Ini adalah pagi yang tak pernah kulupakan, yang membuat aku sadar betapa besar cinta dan pengorbanan ibu agar kami bisa sekolah. Peristiwa yang mengingatkanku untuk tidak hanya memikirkan perasaanku sendiri.
Kami akan berangkat ke sekolah. Ibu selalu memberi uang transpor untuk pergi dan pulang karena kami tak diantar oleh sopir ayah seperti dulu. Ibu masuk ke kamar cukup lama. Ketika keluar dari kamar ia membawa kantong plastik besar warna hitam.
“Ibu mau ke tetangga sebelah dulu, Nak. Kalian tunggu sebentar,” ujar ibu dan bergegas pergi ke rumah tetangga kami.
Aku dan Oca menunggu di teras. Hari masih pagi sehingga kami bisa berangkat dengan santai. Agak lama baru ibu kembali. Dengan senyumnya yang hangat, ia menyerahkan uang untuk ongkos bus.
“Hati-hati di jalan. Bila sudah selesai pelajaran langsung pulang saja, Oscar,” pesan ibu. Aku mengangguk. Beberapa langkah dari rumah, aku menengok lagi ke belakang. Ibu masih berdiri di sana. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan.
Di atas bus, mataku sembab. Hatiku menagis. Ingin aku menjerit. Aku ingin mengingkari apa yang kulihat dengan nyata. Ibu harus menjual barang setiap kali butuh uang. Ia melakukannya untuk menutup pengeluaran. Orang menyangka kami hidup serba ada namun ongkos bus pun ibu tak punya. Kami bukan lagi keluarga berada. Rumah kami besar tapi kami tak cukup punya uang. Hidupku tak lagi sempurna.
Kami harus merubah cara memandang hidup. Dulu, ayah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Kini, ibu harus mengambil alih tugas itu. Ibuku harus memastikan kami tetap makan dan sekolah, tetap bisa membayar tagihan listrik, gas, retribusi sampah, uang keamanan, pajak bangunan dan banyak lagi.
Ibu menggunakan sisa uang belanja untuk membiayai hidup. Ia menyadari bahwa suatu ketika uang tabungan akan menipis. Kami tak dapat menutup mata, pura-pura tidak tahu bahwa suatu saat dompet ibu akan kosong.
Isi rumah kami yang berharga telah dijual. Kami tak lagi memiliki mesin cuci, pendingin ruangan. Televisi yang aku gunakan untuk menonton pertandingan Liga Indonesia sudah tak ada di tempatnya. Semua guci porselen, lampu kristal, lukisan para maestro, hiasan antik, souvenir dari mancanegara, sudah dilego ke pasar loak. Ibu tak lagi mengoleksi anggrek. Anggrek kesayangannya sudah dijual kepada penggemar anggrek. Sprei, taplak meja, kain batik tulis kesayangan ibu pun harus ia relakan.
“Ibu menjual sprei yang masih baru tadi pagi. Itu sprei yang terakhir. Entah apalagi yang akan dijualnya. Mungkin baju-baju ibu yang bagus juga akan dijual.”
“Apakah ibu menjual perhiasan emasnya?”
“Sebagian ia jual untuk biaya ketika kau dirawat di rumah sakit. Tapi masih ada perhiasan yang ibu pertahankan. Bila terpaksa baru ia akan menjualnya.”