Suara ketukan butiran hujan yang menghantam kaca jendela loteng itu terdengar seperti ketukan ritmis yang konstan, menemani malam yang kian larut di sudut kota Yogyakarta. Udara dingin merembes melalui celah-celah kayu kusen, membawa aroma petrichor yang khas, menyatu dengan bau cat akrilik dan kertas sketsa yang menumpuk di atas meja kerja. Jam dinding antik di sudut ruangan menunjukkan pukul 01.15 WIB. Di bawah temaram lampu meja berwarna kuning hangat, seorang wanita duduk bersimpuh di atas karpet bulu tipis, memeluk lututnya sejenak sebelum kembali meraih pensil grafit di sisi kanannya.
Namanya Samaira Fathia. Usianya baru menginjak 26 tahun, namun garis-garis kelelahan di sekitar matanya menyiratkan beban hidup yang datang lebih cepat dari usia semestinya. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu adalah saksi bisu dari segala pergulatan batinnya selama dua tahun terakhir. Dinding ruangan dipenuhi oleh tempelan sketsa anatomi, ilustrasi buku anak-anak yang belum selesai, serta beberapa ayat Al-Qur'an berkaligrafi sederhana yang ditulis tangan di atas kertas kusam untuk meneguhkan hatinya di kala asa mulai surut.
"Ya Allah, mudahkanlah urusanku dan lapangkanlah dadaku," gumam Samaira pelan, bibirnya bergerak lirih seraya mengusap wajahnya yang pucat. Rambut hitam sebahu miliknya diikat seadanya menggunakan jepit rambut plastik yang hampir patah.
Di hadapannya terbentang sebuah meja kayu jati tua tempat ia mencari penghidupan sebagai ilustrator lepas. Layar laptop di sebelah kanannya menampilkan sebuah surel berstatus unread dari sebuah penerbit mayor di Jakarta. Surel itu adalah penentu; apakah kontrak kerja samanya akan diperpanjang atau justru diputus secara sepihak akibat keterlambatan penyerahan bab terakhir dari proyek buku ilustrasi bertema Islami yang sedang iagarap.
Pintu kamar kosnya berderit pelan, disusul oleh suara ketukan lembut sebanyak tiga kali.
"Sam? Belum tidur? Ini teh hangat buat kamu," suara Ibu Ningsih, pemilik rumah kos tempat Samaira bernaung, terdengar ramah di balik pintu.
Samaira bangkit dari duduknya, merapikan cardigannya yang sedikit kebesaran, lalu membukakan pintu. "Belum, Bu. Masih ada beberapa revisi warna yang harus dikirim malam ini sebelum batas waktunya habis besok pagi."
Ibu Ningsih tersenyum hangat, menyerahkan cangkir keramik berisi teh jahe mengepul. "Jangan terlalu diforsir, Nduk. Rezeki itu sudah diatur, tidak akan tertukar. Tapi kesehatan badan itu amanah dari Allah yang harus dijaga."
"Ibu benar. Terima kasih banyak ya, Bu. Selalu saja repot-repot tengah malam begini," jawab Samaira tulus, menerima cangkir tersebut dengan kedua tangan. Kehangatan teh itu merambat melalui telapak tangannya, sedikit meredakan gemetar akibat kelelahan yang mendera sejak pagi.
❖ ❖ ❖
Kembali duduk di kursi kerjanya, Samaira menyeruput teh jahe buatan Ibu Ningsih perlahan. Pikirannya kembali melayang pada tujuan utama yang ia tetapkan sejak memutuskan pindah ke kota ini setelah kepergian kedua orang tuanya dalam kecelakaan maut tiga tahun silam. Target utamanya sederhana namun penuh pertaruhan: menyelesaikan pelunasan sisa utang peninggalan sang ayah, serta membangun sebuah studio ilustrasi kecil yang berfokus pada literasi anak bernilai dakwah dan edukasi moral.
Bagi Samaira, menggambar bukan sekadar goresan warna di atas kertas atau piksel di layar digital; seni adalah bentuk ibadah, sarana untuk menyampaikan keindahan Islam kepada generasi muda melalui visual yang menyentuh hati. Namun, idealisme sering kali harus berbenturan dengan kenyataan pahit industri kreatif yang menuntut kecepatan di atas kedalaman makna.
"Aku harus bisa menyelesaikan ilustrasi karakter utama ini malam ini juga," tekad Samaira dalam hati, menatap layar tablet grafisnya.
Ia membuka kembali berkas proyek bertajuk Kisah Sahabat Cilik di Lorong Waktu. Tenggat waktunya adalah pukul 08.00 pagi ini. Sisa halaman yang belum terselesaikan ada tiga panel penuh dengan detail latar belakang arsitektur era kekhalifahan Abbasiyah yang rumit. Tangannya mulai bergerak lincah, menarik garis demi garis dengan presisi tinggi menggunakan stylus.
Ponsel di sebelah meja berdering singkat, menampilkan pesan teks dari Malik, mantan rekan kerjanya di agensi periklanan dulu.
“Sam, tawaran posisi Art Director di agensi kita masih terbuka buat kamu. Gaji tetap, fasilitas lengkap. Kenapa masih bertahan dengan proyek independen yang tidak pasti itu?”
