Kehangatan Baru

Dyah Anggraini
Chapter #5

Bakul Lemper

Sebagai upaya promosi, aku dan Oca membagikan lemper kepada warga sekitar rumah kami. Usaha kami berhasil. Para ibu di lingkungan kami yang biasa memesan kue di bakery, sekarang memilih membeli lemper buatan ibu. 

           “Saya sudah tiga kali pesan lemper Bu Ani dengan rasa yang konsisten. Begitu seharusnya penjual kue. Jangan ketika promosi saja rasanya enak. Ketika kita sudah menjadi pelanggan rasanya berubah jadi tidak enak.” 

           Ibu ingin menjadi spesialis lemper saja. Ia ingin dikenal sebagai bakul lemper yang paling enak. Kami tak memaksa ibu untuk menambah kue yang dijual agar ia semakin pandai membuat lemper. Mungkin lemper ini yang akan membuka pintu rezeki. Semoga melalui lemper yang enak ini rezeki akan mengalir deras. Akan tetapi, pembeli punya keinginan beragam. Selera orang tidak mungkin seragam.

“Mengapa Bu Ani tak menjual arem-arem? Itu enak buat sarapan. Banyak kue yang enak dan praktis buat makan pagi.”

“Mungkin dia mau bernostalgia dengan membuat lemper kesukaan suaminya.”

“Tapi ia harus ingat bahwa selera orang bukan hanya lemper. Kalau mau laku jangan cuma jual kenangan saja.”  

Oca mendengar ibu-ibu mengeluh tentang jualan yang sama setiap hari. Bahkan mereka merasa kesal dan ingin mencari toko kue yang menjual banyak pilihan jajanan. Oca tak setuju pada pendirian ibu yang hanya mau menjadi spesialis lemper.

“Aku ingin ada banyak macam kue di warung ibu. Ada yang manis, asin dan gurih seperti di warung Mpok Atun.” 

           “Macam kuenya memang banyak, tapi tidak semua enak. Jualan ibu hanya lemper tapi pasti enak karena dibuat dengan sungguh-sungguh. Ibu ingin agar orang bilang, kalau mau pesan lemper di warungnya Ani saja.”

“Jika Ibu menjual kue lain bukan berarti tidak fokus membuat lemper. Mengapa ibu tak meminta Mbak Inem membuat arem-arem? Lalu ibu bisa menjual arem-arem juga.”

“Kalau Ibu tak ingin terbagi konsentrasi membuat lemper, ambil saja dagangan orang lain. Dan kita jual di sini, Bu.” Aku ikut memberi saran.

Ibu tampak sedang menimbang-nimbang. Ia memandangku mungkin untuk memastikan saranku baik.

“Idemu bagus juga, Oscar. Tapi ibu takut kue mereka tidak sesuai dengan selera ibu. Ibu khawatir suatu saat rasa kue mereka tidak konsisten.”

“Awalnya kita musti tes rasa dulu, Bu. Tanyakan bahannya apa, cara memasaknya. Setiap hari kita harus pantau terus jualan mereka.” 

“Betul kata Oscar, Bu. Setiap pagi, ibu harus tes dulu rasa kue mereka. Tidak masalah menjual dagangan orang lain, asal kita tahu kualitasnya. Ibu Retno juga menjual banyak macam kue karena ia mengambil dagangan bakul lain.”

Ibu mulai memikirkan makanan lain yang bisa dijual seperti arem-arem. Selain lemper yang kami buat sendiri, ibu menerima titipan dari bakul kue lain.

Lihat selengkapnya