Kedai Bakmi Keluarga

Chrystina Yohana Limas
Chapter #8

Bab 7: Ray: Nambah Lagi yang Sakit

Sinar matahari pagi baru saja muncul, tapi alarm smartphone gue udah berisik mencoba membangunkan gue. Bukannya bangun, gue malah kembali ke alam mimpi dan mematikan alarm. Padahal hari ini akan ada meeting penting dengan Mbak Melanie, Lead Designer gue, dan klien dari Singapura terkait draf desain interior untuk rumah pribadi klien. Ah, atau bisa gue sebut penthouse di bilangan Jakarta Utara (PIK). Daerah ini sekarang tumbuh subur dengan berbagai bisnis dan perumahan elit.

Jam 7.15 menit

Damn, bisa telat nih gue. Inilah akibatnya kalau alarm dimatikan. Gue buru-buru mandi dan siapin sarapan dulu deh. Biasa, omelet keju dan sosis panggang buat kakak gue, Kak Kinan , dan gue sendiri omelet bayam, jamur, dan udang chili flake.

“Tumben lo kesiangan, Ray?” tanya Kak Kinan di meja makan. Dia langsung menyantap omelet keju dan sosis panggang buatan gue. Buset, padahal baru gue hidangkan.Apa mulutnya gak kepanasan ya?

“Kak, itu masih panas loh,” kata gue, gak menjawab pertanyaan Kak Kinan.

“Ye, ditanya apa dijawab apa. Gak masalah, bisa gue tiup kok,” jawabnya enteng banget.

“Ngantuk gue, Kak. Semalem habis lembur ngerjain proyek magang,” jawab gue dengan nada malas.

“Emang gak dimarahin lo sama atasan telat gitu?” tanya Kak Kinan lagi sambil meniup-niup omelette.

“Gak, tadi barusan gue izin sih. Untungnya Mbak Mel mau ngerti. Dan klien kebetulan juga mundurin jadwal meeting. Jadi, amanlah,” jawab gue panjang lebar.

Saat gue sedang sibuk mengunyah, mata gue tanpa sadar melihat sesuatu yang gak biasa di … maaf, bagian blus dekat dada sebelah kanan kakak gue. Itu … seperti noda merah … darah. Astaga, apa gak salah lihat gue? Itu apa ya?

“Kak, itu dada sebelah kanan lo ada noda darah,” tunjuk gue pada dada sebelah kanan.

“Hah?” respon kakak gue kaget sambil menoleh ke arah gue.

Kakak gue buru-buru ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan gue. Gue masih mengunyah sarapan dengan pikiran kalut. Itu apa, ya? Pertanyaan gue masih belum terjawab karena kakak gue memutuskan untuk sarapan terburu-buru.

Gue mencoba menahan kakak gue dan mengajaknya bicara.

“Kak, lo belum jawab pertanyaan gue,” pinta gue setengah berharap.

Kakak gue menghela napas dan hanya menjawab, “Bukan apa-apa, ini hanya noda sabun cuci yang tadi gak sengaja tumpah.”

“Kak, lo jangan ngaco jawabnya deh,” cecar gue lagi.

“Lo mau gue bikinin sesuatu? Omelet lagi atau teh lemon biar lo tenang dulu buat menjawab,” bujuk gue. Biasanya ini ampuh sih.

Kakak gue hanya mengangguk karena memang piringnya sudah kosong. Rupanya tadi dia antara lapar dan mengunyah asal karena ingin mengakhirinya. Tak akan kubiarkan kali ini jika dia ingin buru-buru.

Omelet keju dan sosis panggang dihidangkan kembali untuknya. Kali ini kutambahkan pancake cokelat favoritnya ditambah saus mayonaise yang kubuat dengan cepat.

“Kak, kita cuma tinggal berdua. Tolong cerita ada apa, kak!” tegas gue seraya mendudukkan kakak gue kembali di meja makan.

“Gue divonis tumor payudara, Ray,” jawab Kak Kinan perlahan dengan suara rendah. Hampir aja gak terdengar karena suaranya kecil begitu. Kalau gue minta dia mengulang, salah-salah bisa kena semprit. Belakangan Kakak gue sensitif banget.

“Ini surat rekomendasi dokter buat gue untuk cek lab, karena gue harus segera dioperasi. Operasi pengangkatan payudara, Ray,” lanjut Kak Kinan.

“Jadi … darah itu?” tanya gue cemas.

“Lo inget gak bulan lalu waktu gue pulang bentak-bentak gak jelas?” tanya Kak Kinan, berusaha mengingatkan.

“Yang lo marah-marah padahal gue cuma lupa naro handuk ke keranjang cucian itu?” tanya gue sambil nyengir kuda.

“Sorry, ya, Ray, itu gue habis dapet hasil dari lab. Gue lagi kalut banget, dan ya, gue jadi gampang tersulut emosi,” kata Kak Kinan dengan suara memelas.

“Hasil lab menunjukkan kalau ada benjolan di payudara sebelah kanan gue, dan gue harus segera dioperasi.”

“Gue coba diamkan karena jujur gue takut. Akhirnya gue kena bleeding,” kata kakak gue dengan raut wajah sedih dan putus asa.

“Jadi, udah stadium berapa, Kak?” tanya gue dengan cemas.

“Belum tahu, dokter cuma bilang angkat aja. Gue yakin kalau udah bleeding gini, gak bisa ditunda sih,” lanjut kakak gue lagi.

"Ternyata yang sakit nambah lagi," sahut gue lirih. 

Sial. Tanpa sadar gue keceplosan. Celetukan gue di meja makan pagi itu membuat Kinan mengernyit. "Siapa yang sakit, Ray?" tanyanya curiga.

Mampus. 

Gue gelagapan menjawabnya. Otak gue langsung buntu, bingung setengah mati memikirkan cara menceritakan keadaan Papa yang sakit ke Kinan yang lagi mode senggol-bacok begini.

"Hah, gak, kak. Itu… maksud gue yang sakit kayak kakak gitu kan banyak, jadi ya gak cuma satu sih, Kak," jawab gue gugup.

Kernyitan di kening kakak gue menandakan dia gak puas dengan jawaban gue. Dering ponselnya menyelamatkan gue dari keharusan gue membongkar rahasia tentang Papa yang sakit.

Setengah hari itu, gue bingung dan pusing. Selain Papa, sekarang ditambah Kak Kinan. Sambil menyelesaikan draf desain, kutelusuri nama-nama dokter spesialis obgyn atau bedah onkologi.  

Jempol gue tanpa sadar menekan ujung pensil mekanik besi di tangan gue berulang kali sampai bunyi klik-klik-klik memenuhi kubikel gue kerja. Pensil drafting ini peninggalan Mama. Tiap kali hidup kerasa pelik semenjak Papa dan sekarang Kinan sakit, gue selalu butuh pegang barang ini buat nyari jawaban. Kehadiran Mama seakan berbicara lewat benda ini, mengingatkan gue buat tetap tenang dan sabar ngukur masalah.

Lihat selengkapnya