
Pagi di pinggiran kota Bandung selalu datang dengan kabut tipis yang merayap pelan di antara daun-daun pinus, membawa aroma tanah basah yang menenangkan jiwa. Di sebuah beranda kayu sederhana yang menghadap langsung ke lembah hijau, Ghazi Arkana duduk seorang diri. Secangkir teh jahe hangat mengepul di atas meja kayu mahoni tua, kontras dengan udara dingin yang menusuk tulang. Bagi Ghazi, arsitek lansekap berusia tiga puluh dua tahun, pagi bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah lembaran ayat-ayat kauniyah yang terhampar luas tanpa batas.
Matanya menatap tajam namun penuh kedamaian ke arah deretan pohon rasamala yang menjulang tinggi, menembus kabut putih yang perlahan tersibak oleh mentari. Di matanya, garis-garis kontur tanah, aliran air sungai kecil di dasar lembah, hingga pola retakan pada batu-batu kali bukanlah sekadar elemen visual estetis. Semuanya adalah bentuk tadabbur, sebuah bahasa sunyi dari Sang Pencipta yang memanggil akalnya untuk merenung.
"Alam tidak pernah salah menempatkan akar, Ghazi," gumamnya pelan pada diri sendiri, menyeruput teh hangatnya perlahan. "Manusia saja yang kerap terburu-buru merusak harmoni yang telah dirancang dengan begitu sempurna."
Sebagai seorang arsitek lansekap yang mendirikan biro kecil bernama Riksa Buana, Ghazi dikenal bukan karena desain betonnya yang megah, melainkan karena filosofinya yang teguh: membangun tanpa merusak, merajut kembali apa yang telah koyak oleh modernisasi. Di meja kerjanya yang penuh dengan gulungan sketsa kertas kalkir dan pensil arang, terpampang prinsip hidupnya: Menghidupkan bumi, bukan menaklukkannya.
Suara derit pintu gerbang kayu mengusik lamunannya. Seorang pemuda berjaket denim lusuh, Rian, asisten mudanya, muncul dengan napas memburu dan sebuah map tebal di tangannya.
"Mas Ghazi, maaf pagi-pagi sudah mengganggu. Tapi kita dapat panggilan darurat dari klien lama kita, atau lebih tepatnya... proyek yang bakal jadi ujian terbesar kita tahun ini," ucap Rian setengah tersengal, melempar pandangan gelisah ke arah lembah.
"Duduk dulu, Rian. Tarik napasmu," jawab Ghazi tenang, tanpa sedikit pun mengubah posisinya. "Tidak ada yang terlalu darurat jika kita menyandarkan segala urusan pada ketetapan-Nya. Kopi atau teh?"
"Teh saja, Mas. Dingin banget di luar," sahut Rian, duduk dan langsung menyambar cangkir cadangan. "Ini soal proyek revitalisasi kawasan ekowisata dan pemulihan daerah aliran sungai di kaki Gunung Merbabu. Luasnya hampir dua puluh hektar, Mas. Dan masalahnya... investornya bukan orang sembarangan."
Ghazi menaikkan sebelah alisnya. "Siapa?"
"Darmawangsa Group. Dipimpin langsung oleh Direktur Utama baru mereka, Arya Darmawangsa."
❖ ❖ ❖
Mendengar nama Darmawangsa Group, Ghazi terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa mereka—raksasa properti komersial yang terkenal dengan proyek-proyek beton masif, mal mewah, dan perumahan elite yang kerap menggusur ruang-ruang hijau produktif. Pertemuan antara prinsip Ghazi yang ekologis dan ambisi korporat sebesar itu bagaikan minyak dan air.
"Arya Darmawangsa," ulang Ghazi pelan, merasakan ketukan ritmis dari nama itu di kepalanya. "Kenapa mereka memanggil Riksa Buana? Bukankah gaya mereka bertolak belakang seratus persen dengan konsep kita?"
"Itulah inti masalahnya, Mas," Rian membuka map tebal di hadapan Ghazi, memperlihatkan lembaran dokumen kontrak dan cetak biru kawasan. "Kawasan kaki Gunung Merbabu itu mengalami longsor parah tahun lalu akibat alih fungsi lahan yang brutal oleh anak perusahaan mereka sebelumnya. Pemerintah daerah memberikan ultimatum keras: pulihkan kawasan itu dalam waktu enam bulan, atau izin konsesi dicabut permanen dan mereka kena denda pidana lingkungan."
Rian mencondongkan tubuhnya, menatap Ghazi serius. "Arya ingin kita yang merancang masterplan pemulihannya. Bukan sekadar menanam pohon, tapi mengembalikan fungsi hidrologis tanah secara total, membangun sistem mitigasi bencana berbasis alam, sekaligus merestorasi mata air yang mati."
