Lemper dan lalampa di warung Mpok Atun tak pernah bersisa. Anak-anak sengaja mengosongkan perut untuk makan lemper dengan aroma ketan dan rasa gurih ayam suwir. Bagi para penyuka lalampa citarasa ikan cakalang, rasa sedikit pedas dan wangi kemangi menerbitkan sensasi tersendiri. Retno ikut membeli lalampa untuk membuktikan pujian yang membuat hatinya terbakar. Menurutnya pujian mereka terlalu berlebihan.
“Wah, mantap sarapannya. Bisa awet kenyang sampai pukul sembilan,” seru Siska yang duduk di sebelah Retno.
Sementara Retno membuka daun pisang dan mulai merasakan sesuatu yang lezat. Ketika lalampa itu sudah termakan separuhnya, tiba-tiba ia menjerit.
“Hih, ada rambut di dalam lalampa!” Retno mengacungkan sehelai rambut ikal panjang kepada Siska.
Siska menarik mukanya menjauh dari tangan Retno, “Ih, yang bikin jorok banget. Apa matanya sudah katarak? Sayang banget, lalampa enak begini ada rambutnya.”
“Aku sampai mau muntah saking gelinya,” keluh Retno dan berancang-ancang untuk mengeluarkan isi perut.
“Coba lihat rambutnya. Paling juga rambutmu sendiri, Retno.”
“Retno baru ketemu rambut aja udah heboh. Dia belum pernah lihat ada lalat nyemplung di makanan,” celetuk seorang anak laki-laki, yang segera kabur sambil cekakakan.
“Anggap aja itu vitamin supaya kamu tidak loyo, Retno. Justru bagus pagi-pagi udah dikasih vitamin,” sahut anak yang lain. Mereka tertawa keras-keras yang membuat muka Retno seperti udang rebus.
“Nih, lihat rambutnya!” kata Retno gusar kepada anak-anak laki yang menertawakannya. Keluhan Retno tentang rambut di lalampa menjadi bahan candaan anak-anak.