Kedai Bakmi Keluarga

Chrystina Yohana Limas
Chapter #9

Bab 8: Ray: Egois Lo, Kak

Kepala gue berdenging. Alarm smartphone gak berhenti bunyi. Hadeh, padahal gue sangat butuh tidur. Gara-gara kejadian semalam, gue sampai molor kerjain revisi. Gue baru tidur hampir subuh, dan damn, gue bahkan tidur gak sampai 4 jam. Bayangin aja gimana kepala gue gak berdenging. Kejadian semalam beneran drama terparah. Sumpah deh, Kak Kinan lebay banget. Teriak-teriak gak jelas, kalau gue masih ada tenaga sih, udah gue sumpel kali mulutnya.

“Jawab, Ray, ini obat apa dan untuk siapa? Lo sakit?” desak Kak Kinan sambil memegang kuat kertas bon obat.

“Itu obat Papa,” jawab gue akhirnya karena bosan terus didesak.

“Maksud lo si pendosa itu sakit?” tanya dia ketus dan bernada sinis.

“Lo beli buat dia? Lo urus dia?” tanya dia lagi dengan tak sabar.

“Kak, kita istirahat ya. Lo juga, kan lo besok masih harus cek up lab buat persiapan operasi.

“Jawab dulu pertanyaan gue! Lo urus si pendosa?” tanyanya lagi dengan suara nyaring.

“Kak, gila lo ya! Dia itu papa kita. Seenaknya aja lo ngatain papa!” bentak gue buat pertama kalinya.

“PENGKHIANAT LO, RAY!” teriak Kak Kinan lagi sambil menuding muka gue.

“Gue males debat sama lo, Kak. Mau istirahat,” putus gue sambil berlalu masuk kamar.

Kayaknya kalau ada award buat cewek terlebay dan ter-drama, kakak gue pemenangnya deh. Gue malas-malasan bangun dari tempat tidur dalam keadaan masih menguap lebar, persis kuda nil. Gue seret tubuh ke kamar mandi, mandi asal basah saja. Namun, saat gue meraba kening, badan gue agak demam. Hmm, gue izin sajalah, kerja WFH. Semoga Mbak Mel mau paham. Gue text dia saja via WA

Mbak Mel, maaf gue demam. Gue izin WFH lagi, ya, 🙏 

Syukurlah Mbak Mel mau memahami, dan hanya menjawab

Istirahat saja dulu, masih bisa menyusul besok kok deadline-nya. Gue nanti sampaikan ke Mr. Frans.

Coba saja seandainya kakak gue sebijak Mbak Mel. Hmm, tapi kata orang yang terlihat di permukaan belum tentu sama dengan yang di dalam. Malah, jangan-jangan Mbak Mel sama saja dengan Kak Kinan. Ah, masa sih? Uh, sudahlah, buat apa gue pikirin. Lama-lama otak gue bisa jadi bubur. Lebih baik pikirkan jawaban dari WA Text Papa semalam yang mau ketemu Kak Kinan hari ini. Iya, kalau ratu drama itu mau, kalau gak? Gue bisa diusir dari rumah atau jadi sate. Hiiiiy.

Masih setengah mengantuk setelah gue membilas tubuh. Malas-malasan gue menuju dapur untuk membuat sarapan seperti biasa. Eh, tapi di meja makan sudah ada si ratu drama. Tapi, tumben dia mengoles roti; espresso sudah terhidang. Biasanya dia menunggu omelet buatan gue dan minum teh. Kak Kinan bukan pencinta kopi, apalagi espresso. Hanya sesekali saja dia menikmati kopi, seperti saat bertemu klien atau basa-basi dengan rekan kerja. 

“Kak, gue temenin lo cek lab, ya?” tanya gue sambil membuat sarapan untuk kami berdua.

“Gak perlu,” jawab Kak Kinan dengan ketus.

Ya Allah, masih pagi juga udah drama. Cewek di mana-mana sama, kalau marah bisa sampai lebaran kuda nih. Alias gak kelar-kelar. 

