Pada hari kedua Lebaran ibu menerima seorang teman. Ia datang dengan dua anaknya. Ibu mengenalkannya sebagai Tante Lin. Aku belum pernah melihatnya datang ke rumahku.
“Kenapa ia datang di hari kedua sih. Kita harus sediakan minum lagi, kue lagi. Merepotkan saja. Dasar tamu tak tahu diri!” umpat Oca.
“Biarlah Ibu sedikit gembira bertemu dengan teman lama. Biarkan dia bercerita. Aku lihat sudah lama Ibu tidak tertawa.”
Matahari sudah tergelincir ke barat ketika Tante Lin hendak pulang. Ibu mengantar sampai ke pintu pagar. Aku yang juga berharap Tante Lin cepat pulang, agar bisa secepatnya membersihkan rumah dan beristirahat, merasa kecewa sebab ibu masih mengajaknya melanjutkan obrolan.
“Aku tak punya firasat baik tentang teman Ibu. Mungkin dia ada maunya,” kata Oca dan segera masuk ke kamarnya.
Ketika Tante Lin benar-benar pergi, aku segera menggulung karpet yang setahun sekali kami gelar. Ibu membereskan piring dan gelas yang kotor.
“Oca! Bantu ibu dulu.”
Oca keluar dari kamar dengan wajah masam. Ia menumpuk piring-piring semaunya, piring yang lebih lebar di atas piring kecil, piring ceper diletakkan di atas mangkuk.
“Pelan-pelan, Oca.”
“Siapa sih Tante Lin, Bu?”
“Dia teman ibu waktu SMA.”