Kehangatan Baru

Dyah Anggraini
Chapter #11

Warung Mpok Atun

Lemper ayam dan lalampa dikenal orang dari mulut ke mulut. Pertemuan keluarga menjadi tempat mengenalkan kedua jajanan itu. Para tetangga menyampaikan ke orang lain. Teman Oca menyebarkan kabar ini ke kelas-kelas lain, hingga hampir semua anak yang suka jajan mengetahui dan mencobanya. Bahkan kelezatan kedua jajanan ini juga sampai ke ruang guru.

           Akan tetapi, berkah rezeki bagi kami bisa menjadi musibah bagi orang lain. Kegembiraan Oca bisa menjadikan Mpok Atun, pemilik warung sekolah, merasa kecewa. Sejak Oca menjual lalampa, warung Mpok Atun hanya didatangi beberapa orang saja. Warungnya sepi dari hiruk pikuk anak-anak yang ingin jajan.

           Retno dan seorang teman yang tak mau makan lalampa datang ke warung sekolah. Mpok Atun yang sedang menunggu pembeli serta merta menjadi berbinar dan menyapa Retno.

           “Pagi, Neng. Berdua aja nih? Biasanya beramai-ramai. Ke mana yang lain?” tanya mpok dengan suara lembut.

           “Teman-teman sudah beli lalampa, Mpok. Laris banget jualan Si Oca.”

           “Lalampanya pasti enak,” komentar Mpok Atun tersenyum sambil menghidangkan teh manis yang diminta Retno.

           “Betul, Mpok Selain enak, juga mengenyangkan.”

           “Ah, biasa saja,” komentar Retno agak sinis.

           “Pantas, warung Mpok sepi dari kemarin.”

           “Makanya aku kurang senang jika Oca berjualan lalampa. Kasihan Mpok Atun, warungnya jadi sepi,” kata Retno.

           “Ah, itu mah biasa, Neng, namanya orang dagang ya begitu. Seringkali banyak yang beli, tapi kadang juga sepi. Rezeki udah ada yang ngatur atuh, Neng,” ujar perempuan itu. Mpok Atun yang sudah banyak makan asam garam melayani penglaris pagi itu.

           “Yuk, kita masuk kelas, sebentar lagi bel. Ini uangnya, Mpok.” Retno dan temannya beranjak dari warung sekolah dan Mpok Atun membereskan meja setelah mereka selesai sarapan.

Lihat selengkapnya