“Kak, please, masa sih lo harus drama gini? Gak mungkin lah gue biarin lo pergi sendiri,” jawab gue dengan muka lelah dan memelas.

“Gue pergi sama Baim. Gue gak mau pergi sama lo. Urus aja tuh si pendosa!” balas Kak Kinan masih dengan nada ketus.

“Kok, omelette yang udah gue masakin, gak lo makan, Kak?” tanya gue sambil ingin menghidangkan omelette itu ke piringnya.

Tapi memang orang kalau udah gak mood, Kak Kinan menepis dan memelototi gue. Tanpa basa-basi, dia menyudahi sarapan paginya dan membawa piring bekas makan ke wastafel dan mencucinya.

“Udah, nanti gue aja yang cuci, Kak,” teriak gue.

“Nunggu elo yang nyuci bisa langsung dikerubuti kecoak,” timpal Kak Kinan.

Teeet…teeet

Waduh, siapa ya? Jangan-jangan … eh, tapi kan katanya Papa mau ke sini masih agak lama. Dan kalau udah sampai, mau telepon dulu. Hmm, palingan si Baim.

Saat gue masih mengunyah, kakak gue membeku di depan pintu. Lah, kalau itu Baim, biasanya udah ribut aja dia. 

Drrt … drrrt

Bunyi notifikasi WhatsApp tanda chat masuk

Ray, Papa sudah di depan

Wah, pantesan aja Kak Kinan diem kayak patung gitu. Gak mau ngomong. Spontan gue berjalan ke depan sebelum terjadi pertumpahan darah.

“Pah, kok gak bilang mau dateng?” tanya gue untuk memecah kebekuan di depan rumah.

“Kak, lo gak jadi pergi? Tuh Baim dah nongol di teras,” ujar gue, menunjuk ke arah Baim. Cowok iseng dan no basa-basi itu sedang tertegun bengong menatap Kak Kinan dan Papa.

“Woi, Nan, jadi gak? Gue tungguin sampe kering ini di teras. Buruan napa!” sahut Baim dengan gaya cool-nya melepas kacamata hitam. Nih cowok emang gak pernah berubah, cuek dan tengilnya.

“Eh, Om, Ray, sorry jadi gak sopan. Saya dan Kinan pergi dulu,” pamit Baim dengan canggung campur malu.

“Yaelah, Kak Baim kayak sama siapa aja,” balas gue sambil mengucapkan terima kasih melalui bibir. Gak tahu deh si Baim nyadar apa gak. 

Bukannya segera pergi, Kak Kinan melontarkan sindiran tajam yang pasti menyakiti hati Papa. Ck, ini cewek kepahitan gak diberesin mau sampai kapan sih?

“Mau apa Anda kemari? Sudah dibuang oleh dia, si paling validasi emosi pria?”

Validasi emosi? Siapa lagi coba? Hmm, Tante Fiona kayaknya. Tinggal sebut nama juga.Saking bencinya sampai sebut nama orang aja gak mau, harus dibuat hiperbola gitu.

“Kamu apa kabar, Kinan?” tanya Papa sambil berusaha menyentuh rambut, mengabaikan sindiran tajamnya. Papa tidak membalas, tapi tetap dengan penuh kasih menatap lembut putri tunggalnya. Kalau gue jadi Papa mungkin udah gue sumpel kali tuh mulut.

“Menurut Anda? Permisi, saya sibuk. Dan, tolong jangan lagi menginjakkan kaki di rumah kami berdua!” jawab Kak Kinan dengan nada dingin.

Gila ih, nih cewek. Ya Tuhan ampunilah kakak gue. Karena gue gak tahan, gue ajak Papa ke dalam, dan dengan isyarat, gue meminta Kak Baim membawa Kak Kinan pergi. Sebelum tetangga merubung dan menjadikan kami semua jadi bahan julid dan gossip di pagi hari.

“Pah, udah makan?” tanya gue untuk mengalihkan pikirannya dari sikap Kak Kinan tadi.

“Emang kamu masak apa, Ray?” tanya Papa.

Lihat selengkapnya