Kebiasaan makan bersama masih kami lakukan seperti ketika ayah duduk di kepala meja. Tak terkecuali pada hari Minggu. Karena hanya hari Minggu pagi kami bisa berkumpul di meja makan.
Ibu menghias meja makan dengan taplak batik. Motif kawung kecil dengan indigo yang lembut menyemarakkan pagi. Ibu menata 6 piring ceper lebar, sendok garpu dan gelasnya. Namun, semarak pagi yang hadir tiba-tiba terganggu oleh suara serak Oca. Ia baru bangun.
“Mengapa musti ibu sih yang mengatur piring? Suruh Sita mengatur piring. Enak saja tinggal makan.”
“Oca! Seharusnya pagi kita mulai dengan senyum, bukan omelan. Cepat mandi!” perintah ibu dan Oca secepatnya masuk ke kamar mandi.
“Cepat mandi, Oca, torang punya kejutan.”
Oca keluar dari kamar mandi dan siap menanti kejutan dari Tante Lin. Ia memajukan kursinya agar bisa melihat lebih jelas penganan yang dibungkus daun kecoklatan.
“Kok, kejutannya begini. Apa ini?”
“Ini lemper isi ikan.”
“Aku tidak mau, ikan bau amis. Mengapa ibu tidak bikin lemper ayam saja?” Ibu tak menjawab pertanyaan Oca.
“Hari ini menunya lalampa,” sahutku.
Wajah Oca kesal melihat aku membuka daun pisang dengan semangat. Ketan berisi ikan cakalang suwir itu mengeluarkan aroma rempah yang membangkitkan selera. Kejutan lezat itu habis kulahap dalam sekejap.
“Ikan enak begini kok dibilang amis.”
“Masih segar lagi ikannya,” kata ibu.
“Ibu tahu dari mana kalau itu ikan segar?”