2000
Ayah dan ibu telah resmi bercerai. Aku mendukung sepenuhnya niat ibu untuk menggugat cerai. Proses perceraian berlangsung cukup lama. Tante Lin membantunya mengurus surat-surat yang diperlukan. Ketika proses itu sedang berjalan kami diliputi kekhawatiran. Banyak cerita yang mengatakan proses itu sering disertai hal-hal yang tidak mengenakkan. Kami menunggu dengan berdebar hingga aku sulit tidur sampai keputusan yang ditunggu terlaksana.
Di satu sisi, aku senang bahwa ibu sudah bebas dari tekanan tapi aku juga sedih. Perceraian bukan hanya mengakibatkan kesedihan, kesendirian dan kehilangan. Prosesnya yang tak sederhana menghabiskan tenaga, waktu dan uang. Maka aku berpikir, mengapa ada sebagian orang yang memutuskan untuk bercerai?
Tante Lin juga merupakan korban perceraian. Suaminya meninggalkan mereka ketika Rei dan Sita masih kecil. Suaminya ketua lembaga pemerintah di kota Manado. Pada satu kesempatan, ia bertemu perempuan muda belia. Sejak itu nasib tak lagi berpihak kepada Tante Lin. Mereka berpisah dan Tante Lin harus menghidupi dua anaknya. Suaminya menjual rumah mereka dan ia tak mendapat apa-apa. Ketika ia mendengar ayah akan menjual rumah kami, Tante Lin memperingatkan agar ibu berhati-hati.