Almamater ibu mengadakan acara reuni akbar di sebuah hotel mewah di Mega Kuningan. Acara ini sangat membahagiakan. Ibu bertemu dengan teman lama. Masing-masing orang punya cerita suka dan duka. Ada yang sudah hidup berkecukupan dan anaknya sekolah di luar negeri. Ada pula yang datang dengan kisah sedih, berpisah dari suami seperti ibu. Namun banyak teman ibu yang mengapresiasi perjuangannya membangun usaha dari nol.
Mendengar ibu punya usaha kue, mereka mengenalkan ibu dengan seorang senior. Namanya Pak Wisnu Wardana. Pak Wisnu adalah pemilik hotel tempat acara berlangsung. Ia berjanji akan mengenalkan ibu kepada stafnya di bagian pengadaan makanan. Ia membuka kemungkinan ibu menawarkan makanan karena hotelnya setiap hari butuh kue-kue untuk coffee shop.
“Ani jarang datang ke reuni, tapi sekalinya muncul langsung dapat proyek. Bayangkan aja, memasok makanan dan kue untuk hotel bintang lima,” komentar teman ibu.
“Eh, ngomong-ngomong, Wisnu sudah duda lho,” bisik teman sekelas yang paling gemar gosip sambil cekikikan.
“Ya, biarlah, duda sama janda tidak masalah. Yang jadi soal itu kalau perempuan yang mengambil suami orang.”
“Kita doakan saja. Eh, dia orangnya baik lho. Banyak teman kita yang dimasukkan kerja. Bukan cuma baik, duitnya juga banyak. Itu yang penting.” Celotehan teman-teman ibu menambah ramai suasana acara tersebut.
Setelah reuni lama berlalu, ibu bahkan telah lupa siapa Pak Wisnu, ia mengirim bunga pada hari ulang tahun ibu. Karangan bunga anggrek yang setinggi 1 meter itu datang pagi hari ketika kami sedang sibuk menyiapkan dagangan kue.
Pak Wisnu datang ke rumah sesudah jam kantor pada sore harinya. Ia mengenakan setelan jas hitam, dasi kuning dan sepatu hitam. Wajahnya licin dengan pipi tembam dan hidung lebar. Sikapnya agak angkuh. Dagunya mendongak jika sedang bicara. Matanya menghindari tatapan lawan bicara. Ketika datang ke rumahku, Pak Wisnu memakai mobil hitam. Sopirnya meminggirkan mobil dengan hati-hati karena khawatir tersenggol motor dan pedagang kecil di jalan sempit rumah kami. Bapak pengusaha hotel itu belum turun dari mobil sampai sopirnya membukakan pintu.
“Saya baru pulang dari meeting dengan orang pemerintah. Kebetulan tempat pertemuan dekat dan saya mampir ke sini,” kata Pak Wisnu menjelaskan bahwa ia sibuk.
Bapak pengusaha besar itu duduk di sofa panjang dengan sikap yang diatur. Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang perhotelan, Pak Wisnu selalu ingin melihat tata ruang yang indah, nyaman dan sejuk. Ia mengamati isi rumah kami. Wajahnya tampak miris melihat kondisi rumah. Ruang tamu kami kecil. Ia mengamati perabot murahan yang diletakkan tidak semestinya, kursi tamu yang tidak satu stel, dinding yang polos tanpa lukisan. Meja besar di pojok ruangan yang menyita tempat dan memberi kesan dipaksakan.
“Saya tidak bisa bayangkan usaha kue dijalankan dari rumah sekecil ini. Apa bisa memasak begitu banyak di dapurmu?”
“Kami sanggup bekerja di tempat yang kecil. Proses memasak makanan jarang mengalami kendala. Selama ini pelanggan puas. Bukankah itu tujuannya?”
“Jika kau akan melayani partai besar perlu tempat yang lebih luas.”
“Saat ini, kami belum berpikir untuk mencari rumah yang lebih besar.”
“Sekarang memang belum karena mencari rumah bukan barang mudah. Mungkin kau juga akan perlu tambahan modal. Oya, bisa ditambahkan AC di sini.”
“Ya, tapi kami akan lakukan sesuai kemampuan.”
Pak Wisnu tertawa sumbang seperti menertawakan ibu yang menjalankan usaha model orang zaman dulu. Ia menganggap ibu tak mau mengikuti derap kemajuan, bahwa bisnis seharusnya memiliki tambahan modal untuk bergerak maju.
Di antara suasana hening, Oca menghidangkan lemper ayam, pastel, kelepon dan kue lapis ijo. Dua cangkir teh ia letakkan di hadapan ibu dan tamunya. Ibu menyilakan bapak pengusaha itu mencicipi kue.
Pak Wisnu melirik arlojinya. Bapak yang sibuk itu pamit pulang untuk acara wawancara dengan televisi swasta. Ia tak lupa berpesan akan mempromosikan usaha ibu.
“Kalau kau butuh modal, saya akan sediakan berapa pun kebutuhanmu. Jangan merasa sungkan.”
***
Pengusaha hotel terbaru di Jakarta itu datang lagi ke rumah. Ibu kebetulan ada di rumah pada Minggu pagi.