Kehangatan Baru

Dyah Anggraini
Chapter #10

Lalampa

Melihat banyaknya orang yang menyukai lalampa, ibu menjual ketan berisi ikan ini di warungnya. Ia belajar membuat bumbu isian lalampa dengan menghaluskan beragam rempah. Ibu perlu latihan berulangkali untuk bisa mendapatkan rasa yang pas di lidah.

           Perkenalan dengan jajanan khas Sulawesi ini membuka mata ibu bahwa masih banyak kudapan dari berbagai daerah di Nusantara yang bisa dijadikan sarapan. Setiap daerah memiliki ciri khas kuliner untuk mengisi perut sebelum bekerja. Setiap keluarga mempunyai kebiasaan sendiri dalam menyantap makan pagi. Ibu merasa yakin penganan ini akan menjadi primadona dagangannya, disamping lemper ayam.

           Tepat ketika kami selesai sarapan, lalampa sudah tersusun rapi di dalam sebuah kotak besar yang siap diantar dengan motor Rei. Dari halte bus, aku dan Oca mempercepat langkah ke pintu gerbang sekolah. Kami tiba ketika Rei sudah menunggu. Boks itu kami antar ke depan kelas Oca. Di depan kelas Oca terdapat bangku kayu, yang kami gunakan untuk menggelar dagangan lemper dan lalampa sampai bel berbunyi.

           “Sumpah, enak banget lalampa ini. Isinya sedap dan ketannya wangi. Siapa yang bikin?”

           “Yang buat pasti jago masak.”

           “Halah, ibuku juga bisa bikin lalampa. Itu sama aja dengan lemper cuma isinya ikan,” sahut Retno.

           “Mungkin semua orang bisa bikin lalampa, tapi rasanya belum tentu enak seperti ini.”

Beberapa siswi yang jarang keluar kelas tersentak mendengar kegaduhan. Mereka tercengang melihat anak-anak mengerubuti kotak besar. Masih memegang bukunya, mereka menghampiri Oca dan ikut membeli lalampa. Hujan pujian makin deras sehingga membuat tambah kesal hati Retno. Ia menjauhi kerumunan.

Ibu Nursiah, wali kelas Oca, tergesa mendatangi mereka setelah mendengar ada keributan. Ia mengira ada anak-anak yang berkelahi. Teman-teman Oca yang sedang membeli lalampa pun bubar. Mereka yang sedang makan segera menjauh.

           “Ada apa ini?” tanya Bu Nur dingin. Aku yang masih berada di situ, tak berani menjawab. Kami semua bungkam. Bu Nur menatap kami satu per satu dengan sorot mata yang membuat anak-anak merinding.  

“Oca menjual lalampa di depan kelas, Bu, bikin kotor saja,” semprot Retno yang mendapat kesempatan menjelekkan Oca.

           “Bu, mungkin ibu mau mencoba lalampa.” Oca mendekati wali kelasnya sambil menyodorkan lalampa terakhir.

Lihat selengkapnya