Pagi ini aku terbangun dengan kelelahan maksimal. Lelah karena menangis, lelah karena merasa dikhianati oleh orang yang paling aku percaya. Aku masih ingat apa yang terjadi semalam dengan satu-satunya adik lelakiku, Ray. Pertengkaran terbesar sepanjang hidup kami berdua. Bahkan ketika orangtua kami masih tinggal seatap, tak pernah sampai saling adu urat atau banting pintu.
Papa dan Mama mengajarkan kami saling menyayangi dan mengasihi sebagai saudara. Aku dan Ray hanya berdua, jadi kami selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah apa pun kondisinya. Jadi kejadian semalam adalah pertama kalinya pertengkaran terbesar kami.
“Jawab Ray, ini obat apa dan untuk siapa? Lo sakit?” desakku sambil memegang kuat kertas bon obat.
“Itu obat Papa,” jawab Ray setelah terus didesak olehku.
“Maksud lo si pendosa itu sakit?” tanyaku ketus dan bernada sinis.
“Lo beli buat dia? Lo urus dia?” tanyaku lagi dengan tak sabar.
“Kak, kita istirahat ya. Lo juga, kan lo besok masih harus chek up lab buat persiapan operasi.
“Jawab dulu pertanyaan gue! Lo urus si pendosa?” tanyaku lagi dengan suara nyaring.
“Kak, gila lo ya! Dia itu papa kita. Seenaknya aja lo ngatain papa!” bentak Ray pertama kalinya.
“PENGKHIANAT LO, RAY!” teriakku lagi sambil menuding muka Ray.
“Gue males debat sama lo, Kak. Mau istirahat,” putus Ray sambil berlalu masuk kamar.
Sambil menangis, aku jatuh terduduk di sofa depan televisi. Rasanya ingin kusobek saja kertas bon obat itu. Tapi tenagaku rontok. Kuletakkan asal saja. Setengah jam aku duduk, pintu kamar Ray terbuka dan dia berjalan ke dispenser. Mengambil minum dan berlalu lagi ke kamarnya.
Aku pun mematikan lampu ruang televisi dan berjalan gontai ke kamarku.
Kuhubungi satu nama di daftar kontak “Baim” sahabat baikku selain Kiki yang juga selalu mendukungku.
Nada dering terdengar di sebrang sana… terangkat
“Apa Nan?” respon singkat Baim seperti biasa tanpa basa basi khas-nya.
“Im, besok lo kosong gak?” tanyaku dengan terisak-isak di telepon.
“Lo mau minta ditemenin ke mana, Beb?” tanya Baim balik seperti biasanya sejak dulu.
“Ke lab. Gue divonis ada tumor payudara. Menurut dokter gue musti segera cek lab untuk persiapan operasi bedah,” jawabku dengan suara lemah.
“HAH??” Seketika Baim yang sedang sibuk mengetik menghentikan lantaran mendengar ceritaku.
“Makanya lu jangan ngetik mulu napa. Budek apa lo?” tanyaku ketus.
“BUKAN BUDEG, NEK. TAPI GUE KAGET. LU NGEPRANK APA GIMANA?!” jawab Baim dengan nada tinggi.
“Siapa juga yang mau prank. Pertama, hari ini bukan April MOP. Kedua ngapain juga gue prank penyakit, bisa kualat. Ketiga, lo tau kan gue gak pernah becanda!” jelasku mulai tegas pada Baim yang hobi ngelantur.
“Ini nih akibatnya kalau lo lama mendem sakit hati!” kata Baim dengan suara nyinyirnya.
“Apaan sih? Ah, udah jadi lo bisa gak? Nanti gue ceritain semua lengkapnya besok pagi,” jawabku seraya ingin menyudahi percakapan malam kemaren.
“Iye, bisa. Marah-marah mulu lo,” jawab Baim sebal.
Pagi itu, suasana sarapan hening. Sebenarnya aku ingin tak duduk di meja makan berhadapan dengan Ray. Namun, kami selalu ingat pesan mama, pertengkaran sehebat apapun jangan pernah melewatkan waktu sarapan atau makan malam bersama keluarga di meja makan. Kecuali ada hal mendesak yang membuat kami terpaksa melewatkannya.
Aku yang biasanya mencicipi sarapan omelette keju buatan Ray terpaksa hanya makan setangkup roti tawar yang diolesi mayonese dengan selembar keju ditambah dua iris tomat dan timun. Aku masih bermusuhan dengan Ray, jadi otomatis tak kusentuh apa pun yang diberikan Ray walau tujuannya perhatian.
“Kak, gue temenin lo cek lab, ya,” ajak Ray tetap tanpa dosa karena sudah mengkhianatiku.
Kujawab ketus, “Gak perlu!”
“Kak, please masa sih lo harus drama gini. Gak mungkin lah gue biarin lo pergi sendiri,” jawab Ray dengan muka lelah dan memelas.
