Kehangatan Baru

Dyah Anggraini
Chapter #16

Pelatih Karate

Rei sudah bergumul dengan olahraga karate dari kecil. Tak mengherankan bila jiwanya telah menyatu dengan seni bela diri itu. Rei menyerang dengan gaya yang luwes. Suatu perpaduan antara ketegasan dan keindahan. Pada saat yang sama ia bertarung bagai pendekar dengan tetap menjaga keindahan seni.

Aku mulai tertarik belajar karate. Pengalaman kami dijambret di jalan mendorongku belajar karate. Sebelum kejadian itu aku tak pernah membayangkan untuk belajar ilmu bela diri. Dalam hidupku, aku tak pernah harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan sesuatu. Semua yang kuinginkan sudah tersedia tanpa aku bersusah payah. Aku belum paham bahwa hidup ini harus diperjuangkan.

           Kami tiba di tempat Rei latihan. Banyak orang muda dan anak kecil yang sedang berlomba menunjukkan kebolehan jurus-jurus mereka yang membuat aku bertambah minder. Menyadari kedatangan Rei, beberapa anak menghentikan latihan mereka dan menghampiri kami.

           “Kak, aku sudah banyak kemajuan lho,” kata anak laki-laki dengan percaya diri. Ia memamerkan satu jurus karate kepada Rei.

           “Apakah itu namanya jurus Tondano?” tanyaku ke pada anak-anak dan mereka menertawakan aku. Jurus Tondano nama yang diberikan Rei untuk satu gerakan menangkis serangan. Rei akan bertahan dengan menangkis serangan sedapat mungkin sebelum menyerang. 

Anak-anak lain ikut datang dan mengerubuti kami. Rei hanya tersenyum, kadang mengangguk. Ia tak banyak bicara. Sejak aku mengenalnya, banyak hal yang kupelajari dari Rei. Rei rendah hati tapi tetap punya percaya diri yang besar. Sifat lain yang aku kagumi, ia tak mudah menyatakan kalah.

Lihat selengkapnya