2005
Kami bertiga pergi ke rumah Om Kun. Ia menyambut kami dengan baik, menanyakan keadaan ibu dan sekolahku. Kami diajak menemui ayah di kamarnya. Ayah tampak sedang tidur. Mendengar suara kami, ia membuka mata. Ia hanya menatap kami tanpa berkata apa-apa. Memang aku juga tak mengharapkan ia mengatakan sesuatu, apalagi permintaan maaf. Aku sudah memaafkannya tanpa ia meminta. Semoga itu akan membuat ia merasa lebih baik. Setelah ia menutup mata kembali, kami keluar dan berbicara di luar.
Pamanku sudah mendengar bahwa ayah sakit-sakitan tetapi ia tak menyangka kondisinya begitu parah. Ia membawa ayah ke rumahnya setelah melihat fisiknya yang makin mengkhawatirkan. Dengan lapang dada, keluarga Om Kun menerima dan merawat ayah.
Aku mendengarkan dengan rasa yang tak bisa kuungkapkan. Aku tak tahu harus merasa iba, sedih atau marah. Om Kun menumpahkan banyak cerita tentang penyakit ayah. Ayah tak mau dibawa ke rumah sakit. Memang melihat keadaannya aku tak dapat berharap banyak. Mungkin yang dapat kami lakukan hanya meminta yang terbaik baginya.
Setelah cukup lama kami bersilaturahmi, aku segera minta diri. Melihat wajah lelah pamanku, kami tak dapat berbincang lebih lama. Pamanku bukan hanya lelah fisik tapi juga batinnya. Ia perlu istirahat setelah setiap malam menjaga ayah.
Di rumah, aku tak bisa memejamkan mata sekejap saja. Wajah ayah yang tirus dan tubuhnya yang telah habis terbayang terus di mataku. Melihat penderitaannya aku tak lagi menyimpan rasa marah, sebaliknya aku merasa iba.
Hingga azan subuh aku masih terjaga. Panggilan salat dari masjid menenangkan batin. Tak ada yang lebih baik dari mengambil air wudhu dan salat. Selesai salat aku bersujud untuk mendoakan ayah, yang selama ini tak pernah kulakukan. Selama ini aku telah menghapus namanya dari doaku. Meskipun terlambat aku berharap doaku didengar. Aku melipat sajadah dengan hati lebih ringan.
Cahaya terang mulai merambah pekarangan rumahku, ketika anak Om Kun datang dan mengabarkan ayahku sudah pergi. Aku membangunkan seisi rumah. Kami bersiap untuk melayat ke rumah pamanku. Di sana, kami bergabung dengan pelayat lain sesudah jenazah dimandikan. Aku berdiri di barisan depan pada waktu salat jenazah dilaksanakan. Saat itu tak ada lagi macam-macam perasaan dalam benakku, yang ada hanya khusuk memohon kepada-Nya untuk memberi kemudahan jalan bagi ayah. Sebab aku tahu benar, perjalanan ayah tak akan mudah.
Mobil jenazah telah bergerak di tengah lalu lintas yang ramai. Kami sampai di pemakaman. Mereka menyediakan kursi untuk ibu dan Tante Lin. Di deretan depan duduk kerabat ayah lainnya. Aku, Rei dan Oca berdiri di belakang.
Matahari mulai terik ketika jenazah akan diturunkan ke liang lahat. Salawat terus dikumandangkan. Aku ikut masuk ke lubang makam ketika jenazah diturunkan. Ketika paman akan mengucapkan azan terdengar teriakan seorang perempuan.
“Tolong, Pak, jangan ditutup dulu. Aku istrinya. Aku harus melihat suamiku untuk terakhir kali,” seru perempuan yang baru datang. Dia istri ayahku.
Seorang keluarga memberi penjelasan kepada istri ayah yang mengancam masuk ke dalam lubang jika jenazah tidak diangkat dan dibuka.
“Maaf, kami tak bisa menunda pemakaman. Jenazah harus kami kuburkan sebelum azan dzuhur. ”
Dua orang keluarga ayah menarik perempuan itu menjauh dari liang lahat. Upaya mereka mendapat perlawanan. Kedua anak laki-lakinya terlibat percekcokan dengan keluarga ayah. Pemakaman jenazah ayahku terganggu. Tempat peristirahatan terakhir yang seharusnya tenang itu jadi bising di siang bolong. Insiden itu menarik perhatian pelayat maupun peziarah makam.