Matahari pagi menembus tirai jendela. Sinarnya menyilaukan mata. Aku terbangun dan bergegas mandi sebelum Rei menunggu. Aku berjanji akan membersihkan dua gudang di belakang bersamanya.
Setelah mandi aku lewat meja makan dan melihat ibu sedang menyiapkan piring untuk sarapan. Kami akan makan nasi uduk dan telur balado. Lemper ayam yang baru diangkat dari dandang juga disajikan ibu. Rei menghabiskan tiga buah lemper.
“Cukup kenyang kau? Kita harus kerja berat, banyak sekali perabot yang musti dibereskan.”
“Kalau lapar lagi, kalian bisa ambil sendiri di dapur. Tenang saja, Rei,” sahut ibu.
Setelah merasa kenyang, kami siap bekerja. Rei mengganti bajunya dengan kaos lama dan celana pendek. Tadi malam aku sudah mengamati barang mana yang harus dikeluarkan lebih dulu. Bersamaan dengan keluarnya dus-dus besar, keluar pula kecoa dan nyamuk. Aku membuka jendela yang entah berapa lama tak pernah dibuka, agar hawa lembab dapat bertukar udara segar.
Rei membawa cat tembok. Kami mengecatnya menjadi putih bersih. Mbak Inem membersihkan lantainya hingga bisa dipakai untuk bercermin. Bola lampu yang dipasang menerangi sudut-sudut gelap di rumah kami. Dua gudang itu telah menjadi kamar tidur dengan jendela yang mengalirkan kesejukan.
Aku memilah barang yang tak dibutuhkan, pigura foto, hiasan dinding, televisi model lama, kipas angin rusak dan sebuah foto.
“Mengapa foto ayahmu dibuang?”
“Semua barang milik ayah akan aku berikan pada orang. Aku tak ingin melihat lagi barang semacam stik golf, alat fotografi, sepeda statis, treadmil. Aku ingin mengubur semua yang mengingatkanku pada ayah. Tidak sia-sia aku membersihkan gudang ini.”
Tante Lin dan Sita menempati kamar yang lebih besar. Mereka berdua akan tidur di dua ranjang milik Tante Lin. Rei kembali ke rumah kontrakan untuk mengurus barang-barang mereka yang tersisa.
Rei pandai menata kamar ibunya. Semua barang diletakkan dengan proporsional, lemari pakaian di satu sisi dan meja rias di antara dua tempat tidur. Ia mengerti apa yang harus dikerjakan. Mungkin ia sudah terbiasa bekerja mandiri. Rei bisa mengecat, membersihkan noda di tembok, membetulkan pegangan lemari yang copot, menambal semen yang terkelupas, membersihkan kipas angin dan hal lain yang tak bisa kulakukan.
Oca sedang duduk di meja makan, mengudap rengginang dari Mbak Inem yang dibawa dari kampung, sambil mengangkat kaki seperti orang di warung kopi.
“Mengapa belum tidur?”
“Bagaimana mau tidur, orang berisik begitu.”