Tempo hari aku mengantar ibu menyetor uang ke bank. Ibu dilayani oleh pegawai yang berparas manis dan ramah. Ia menanyakan kegiatan ibu dan menawarkan kredit untuk pengembangan usaha.
“Ibu pikir-pikir dulu. Keputusan untuk meminjam uang harus melihat kemampuan kita membayarnya.”
“Jika ibu meminjam uang, usaha kita bisa jadi besar seperti usaha ibunya Retno.”
Ibu menarik napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya dan menatap lurus ke depan seperti kebiasaannya bila sedang memikirkan sesuatu yang serius.
“Apakah ibu tidak senang usaha kita berkembang?”
“Ibu takut memegang uang banyak, apalagi itu hasil utang. Jika kita mendapat utangan, bisa jadi usaha kita lebih maju, tapi kita menanggung beban utang dan bunganya.”
“Ah, ibu kuno. Tak ada usaha yang tak berutang di bank sekarang ini,” kata Oca.
Usaha kue kami berjalan dengan kecepatan biasa. Ibu banyak menerima pesanan dan ia bisa mengelola keuntungannya dengan baik. Namun, pengeluaran kami juga banyak. Sebentar lagi Oca akan lulus SMA. Jika ibu punya uang Oca berniat mendaftar di perguruan tinggi yang akan memerlukan tidak sedikit biaya.
“Tidak mengapa ibu kerja keras, asal kita tidak berutang.”
Walaupun pergerakan uang lambat, setiap hari pekerjaan berjalan normal. Hari itu semuanya telah tuntas. Sementara Mbak Inem menata lemper dan lalampa pesanan orang, Tante Lin yang menghitung.