Rahasia dari Balik Tembok Kamar Gue
10 Tahun yang Lalu
Keluarga, teman main, tetangga, dan orang yang mengenal gue beberapa kali menjuluki gue si photographic memory. Paling bisa bahkan ekstrem mengingat sebuah peristiwa, teks, gambar, anything dengan detail dan akurat. Sebuah keuntungan tapi juga merugikan kalau peristiwanya bikin trauma atau menyedihkan. Kayaknya batok kepala gue kudu disedot dulu buat ngilangin peristiwa. Jadi kalau kakak gue bilang, gue mudah melupakan apa yang terjadi di keluarga, mulutnya harus disumpel atau otaknya harus disetrum.
Peristiwa yang gue alami ini terjadi saat gue berumur 11 tahun. Bermula dari Kedai Bakmi Keluarga yang menjadi kedai langganan keluarga gue. Suasana yang biasanya ramai di meja nomor 8 (meja langganan keluarga kami) terasa hening. Walau kesibukan di meja lain bahkan di dapur tetap saja ramai, namun berbeda dengan meja kami yang tampak hening. Semua sibuk dengan mangkuk bakmi masing-masing. Gue yang sedang laper berat karena otak habis terkuras oleh ujian sekolah menyantap bakmi babi dengan lahap.
Ting … ting … ting
Suara garpu, sendok, dan sumpit beradu di antara desisan asap dari panci rebus. Seharusnya jadi hal biasa tapi saat ini jadi hal yang terasa canggung. Papa yang sepertinya sudah selesai dengan hidangannya, memanggil pelayan.
“Bakmi babi 1 porsi lagi dengan sayur sawi rebus dan pangsit campur (babi, udang, ayam), terus…
“Es jeruk nipis, Pah,” sahut gue spontan.
“Papa tahu,” tanya Papa sambil tersenyum jenaka.
Gue tertawa walau dalam hati masih bingung kenapa Mama dan kak Kinan sepertinya tak banyak bicara. Muka Kak Kinan tegang dan seperti gelisah, begitu juga dengan Mama.
“Gimana tadi ujiannya, Ray?” tanya Mama setelah terdiam hampir setengah jam.
“Ya gitu, Ma, yang penting bisa ngerjain dengan benar,” jawab gue dengan malas.
Heran, kenapa Mama jadi sebawel Papa menanyakan ujian. Ini pada kenapa sih? Hening, gak lama Mama menanyakan pertanyaan retoris yang biasanya ditanyakan Papa. Kak Kinan cuma ngaduk-ngaduk bakmi ayam, memisahkan sawi dari mangkuk. Dan Papa juga gak negur, padahal biasanya..
“Pah, maksudnya apa sih nih?” tanya Kak Kinan tiba-tiba dengan suara tegas tak seperti biasanya.
“Kinan!” tegur Mama sambil mengelus punggung tangannya.
Gue hanya memandang keduanya, Papa dan Kak Kinan dengan muka polos dan dahi berkerut.
“Habiskan bakmi kamu, Kinan,” tegur Mama dengan halus.
“Papa ingat dulu waktu kalian kecil sering makan di sini loh,” kata Papa mengingatkan kami akan masa lalu di Kedai Bakmi Keluarga di meja nomor 8.
Kak Kinan memutar bola matanya dengan malas mendengar Papa mengucapkan kalimat nostalgia.
Masa Kecil yang Kritis
Saat itu gue masih kelas 2 SD dan Kak Kinan sendiri sudah kelas 3 SMP. Yup, gue dan Kak Kinan berbeda 7 tahun. Masa itu menjadi masa lalu yang indah walau sebenarnya ada hal yang disembunyikan dari Papa dan Mama. Gue yang masih kecil hanya bisa mendengar sekilas tentang biaya sekolah dan Mama yang keberatan jika terlalu sering jajan di luar, tapi bagi Papa makan di kedai ini adalah momen yang tak bisa terganti walau Mama masak dengan menu bakmi yang sama.
“Kita harus hemat, Pah. Kalau hanya makan bakmi, aku bisa masak untuk kita semua,” ujar Mama kala itu.
“Mah, jangan mengatakan itu di depan anak-anak,” jawab Papa sambil menempelkan telunjuk di depan bibirnya.