1997
Aku terbangun di ujung malam. Sebuah pertengkaran membuat aku berdebar. Kudengar suara ayah mengancam ibu. Kemarahan ayah membuat ibu bungkam seribu basa. Ia tak memberi kesempatan ibu bersuara bahkan berpikir. Setelah lama ibu tak mau menanggapi, ayah bergegas keluar dari kamar. Ia menghidupkan mesin mobil. Aku masih tak percaya ketika mobilnya keluar dan pagar ditutup.
Menjelang pagi. Kicau burung meramaikan kebun di belakang rumah. Aku masih terbaring di tempat tidur. Tubuhku terasa berat. Kepalaku pening. Kulihat langit-langit berputar. Tak henti-henti, semakin lama makin cepat. Kupaksakan duduk dan menenangkan diri. Agak lama baru pusing kepalaku berkurang. Langit-langit makin lambat berputar dan akhirnya berhenti.
Aku berdiri mendekati jendela. Cakrawala mulai terang. Saat tirai jendela kubuka, perasaanku lebih baik. Aku segera mengambil handuk, kuharap air akan memberi kesegaran pada tubuhku. Selesai mandi, aku memakai seragam putih abu-abu yang sudah disediakan oleh ibu tadi malam. Dalam keadaan rapi dan siap berangkat ke sekolah, aku keluar dari kamar.
Pagi itu, aku tak menjumpai ibu menyiapkan sarapan. Aku tunggu ibu keluar dari kamar. Biasanya derak pintu kamarnya sudah kudengar begitu azan memanggil. Oca keluar dari kamar. Aku mengamati keheranan di mata adikku. Ia juga menyadari ketidakhadiran ibu. Suasana dingin membuat kami memilih diam. Kami sarapan nasi goreng buatan Mbak Inem. Aku makan hanya sedikit.
Kami berangkat ke sekolah tanpa lambaian tangan ibu di ambang pintu. Kami tak melihat senyum ayah yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Aku tak mendengar pesan ibu agar membaca dengan baik soal-soal ulangan. Aku dan Oca berjalan menuju tempat kami menunggu bus. Dengan ransel di punggung, kami melangkah dengan kepala tertunduk.
“Oscar,” panggil adikku lirih.
“Mengapa ibu tak keluar dari kamar?” tanya Oca yang telah menyimpan pertanyaan itu sejak kami di meja makan.
“Mungkin ibu terlambat bangun.”
“Kapan ibu pernah terlambat bangun?” tantangnya kesal. Ia merasa jengkel karena aku menjawab pertanyaannya tanpa alasan.
“Barangkali ibu tidur terlalu malam.” Itu alasan yang kubuat sendiri meski aku tahu Oca masih yakin bahwa ibu selalu bangun pagi apa pun yang terjadi.
“Lalu, ke mana ayah? Apakah ia sudah berangkat ke kantor? Ada apa sebenarnya? Mengapa jadi sepi begini?”
“Apa kau mendengar suara ribut tadi malam?”
“Suara apa?” Oca menghentikan langkah dan menatapku bingung. Ia memaksaku berhenti berjalan untuk segera menjawab.
“Aku mendengar suara mobil ayah. Ayah telah pergi sebelum subuh.”
“Ayah tak pernah berangkat subuh.”
“Ayah dan ibu bertengkar tadi malam. Mungkin itu yang menyebabkan ayah pergi dari rumah dan ibu tak keluar dari kamar.”