“Gue pergi sama Baim. Gue gak mau pergi sama lo. Urus aja tuh si pendosa!” balasku sambil berusaha mengoontak Baim yang sejak semalam kuhubungi untuk menemaniku cek lab.
“Kok, omelette yang udah gue masakin, gak lo makan, Kak?” tanya Ray seraya ingin menyodorkan omelette itu ke piringku.
Sontak aku lantas menepis dan memelototi adikku. Tanpa basa basi kusudahi sarapan pagiku dan membawa piring bekas makanku ke wastafel, mencucinya agar tak dikerubuti kecoak.
Teeet…teeet
Yes, saved by the bell. Aku bisa menjauh dari kecanggungan di meja makan bersama Ray yang sekarang kujuluki si pengkhianat. Aku lantas melihat WhatsApp untuk memberi tahu Baim agar segera berangkat sebelum Ray sempat menyusulku ke teras.
Tapi, ketika aku baru saja membuka pintu…
Bukan Baim, melainkan…
“Pah, kok gak bilang mau dateng?” tanya Ray yang mendadak muncul dari belakangku.
Tubuhku sontak membeku, tanganku terkepal, dan jantungku hampir berhenti berdenyut.
“Kak, lo gak jadi pergi? Tuh Baim dah nongol di teras,” ujar Ray seraya menunjuk ke arah Baim. Cowok iseng dan no basa basi itu sedang tertegun bengong menatapku dan sosok di pendosa layaknya sinetron berlogo ikan terbang.
“Woi, Nan jadi gak? Gue tungguin sampe kering ini di teras. Buruan napa!” sahut Baim seraya melepas kacamata item andalannya.
“Eh, Om, Ray sorry jadi gak sopan. Saya dan Kinan pergi dulu,” pamit Baim degan canggung campur malu.
“Yaelah, Kak Baim kayak sama siapa aja,” balas Ray dengan seraya membentuk bibir mengucapkan entah apa. Mungkin terima kasih atau sorry. Entahlah.
Aku masih tetap tertegun bengong di teras menatap pendosa yang kini tersenyum canggung. Kulayangkan tatapan tajam dan kata-kata sinis yang pasti jika terdengar akan membuat siapa pun sakit hati.
“Mau apa Anda kemari? Sudah dibuang oleh dia, si paling validasi emosi pria?”
“Kamu apa kabar, Kinan?” tanya si pendosa sambil berusaha menyentuh rambut mengabaikan sindiran tajamku. Kebiasaannya dahulu ketika melihatku sedang rusuh. Kata mama dulu itu tanda sayang papa ke anak perempuannya. Cih, aku tak sudi menerima apa pun perhatian dari sosok pendosa ini.
“Menurut Anda? Permisi, saya sibuk. Dan, tolong jangan lagi menginjakkan kaki di rumah kami berdua!” jawabku dengan nada dingin sedingin es di kutub utara.
Aku segera berlalu pergi dan naik ke mobil Baim. Sepanjang jalan, Baim yang biasanya akan sibuk bertanya dan berceloteh memilih diam melihat mukaku yang sudah terlihat mau meledak.
“Thanks, Im udah mau nemenin gue,” Aku memutuskan kecanggungan di mobil.
Baim hanya bertanya, “Lab nya di mana?”
“RS Setia Mitra,” jawabku sambil mempersiapkan berkas surat dari dokter yang menyarankan Aku harus cek lab.
“Nan, apa vonis dokter? Dan ini sejak kapan? Kok lo gak cerita?” tanya Baim akhirnya.
“Gue juga gak tau tepatnya kapan ada. Tapi beberapa bulan yang lalu, gue nemu benjolan di payudara pas mandi. Ya udah gue mutusin buat cek lab, tapi gue sempat diemin karena jujur takut. Gak taunya tambah parah, dan udah mulai bleeding,” jawabku panjang lebar.
Ckiiiit, astaga hampir saja nabrak. Untung lah sudah mau masuk parkiran.
“HEH, APA LO BILANG? GILA YA LU SEKALINYA KETEMU MALAH NGASIH KEJUTAN!” marah Baim hampir saja membuatku benjol kejedot dashboard mobil.
“SINTING LO, IM. HAMPIR NABRAK DAN BIKIN GUE SEKALIAN MENGHADAP YANG MAHA KUASA!” balasku dengan amarah yang sama dengannya.
“Lo yang sinting, gimana ceritanya lo baru mau cek setelah krisis gitu. Lo kira sembuhin kanker tuh kayak minum obat cacing atau obat puyer gitu? Udah gila emang ini cewek satu!” cerocos si Baim kembali.
“Udah lah, gue musti turun nih. Males gue berantem, yang ada gue bukannya sembuh malah makin parah,” jawabku ketus seraya membuka pintu mobil Baim.