Kedai Bakmi Keluarga

Chrystina Yohana Limas
Chapter #10

Bab 9: Bertemu Cinta Pertama di Kedai Bakmi

Katanya Cinta Pertama Itu …

Tak Pernah Mati

Selalu Membekas

Sulit Terpisahkan

Berawal dari Pandangan Pertama

Dan Sebagainya

Tapi untuk Saya Cinta Pertama Itu Berawal dari Semangkuk Bakmi

Kisah ini bermula ketika saya, Baskara, sedang duduk termenung sambil menatap bakmi komplit. Sibuk membayangkan bagaimana hidup ke depannya setelah mendengar kabar dari ayah bahwa bulan ini belum bisa mengirimkan uang saku. Siang itu, perut sedang berada pada puncak laparnya. Siang juga sedang terik. Perpaduan yang pas seharusnya untuk menyantap bakmi dan meneguk es kelapa jeruk. Tapi pikiran yang semrawut rupanya mampu menghilangkan selera makan.

“Maaf, apakah kursi ini kosong?” tanya seorang gadis berwajah bulat telur, bermata seperti bulan purnama, menunjuk pada kursi di depanku. Meja nomor 8 kala itu di-set hanya untuk dua orang. Saya yang sebenarnya sedang ingin sendiri, entah mengapa tersihir untuk mengangguk dan memberikan tempat itu kepada sang gadis. Sihir gadis itu juga mampu membuat saya menyantap semangkuk bakmi dan meneguk es kelapa jeruk. Pemilik kedai yang sedang menatap ke arah kami hanya tersenyum simpul.

Mata dan bibir gadis itu terus-menerus tersenyum, seolah memberikan pesan bahwa hari esok akan lebih baik. Hari itu obrolan kami mengalir. Mulai dari caranya memakan bakmi tanpa sebiji pun sayur atau daun bawang, anehnya, ia memilih bakmi hijau racikan pemilik kedai. Menurut saya itu tak biasa. Namun, ternyata justru itulah yang menarik perhatian saya. Ia tak bisa makan sayur, terutama yang hijau. Awalnya saya tak percaya. Saya pikir itu hanya ketidaksukaan saja.

“Kamu gak suka sayur dan daun bawang?” tanya saya yang mungkin terlihat curious.

“Hah?” Reaksi awalnya sedikit enggan menjawab.

Mungkin berpikir saya terlalu ikut campur dengan pilihannya. Saya hanya tersenyum dan sedikit mengoreksi pertanyaan yang diajukan. “Itu, bakminya … kamu gak suka dengan sayur dan daun bawang? Maaf kalau pertanyaan saya lancang.”

“Oh, saya punya alergi terhadap sayuran hijau dan buah. Tenggorokan saya akan panas, sakit, dan kulit memerah,” jelas sang gadis.

“Astaga, sampai begitu alerginya. Oh, ya, belum kenalan. Saya Baskara. Kamu?” Saya mendahuluinya dalam berkenalan sambil menyodorkan tangan. Agak terlalu terburu-buru untuk kesan pertama. Entahlah, mungkin ini yang dinamakan perkenalan pertama yang gagal.

Gadis itu hanya tersenyum, tak ingin menjawab pertanyaan saya. Tapi memberi tebak-tebakan namanya. Mengeluarkan kertas, mencoret-coretnya, dan menyerahkan kepada saya.

Lihat selengkapnya