Samaira menatap pesan tersebut cukup lama. Jemarinya terdiam di atas tombol kibor. Tawaran Malik sangat menggiurkan di tengah situasi keuangannya yang menipis. Namun, bayangan nilai-nilai idealis yang ia pegang teguh membuatnya ragu. Di agensi komersial tersebut, ia kerap diminta menggambar visual yang tidak sejalan dengan prinsip kesederhanaan dan etika Islam yang ingin ia jaga.
Ia membalas pesan itu dengan penuh kehati-hatian.
“Terima kasih banyak atas tawarannya, Malik. Tapi untuk saat ini, aku ingin fokus menyelesaikan jalan yang sedang aku rintis. Mohon doanya ya.”
Samaira menutup aplikasi pesan dan kembali memfokuskan pandangannya pada layar. Targetnya jelas: ia ingin mandiri secara finansial tanpa harus menjual prinsip moral yang telah ia tanamkan dalam setiap goresan penanya. Kegigihan ini bukan sekadar ambisi duniawi, melainkan bentuk ikhtiar untuk membuktikan bahwa seorang perempuan yatim piatu pun mampu berdiri di atas kaki sendiri dengan cara yang diridhai-Nya.
❖ ❖ ❖
Waktu terus merayap maju. Jarum pendek jam dinding menunjuk ke angka tiga dini hari. Suasana luar semakin sunyi, menyisakan deru angin malam yang sesekali menggoyang ranting pohon mangga di halaman depan kos. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara letupan kecil dari arah soket listrik di sudut meja kerja Samaira, disusul oleh bau hangus yang menyengat.
Jantung Samaira berdegup kencang. Layar komputer utamanya mendadak padam total.
"Ya Allah! Astagfirullahaladzim!" teriak Samaira tertahan, segera melompat dari kursinya dan mencabut kabel sambungan listrik dengan tangan bergetar.
Ia menekan tombol daya komputer berkali-kali, namun layar tetap gelap gulita. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Pikirannya langsung tertuju pada satu hal yang paling ia takutkan: berkas ilustrasi bab terakhir proyek buku anak yang belum sempat ia simpan secara otomatis ke penyimpanan awan (cloud) selama dua jam terakhir.
Dengan panik, ia beralih ke tablet grafis cadangannya. Beruntung, sebagian draf masih tersimpan di memori internal perangkat tersebut, namun file resolusi tinggi beserta lapisan warna (layers) yang telah ia kerjakan seharian penuh berada di harddisk eksternal yang terhubung ke komputer yang baru saja mengalami korsleting.
"Jangan sekarang, ya Allah... kumohon, jangan sekarang," bisik Samaira dengan suara parau, air mata hampir tumpah di sudut matanya.
Ia mencoba menyalakan kembali harddisk eksternal tersebut ke laptop lamanya. Lampu indikator sempat berkedip lemah sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Kerusakan tampaknya tidak hanya terjadi pada catu daya komputer, tetapi juga merambat ke perangkat keras eksternal akibat lonjakan arus listrik yang tiba-tiba.
Kecemasan langsung melumpuhkan sejenak akal sehatnya. Tenggat waktu tinggal beberapa jam lagi. Jika ia gagal menyerahkan hasil akhir, reputasinya di hadapan penerbit akan hancur lebur, dan kontrak senilai jutaan rupiah yang sangat ia butuhkan untuk membayar cicilan sewa tempat dan utang medis mendiang ibunya akan melayang begitu saja.
Ia terduduk lemas di lantai, membenamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya. Isak tangis yang tertahan akhirnya lolos juga. Beban hidup yang selama ini ia pikul seorang diri seolah menghimpit dadanya hingga terasa sulit bernapas.
"Mengapa ujian ini datang bertubi-tubi, ya Allah? Apakah aku kurang sabar?" gumamnya di tengah deru isak tangis yang pilu.
Namun, di tengah keputusasaan tersebut, hatinya tiba-tiba teringat pada sebuah nasihat lama dari almarhum ayahnya semasa hidup: “Wahai Samaira, sebesar apa pun badai masalah yang menerpamu, jangan pernah lupa bahwa di atas sana ada Zat yang memegang kendali atas setiap partikel di alam semesta ini. Kembalilah kepada-Nya.”
Samaira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia bangkit, mengambil air wudu di kamar mandi kecil di dalam kamarnya, lalu membentangkan sajadah hijau tua yang sudah mulai pudar warnanya.
❖ ❖ ❖
Suasana sepertiga malam terakhir menghadirkan keheningan yang begitu khusyuk. Di atas sajadah, Samaira melaksanakan salat tahajud dua rakaat dengan penuh kekhusyukan. Setiap gerakan sujud ia lakukan lebih lama dari biasanya, mencurahkan segala keluh kesah, ketakutan, dan keputusasaannya hanya kepada Sang Pencipta. Air mata yang mengalir di pipinya terasa hangat, menghapus sebongkok beban yang menghimpit dada sejak insiden korsleting tadi.
"Ya Rabb, Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik bagiku. Jika ini adalah ujian untuk menaikkan derajatku, berikanlah aku kekuatan dan petunjuk untuk menyelesaikannya," doa Samaira lirih seusai salam, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.