Ghazi membolak-balik lembaran cetak biru tersebut. Matanya langsung menangkap berbagai kejanggalan struktural pada desain lama korporasi tersebut. Garis-garis kontur yang dipotong paksa demi jalan raya buatan, drainase semen yang justru mempercepat erosi, serta hilangnya daerah resapan air.
"Mereka mencoba melawan hukum alam dengan semen dan baja," ucap Ghazi lirih, jemarinya meraba kontur topografi pada kertas kalkir. "Dan sekarang, alam menagih utangnya."
Bagi Ghazi, ini bukan sekadar tawaran pekerjaan dengan nilai kontrak yang fantastis. Ini adalah sebuah misi moral. Tujuan utamanya jelas: ia ingin membuktikan bahwa modernitas dan kelestarian alam bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling mematikan. Ia ingin mengembalikan hak-hak bumi yang dirampas, menjadikan tanah Merbabu bernapas kembali, dan menyadarkan para pemegang modal bahwa keindahan sejati tercipta dari ketaatan pada sunnatullah, bukan dari ambisi manusia untuk menaklukkan segalanya.
"Kita ambil proyek ini, Rian," ujar Ghazi mantap, menatap lurus ke mata asisten mudanya.
"Serius, Mas? Tapi syarat dari Arya Darmawangsa sangat ketat dan arogan. Mereka ingin hasil instan dalam waktu enam bulan. Padahal menyembuhkan tanah yang terluka butuh proses bertahun-tahun," protes Rian cemas.
"Justru karena itu kita harus masuk ke sana," balas Ghazi dengan senyum tipis yang menenangkan. "Kita tidak sedang melayani arogansi mereka, Rian. Kita sedang menyampaikan pesan Tuhan melalui goresan pena dan rancangan lansekap kita."
❖ ❖ ❖
Siang menjelang ketika Ghazi dan Rian tiba di kantor pusat Darmawangsa Group di kawasan perkotaan Bandung yang padat. Gedung pencakar langit berlapis kaca gelap itu berdiri angkuh, memantulkan terik matahari yang menyengat—sebuah antitesis total dari ketenangan lembah pinus tempat Ghazi merenung tadi pagi.
Langkah kaki mereka menggema di atas lantai marmer mengkilap menuju ruang rapat utama di lantai tiga puluh dua. Sepanjang perjalanan, Ghazi mengamati bagaimana arsitektur modern perkotaan seringkali mengabaikan kenyamanan manusia itu sendiri; ruang-ruang hampa tanpa sirkulasi udara alami, AC yang menderu dingin artifisial, dan ketiadaan elemen hijau yang bisa menyegarkan mata.
"Selamat pagi, Pak Ghazi. Pak Arya sudah menunggu di dalam," sapa seorang sekretaris berpakaian rapi dengan senyum profesional yang kaku.
Pintu kaca besar terbuka. Di ujung meja rapat oval dari kayu jati hitam, duduklah seorang pria paruh baya berjas kelabu rapi dengan postur tegap dan sorot mata tajam penuh perhitungan. Arya Darmawangsa. Di sampingnya berdiri dua orang konsultan teknik senior yang tampak skeptis melihat penampilan Ghazi yang hanya mengenakan kemeja linen polos lengan panjang dan celana katun kasual.
"Silakan duduk, Arsitek," sapa Arya tanpa basa-basi, suaranya berat dan berwibawa. Tangannya melipat di atas meja, menatap Ghazi lekat-lekat. "Saya tidak punya banyak waktu. Proyek Merbabu adalah pertaruhan besar bagi reputasi perusahaan saya. Saya dengar Anda satu-satunya orang yang sok idealis menolak proyek-proyek komersial kami sebelumnya karena alasan 'etika lingkungan'."
Ghazi menarik kursi dan duduk dengan tenang, meletakkan tas kerjanya di lantai tanpa terburu-buru. Ia membalas tatapan Arya dengan senyuman ramah namun tegas.
"Saya tidak menolak rezeki, Pak Arya. Saya hanya menolak desain yang mendeklarasikan perang terbuka terhadap alam," jawab Ghazi tenang, membuat dua konsultan di sebelah Arya saling melirik tidak suka.
Arya tersenyum tipis, sebuah senyum sinis yang menyembunyikan rasa penasaran. "Baguslah kalau begitu. Anda punya nyali. Mari kita lihat apakah nyali Anda sebanding dengan kemampuan teknis Anda. Kontrak ini bernilai miliaran, tapi target waktu Anda sangat ketat: enam bulan untuk mengubah kawasan tandus itu menjadi zona ekowisata yang aman dan lolos audit AMDAL nasional. Deal?"