1999
Sejak lepas magrib, hujan yang cukup lebat mengguyur Jakarta. Ibu baru pulang dari toko kue di daerah Mayestik. Ia melepas jas hujan dan sepatu yang basah. Ibu naik bus yang penuh pada jam pulang kantor karena tak ada bajaj yang lewat saat hujan deras.
Kami menunggu ibu mandi untuk makan malam. Sementara itu, Oca masuk lagi ke dapur. Ia telah berulang kali keluar masuk dapur. Adikku sekarang rajin ke dapur, bukan untuk menolong Tante Lin tapi untuk melihat apakah masakannya sudah dapat disantap.
Ibu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Ia berhenti di meja makan dan memperhatikan Sita yang mengatur seperangkat piring makan baru. Warnanya putih polos. Sendok dan garpu ditata seperti pada jamuan makan para pembesar. Di sudut meja, ia letakkan vas bunga krisan. Sementara bau sedap masakan semakin santer ketika Tante Lin membawa mangkuk besar berisi sup panas. Sita membawa botol berisi bawang goreng dan sepiring kecil sambal bawang tanpa tomat. Mbak Inem tergopoh-gopoh membawa piring lalampa hangat. Ibu mengamati ada sesuatu yang lain dari biasa.
“Ada syukuran apa ini?” tanya ibu sambil tak lepas menatap sup ayam yang menggoda.
“Kebetulan hari ini kitorang ada kelonggaran untuk memasak sup ayam kampung. Mari, segera kita santap. Oca sudah tak sabar.”
Tanpa basa-basi kepada Tante Lin, Oca sudah menuang kuah sup ke mangkuknya. Sebelum makan ia menghirup dalam-dalam aroma paduan rempah-rempah. Rei keluar dari kamar dan tergesa menarik kursi. Kami menikmati sup ayam buatan Tante Lin dengan rasa kaldu ayam yang menciptakan efek ketagihan. Walaupun sederhana, sup ayam kampung memberi petualangan lidah yang luar biasa.
“Ibu ada pertanyaan. Apa rahasia sup ayam ini?”
“Kaldu ayam harus kental,” sahut Rei.
“Rempahnya pas takarannya,” kata Oca.
“Betul, tapi torang musti tahu dulu rempah apa yang menjadi rahasia enaknya sup ayam kampung.”
“Namanya rahasia tak bisa dibuka.”
“Masa kalian tidak tahu. Anak tukang masak musti tahu. Ketika kita hirup uapnya sudah tercium bau rempah itu,” kata Tante Lin ngotot kami menjawab pertanyaannya.
“Yaelah, sup ayam itu bukan untuk diperdebatkan tapi untuk dimakan sebelum menjadi dingin.”
Gurihnya kaldu ayam dan kuatnya bumbu rempah mengalir melalui tenggorokanku sampai ke perut. Hangatnya bahkan sampai ke hati. Makan sup ayam kampung bukan hanya tentang kelezatannya tetapi juga merupakan kenangan yang datang kembali. Ayahku gemar makanan enak, tak terkecuali aneka sup. Ingatan tentang ayah selalu tentang kebersamaan yang tercabik. Mengingatnya selalu tentang kesedihan dan kehilangan yang menyakitkan. Tapi kini aku merasakan kehangatan yang baru di rumah kami. Kehangatan yang bukan hanya disebabkan oleh kuah sup, tapi juga datang dari hati yang paling dalam. Nikmatnya sup ayam menyatukan kami dalam kebersamaan yang telah lama hilang.
Ketika Rei akan menambah sup lagi, bel berbunyi dua kali. Aku berhenti makan dan meletakkan sendok dengan hati-hati. Tamu itu menekan bel lagi tiga kali. Kami semua saling bersitatap. Aku melihat wajah ibu pucat. Ketakutan terlihat di mata Oca. Kami semua cemas. Orang itu menekan bel sebanyak lima kali yang menampakkan arogansi. Sikapnya memaksa kami segera menuruti permintaannya. Siapa pun dia, orang itu minta segera dibukakan pintu.
“Bukalah pintu, Rei,” suara Tante Lin memecah ketegangan. Rei berdiri dan berjalan menuju pintu.
Pintu pun terbuka.
Ayah berdiri di sana. Wajahnya masih seperti saat terakhir aku melihatnya. Rasanya sudah lama sekali. Aku melihat tubuhnya lebih kurus. Rambutnya lebih banyak yang putih. Beberapa saat ia terpana. Ayah menatap kami satu per satu. Ayah beralih menatap Rei yang masih berdiri di pintu. Rei memberi jalan agar ayah bisa masuk. Ia langsung menjatuhkan diri di sofa seperti ketika pulang kantor. Aku dan Oca tak menyapanya. Semoga ia tahu bahwa tak mungkin mengharapkan sambutan yang meriah dari kami setelah ia lama pergi. Ibu membiarkan ayah duduk sendiri di sofa.
“Bila kau mengundang orang tinggal di rumahku tentunya harus dengan izin dariku.”
“Jangan menyalahkan orang. Kau sendiri tak memberi tahu ke mana kau pergi,” kata ibu.
Ayah berdiri dan melangkah menuju meja makan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ayah menatap Tante Lin, Sita dan Rei. Tampak sekali ayah tidak menyukai kehadiran mereka. Tatapan tajam ayah membuat Tante Lin, Rei dan Sita meninggalkan ruang tamu. Aku merasa ayah hanya ingin bicara dengan ibu tentang hal penting. Jika tidak penting, ia tak mungkin datang malam-malam dan menekan bel sampai kami ketakutan. Maka aku dan Oca juga ikut masuk ke ruang tengah.
Di ruang tengah, aku bisa mendengar percakapan ayah dan ibu. Aku mendengar ayah mulai dengan sebuah cerita sukses. Cukup lama ayah bicara tapi belum sampai ke topik utama.
“Cepat katakan tujuanmu datang kemari. Kau telah mengganggu makan malam kami,” potong ibu.
“Aku akan menjual rumah ini,” kata ayah hampir tak terdengar. Ia berdehem keras. Suara ayah serak, mungkin ia terserang batuk yang parah. Mungkin ia telah lama sakit, barangkali juga tak pergi ke dokter.