Kejernihan yang Kita Jaga

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Pertemuan Tak Sengaja

Matahari baru saja bergeser dari puncak langit siang, menyisakan bias keemasan yang memantul di atas kubah tembaga Masjid Agung Al-Ihsan. Suara azan Asar yang berkumandang barusan masih menyisakan keheningan spiritual di udara, meresap ke dalam celah-celah dedaunan pohon ketapang kencana yang berjajar rapi di pelataran. Di bawah naungan rindangnya, proyek revitalisasi taman masjid sedang berlangsung. Debu halus berterbangan setiap kali sekop menyentuh tanah kering, berpadu dengan aroma semen basah dan wangi kayu mahoni yang baru dipotong.

Di sudut barat laut taman, di dekat air mancur wudu yang sedang direnovasi, seorang wanita muda tampak sibuk membolak-balik lembaran cetak biru (blueprint) lanskap. Namanya Aisyah. Angin sore mengibaskan ujung khimarnya yang berwarna hijau lumut, membuatnya harus berulang kali menyelipkan helaian anak rambut yang terlepas ke balik kain. Sebagai arsitek lanskap yang dipercaya untuk merancang ruang hijau ramah jemaah ini, Aisyah memikul tanggung jawab besar. Ia ingin memastikan setiap tanaman yang dipilih tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menghadirkan ketenangan bagi siapa saja yang datang untuk beribadah.

"Aisyah, bagaimana dengan suplai batu koral sikat untuk jalur refleksi? Apakah pengirimannya sudah sesuai jadwal?" tanya Pak Joko, mandor lapangan proyek yang sudah paruh baya, sambil menyeka peluh di dahinya dengan handuk kecil.

"Sudah aman, Pak Joko. Katanya truk pengangkut dari galeri batu alam akan tiba sebelum jam lima sore nanti. Kita pastikan area jalur pejalan kaki sudah diratakan sebelum mereka datang," jawab Aisyah dengan suara lembut namun tegas, menunjukkan profesionalismenya di tengah lingkungan kerja yang didominasi para pekerja pria.

❖ ❖ ❖

Bagi Aisyah, keterlibatannya dalam proyek ini bukan sekadar urusan profesional atau portofolio karier semata. Ada sebuah misi personal yang ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya. Sejak kepergian sang ayah—seorang insinyur sipil yang mendedikasikan tahun-tahun terakhir hidupnya untuk membangun fasilitas umat—Aisyah bertekad untuk mendedikasikan keahliannya demi kemaslahatan masjid-masjid di kota ini. Taman Masjid Agung Al-Ihsan adalah proyek impian ayahnya yang belum sempat terwujud sebelum beliau wafat.

Target utamanya hari ini sangat spesifik: menyelesaikan pemeriksaan akhir pada instalasi sistem drainase bawah tanah dan memastikan pemilihan vegetasi peneduh tidak menghalangi jalur cahaya alami ke arah teras utama masjid. Setiap detail harus sempurna. Ia tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun yang dapat mencemari niat baik di balik pembangunan taman ini.

Di sisi lain lapangan, seorang pria bernama Farhan juga tengah melangkah memasuki area proyek. Farhan adalah seorang konsultan struktur independen yang diminta untuk mengevaluasi ketahanan fondasi dinding penahan tanah di area taman tersebut. Mengenakan kemeja flanel lengan panjang yang digulung sampai siku dan celup bahan katun gelap, Farhan berjalan mantap sambil membawa sebuah map cokelat berisi laporan teknis.

Tujuan Farhan datang ke lokasi sore ini adalah untuk memastikan bahwa struktur beton penahan tanah di dekat kolam resapan tidak mengalami pergerakan signifikan akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini. Sebagai seorang insinyur yang memegang teguh prinsip integritas, ia tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Baginya, setiap bangunan publik harus berdiri di atas fondasi yang kokoh, aman, dan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat luas.

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar proyek semakin sore semakin lengang karena para pekerja mulai bersiap untuk menunaikan salat Asar berjemaah di ruang salat sementara. Suara deru mesin molen beton perlahan mereda, digantikan oleh suara kicauan burung gereja yang bersiap kembali ke sarang mereka. Aisyah memutuskan untuk berjalan seorang diri menuju sisi timur taman, tempat di mana deretan pohon tabebuya baru saja ditanam. Ia membawa pensil penggaris dan sebuah buku catatan kecil untuk menandai titik-titik yang memerlukan pencahayaan tambahan pada malam hari.

Tanpa disadari, dari arah berlawanan, Farhan melangkah menyusuri jalan setapak beton yang sama setelah selesai memeriksa area drainase utama di dekat gerbang utara. Konsentrasi mereka sama-sama terpusat pada dokumen di tangan masing-masing. Aisyah tengah menatap lembaran sketsa tata letak lampu taman, sementara Farhan sedang mencermati grafik beban struktural pada laporan cetak di mapnya.

Langkah kaki mereka berdua berirama di atas hamparan rumput gajah mini yang empuk. Jarak di antara keduanya semakin menyusut, terhalang oleh rimbunnya semak soka jepang yang sengaja ditanam sebagai pembatas alami jalur setapak. Ketika Aisyah berbelok di tikungan rimbun pohon pule yang besar, langkahnya mendadak terhenti.

Sebuah tabrakan kecil hampir saja terjadi jika keduanya tidak sama-sama menghentikan langkah secara refleks. Dokumen di tangan Farhan nyaris melayang tersenggol ujung tas ransel Aisyah, namun dengan sigap Farhan berhasil menangkap map tersebut sebelum jatuh ke tanah.

"Astagfirullah," gumam Aisyah pelan, terkejut mendapati seseorang berdiri begitu dekat di hadapannya.

"Maafkan saya, Nampaknya saya kurang memperhatikan jalan karena terlalu fokus pada laporan ini," ujar Farhan dengan nada tenang, langsung menarik mundur langkahnya untuk memberikan ruang yang lebih luas.

❖ ❖ ❖

Pertemuan tak terduga di bawah naungan pohon pule itu langsung menciptakan ketegangan yang asing di antara keduanya. Aisyah, yang terbiasa menjaga batasan interaksi dengan rekan kerja pria, seketika merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Segera, ia menarik pandangannya ke bawah, menundukkan pandangan demi menjaga iffah dan kehormatan dirinya di hadapan seorang lelaki yang bukan mahramnya.

"Tidak apa-apa, saya juga yang tidak awas saat berjalan," balas Aisyah dengan suara tertahan namun terdengar jelas, tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya untuk menatap mata pria di depannya.

Farhan, yang menyadari situasi tersebut, seketika mengerti. Ia pun menundukkan pandangannya ke arah tanah, menghormati sikap menjaga diri yang ditunjukkan oleh wanita di hadapannya. Suasana mendadak menjadi hening, hanya menyisakan suara desau angin sore yang menerpa daun-daun ketapang di atas kepala mereka.

Lihat selengkapnya