokter yang kudatangi.

Kudatangi dokter pertama dengan jadwal konsultasi pagi, yang membuatku harus mengambil cuti setengah hari. Dokter tersebut mengatakan aku harus segera dioperasi kalau tidak mau virusnya menyebar dan menjadi benalu pada organ tubuhku. Aku keluar dengan masygul. Tak sanggup rasanya jika harus kembali ke kantor membawa beban masalah yang kuhadapi ini. 

Kudiamkan surat vonis dokter pertama hingga akhirnya muncul pendarahan dari putingku. Pendarahan pertama namun cukup membuatku gelisah karena Ray mengetahuinya dari kemeja yang kukenakan pagi itu.

“Kak, itu dada sebelah kanan lo ada noda darah,” tunjuk Ray pada dada sebelah kanan.

“Hah?” responku kaget sambil menoleh ke arah Ray.

Suasana sarapan pagi itu berlangsung canggung karena aku tak menjawab pertanyaan Ray, namun kembali ke kamar untuk mengganti kemejaku. Ray mencoba menahanku dan mengajakku bicara.

“Kak, kita cuma tinggal berdua. Tolong cerita ada apa, kak!” tegas Ray seraya mendudukanku kembali di meja makan. 

Ray berhasil membuatku cerita dengan merayu dengan membuatkanku omelet keju sosis buatannya yang memang enak.

Aku menceritakan vonis dari dokter pertama yang mengatakan aku harus segera dioperasi sebelum terlambat. Dengan tambahan menyakitkan jika hasil operasinya setelah dicek ganas, maka akan dilanjutkan dengan kemoterapi yang yah seperti sering kulihat di film dan sinetron drama berjilid-jilid menyakitkan gak kunjung sembuh. Kadang berujung kematian, hidup serasa hanya menunggu waktu.

Ray mendengar itu semua dengan tatapan syok. Hanya mampu menjawab dengan lirih, “Ternyata yang sakit nambah lagi.” Aku sukses terdiam dengan perkataannya, dan bertanya dengan heran pada Ray, “Apa Ray?” 

“Hah, gak kak. Itu… maksudku yang sakit kayak kakak gitu kan banyak, jadi ya gak cuma satu sih kak,” jawabnya gugup.

Jawaban Ray belum cukup namun saat aku ingin bertanya lagi, handphone-ku berdering. Sekretarisku mengingatkan ada meeting pagi wajib dengan tim promosi, meeting evaluasi bulanan.

Siangnya, Peter mencoba mengajakku makan siang dan menanyakan hal yang smembuatku sulit menelan bakmi ayam di food court kantor. 

“Kinan, 3 hari yang lalu aku gak sengaja lihat kamu dari lab. Kamu habis cek kesehatan?” tanya Peter sambil mengaduk nasi bakmoy babi pesanannya.

Lihat selengkapnya