Kehangatan Baru

Dyah Anggraini
Chapter #2

Meraba Masa Depan

Aku tak pernah menyangka pertengkaran antara ayah dan ibu akan membawa perubahan besar pada masa depan kami. Sejak malam itu, aku tak menjumpai ibuku yang dulu. Wajahnya murung dan pandangannya kosong. Ia hidup dalam dunianya, tanpa kami, tanpa siapa-siapa. Hanya dirinya.

Ibu tak pernah menyambut kami pulang dari sekolah. Suatu siang yang melelahkan, aku dan Oca makan berdua saja. Aku lapar berat. Masakan Mbak Inem aku tuang ke piringku. Perutku yang meronta menerima masakan apa pun. Dalam keadaan lapar, masakan Mbak Inem enak juga. Aku yakin, Oca juga lapar. Apalagi ia habis olahraga tadi. Tapi ia bergeming seolah ia tidak ingin makan. Oca menampakkan air muka keruh seperti air got yang tidak mengalir. 

           “Makan saja yang disediakan di meja, jangan mencari yang lain,” kataku dengan nada gusar.

Piringku sudah bersih dan Oca masih bertopang dagu. Ia malah memandangku dengan wajah heran melihat piringku begitu cepat licin.

           “Ih, kok bisa habis sih makanan kayak gitu. Masakan yang enak itu baunya harum. Ini tak ada baunya sama sekali.”

           “Coba kau masak sendiri yang lebih enak agar kau doyan makan.”

           “Aku tidak lapar.”

           “Oca! Kenapa sekarang kau tiba-tiba tak suka masakan Mbak Inem?” Aku marah betul padanya. Tanpa sengaja kusenggol gelasku hingga terpental ke lantai.

“Jangan paksa aku makan!” teriaknya berani. Ia mulai bersuara lantang.

           “Lalu, apa maumu? Kau mau menunggu ibu pulang dan menyuapimu makan?”

           Oca terdiam. Ia menggigit bibir. Matanya mulai memerah. Ia mengerjap-ngerjap tapi tak berhasil menahan air mata. Piringnya basah. Ia menangis seperti anak balita yang minta permen. Suaranya yang kencang membuatku tuli. Aku tak sanggup duduk lebih lama. Kelakuan Oca membunuh rasa laparku. Aku berdiri. Kutendang kaki kursi.

Aku masuk kamar dan membanting pintu. Kunyalakan musik sekeras mungkin agar tak terdengar jeritan Oca. Tanpa kuduga Oca berani masuk kamarku. Ia tak terima aku berlaku kasar. Tindakanku dibalasnya dengan mematikan lagu itu. Aku panik dan mencari benda yang bisa digunakan untuk melampiaskan marahku. Botol minum di meja belajarku melayang.

Aku akan memberinya pelajaran. Oca bukan anak kecil. Ia harus paham bahwa ibu bukan seperti dulu, yang menemani kami makan dengan senyum yang teduh. Kini ibu harus berpikir keras agar kami bisa bertahan hidup. Ibu sedang resah dan bingung. Ia belum tahu apa yang harus ia lakukan. Seharusnya Oca mengerti keadaan yang memaksa kami berubah.

           Namun aku juga tak bisa menyalahkan adikku. Ibu memang memanjakan kami. Kami tak pernah merasakan sesuatu yang buruk di meja makan. Tidak pernah sekalipun. Ibu selalu memastikan Mbak Inem memasak makanan kesukaan kami masing-masing. Karena aku dan Oca punya selera yang berbeda.

           Dulu, rumahku adalah tempat yang memberikan keteduhan. Setiap pulang sekolah, aku dan Oca tak sabar ingin cepat sampai di rumah. Bukan hanya ingin berlindung dari panas matahari, tapi ada sesuatu yang menunggu di sana, yaitu suasananya yang tenang dan damai. Bau masakan ibu dan senyumnya yang lembut seperti angin sepoi di taman belakang.

           Ibu duduk menemani kami makan. Ada sepiring ikan saus tomat yang hangat di atas meja. Masakan ibu tidak lebih dan tidak kurang, gurih bawang goreng, pedas cabai rawit dan asam tomat selalu sesuai di lidah kami. Ibu membuat sayur bening bayam dengan tampilan hijau dan potongan jagung manis. 

           Ia akan menanyakan hasil ulangan kami. Dengan wajah serius ibu mendengarkan cerita Oca ketika ditegur wali kelas karena melempar gulungan kertas kepada temannya. Sementara ibu menaruh perhatian pada temanku yang ketahuan merokok di belakang sekolah. Diselilingi tawa dan komentar ibu, ikan saus tomat itu langsung habis. Bila selesai makan, habis pula cerita kami di sekolah pada hari itu. Maka, aku dapat mengatakan bahwa cerita kami yang didengar sepenuh hati oleh ibu yang menjadikan suasana menjadi sejuk.

           Penyebab perseteruanku dengan Oca di meja makan hanya masalah kecil. Sebenarnya bukan masakan Mbak Inem yang tidak enak dan menyebabkan Oca tak mau makan, tetapi karena ia tak mendengar gelak tawa ibu yang selalu ada untuk kami.

***

Pertengkaranku dengan Oca pada siang itu mengakibatkan renggangnya hubungan persaudaraan kami. Aku dan Oca mulai jarang bertukar cerita dan kabar berita. Kami menjadi mudah berprasangka, menebak-nebak perasaan orang lain, yang akhirnya sering menimbulkan ketegangan.

           Semenjak ayah memilih tak tinggal dengan kami, rumahku bukan tempat pulang yang damai. Rumah besar yang dibangun ayah itu menjadi sekedar bangunan mati. Rumahku sepi dari pagi hingga petang. Ketika pulang dari sekolah tak kudengar suara renyah ibu yang menyambut kami. Ibu sibuk dengan urusannya sendiri.

           Oca tak menjadikan rumah tempat pulang. Ia merasa suasana menjadi asing. Adikku kehilangan gairah hidup. Gadis yang energik itu tiba-tiba menjadi apatis. Suasana di rumah membuat Oca memilih pergi dengan gengnya. Mereka bermalam di vila Cipanas. Mereka pergi ke bioskop sampai malam. Merayakan ulang tahun di diskotek dan pulang pagi. Semua kegiatan dilakukannya agar tak harus pulang ke rumah. 

Seperti malam-malam sebelumnya, aku makan sendiri. Aku hanya makan ketika perutku sudah tak tahan, kendati makanan itu terasa hambar dan air terasa duri. 

Ketika aku selesai makan, Mbak Inem mengatakan seorang teman mencariku. Roy masih ada hubungan keluarga dengan ayahku. Kami jarang bertemu. Tapi kedatangannya kali ini membuat aku merasa masih ada orang yang mengingatku. Malam itu aku tak sendiri.

           “Oscar, aku akan menyampaikan berita tentang ayahmu,” katanya agak tersendat. Leherku tercekat. Kutatap Roy lekat.

           “Ayahmu sudah menikah sebulan yang lalu. Dia menikah dengan pegawainya. Mereka sudah lama menjalin hubungan dekat. Setiap hari mereka bertemu di kantor.”

           Ketika ayah pergi aku masih punya harapan. Aku yakin suatu saat ia akan kembali. Tapi setelah sekian lama ia tak pulang aku mulai bertanya-tanya. Aku menduga ia tinggal di tempat lain. Mungkin ia sudah punya rumah lain yang lebih teduh. Barangkali ayah memiliki kehidupan lain yang lebih damai. Dan tak membutuhkan kami lagi.

Lihat selengkapnya