Kehangatan Baru

Dyah Anggraini
Chapter #24

Bubur Ayam Kemahalan

Khusus untuk hari Minggu, ibu menambah jumlah porsi bubur ayam dan nasi uduk. Pada Minggu pagi, banyak orang yang mencari sarapan sehabis lari pagi. Sita menata alat makan, menyiapkan pelengkap bubur ayam seperti bawang goreng, seledri, cakwe, krupuk, sambal. Oca merapikan taplak meja, membetulkan letak botol kecap, garam di meja pengunjung. 

Tidak lama setelah semua siap, mulai ada pengunjung yang datang. Dua anak perempuan masuk ke warung kami. Mereka memesan bubur ayam. Tampak menikmati sajian kami, mangkok mereka licin dalam waktu singkat. Mereka tak sempat bicara, mungkin karena lapar atau karena bubur ayam kami harus disantap tanpa jeda. Pada saat membayar, mereka terkejut melihat harga bubur ayam.

“Harga 2 porsi bubur ayam nggak salah nih?” Dua gadis itu tak percaya harganya bisa semurah itu.

“Betul, kak, itu harganya. Kami memberikan harga khusus selama pekan ini,” kata Oca.

           “Wah, terima kasih, bubur ayamnya enak dan porsinya banyak.”

Kedua anak remaja berpakaian training itu beranjak dari meja. Mereka memberi Oca tip. Baru kali ini ia mendapat tip yang cukup besar. Oca membersihkan meja menjadi lebih licin dan mencuci piring dengan senandung riang. Ia bertambah giat melayani pengunjung dengan senyum yang tak lepas setiap ada yang datang.

Pengunjung lain datang bersamaan dan membuat Oca sibuk. Ia senang melihat pengunjung gembira menikmati bubur ayam dengan harga promosi. Mungkin bagi mereka murah sekali. Setelah warung agak sepi, datang dua orang perempuan muda. Keduanya memesan bubur ayam.

Oca kaget ketika memberikan tagihan pembelian makanan. Dua perempuan itu menghujani Oca dengan keluhan yang tak memberinya kesempatan bicara.

“Mbak, ini jual bubur atau air? Buburnya encer banget. Ayamnya cuma sedikit. Irisan cakwe terlalu tipis. Rasanya hambar, sama bumbu aja pelit. Kenapa bisa parah begini sih, Mbak. Kalau jualan yang niat dong.”

Lihat selengkapnya