Suara takbir yang berkumandang sejak malam Lebaran mengiringi fajar terbit. Kami bertiga berjalan menuju masjid di lingkungan perumahan. Langkah kami perlahan. Ibu memaksakan senyum tipis menyapa warga yang menuju masjid. Ada sekelompok ibu yang membalas sapaannya dengan ramah. Ada juga yang hanya menyunggingkan senyum bercampur rasa kasihan.
Tiba di masjid, aku menuju ke barisan jamaah pria untuk mencari tempat kosong. Aku duduk di atas sajadah. Para tetanggaku mulai berdatangan dan duduk di sebelahku. Belakangan aku tahu teman-temanku sengaja menungguku untuk menemani salat. Aku gembira bisa Salat Ied bersama mereka. Kebetulan penceramah tidak terlalu lama berbicara di mimbar. Kami pulang dan anak-anak mampir sebentar di rumahku untuk bersalaman dengan ibu dan adikku. Aku cukup terhibur. Sayangnya mereka harus pulang dan berkumpul dengan keluarganya.
Di saat seperti ini, aku sangat merindukan ayah. Aku membayangkan ayah salat di masjid lain. Seperti kebiasaannya ia memakai baju putih dan sarung baru. Seusai salat Ied, ayah pulang ke rumah yang aku tak tahu di mana. Hidangan Lebaran telah menanti, mungkin opor ayam dan lontong. Ayah akan menambahkan krupuk udang dan menyiram dengan kuah opor sampai krupuk terendam. Ia akan memilih sambal goreng ati dan acar ketimun.
Di sini, kami merayakan Lebaran tanpa opor ayam. Ibu memasak Mie Bakso. Mie bakso tidak populer untuk hidangan Lebaran tapi bukan berarti rasanya kalah enak dengan lontong dan opor ayam.
Keluarga ibu baru saja datang dan langsung menuju meja makan. Sambil mengitari meja, adik ibu menunjuk mangkuk besar berisi kuah bakso.