Pagi itu, kakak Dedek datang ke rumahku. Ia mengundang aku untuk menghadiri acara tahlilan Dedek, sekaligus memesan 100 nasi boks. Tahlilan itu akan diadakan besok malam. Sebelum menerima pesanan, aku lapor kepada ibu. Ibu segera menjawab untuk mengambil saja pesanan untuk tahlilan Dedek walaupun kami belum punya persiapan menerima pesanan nasi boks.
“Kau beli karton untuk dus di toko terdekat. Harganya lebih mahal sedikit tak apa. Soal masak itu gampang, kalau perlu kita panggil tetangga di belakang rumah.”
Aku tak mendebat lagi.
“Biar sulit kita harus ambil kesempatan ini. Ibu akan melakukan semua usaha agar pesanan ini tepat waktu. Memang Ibu merencanakan untuk menerima pesanan nasi boks.”
Aku siap meluncur ke toko perlengkapan makan ketika Rei datang untuk makan siang. Ia selalu menyempatkan makan di rumah, kendati ia punya uang. Sesudah makan ia masih punya waktu istirahat satu jam.
Kami berdua pergi membeli karton untuk dus, plastik dan alat makan. Motor melaju kencang menembus macetnya Jakarta. Mendekati perempatan jalan, sebuah mobil sedan hitam mendahului kami. Dia seperti sengaja mepet motor Rei. Untung kami tidak jatuh, hanya sedikit oleng dan lumayan membuat kaget.
“Itu mobil ayahku! Siapa yang membawanya?”
“Sepertinya anak muda.”
Ah, aku jadi tidak konsentrasi pada tugas kami. Pikiranku dongkol. Aku marah. Dia sengaja mepet motor Rei. Aku tidak terima sikapnya yang ugal-ugalan. Aku hendak turun menghampiri orang di mobil itu dan menanyakan apa maksudnya menyenggol motor Rei. Tapi Rei mencegahku. Sementara lampu hijau telah menyala dan kendaraan bergerak. Aku benci karena belanjaan kami berhamburan. Sebagian tak bisa digunakan karena sudah lecek dan dilindas mobil.
Aku sampai di rumah dengan muka tegang. Ajakan makan ibu aku tolak. Aku langsung masuk kamar. Di kamar, aku tak bisa tenang mendengar suara berisik di dapur. Ibu sibuk memberi petunjuk kepada Oca yang sering susah diatur.